Lifestyle / Food & Travel
Senin, 10 Oktober 2016 | 07:16 WIB
Roti gandum. (Shutterstock)

Suara.com - Tren gaya hidup sehat dan clean eating yang digandrungi oleh banyak orang dalam beberapa tahun terakhir bisa Anda jumpai dengan mudah di berbagai supermarket dan mal-mal besar. Buktinya, produk makanan sehat yang dilengkapi dengan jargon “organik”, “rendah lemak”, “tanpa gula tambahan”, hingga “tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan” masih ramai menghiasi berbagai etalase toko.

Namun hati-hati, banyak makanan berlabel 'sehat' yang kita konsumsi sehari-hari sebenarnya tidak sesehat seperti apa yang selama ini Anda yakini. Jika Anda mengulik lebih dalam mengenai informasi gizi yang tertera di label produk atau menyelidiki apa yang sebenarnya terkandung dalam makanan di balik semua label 'sehat' tersebut, Anda akan mengetahui bahwa beberapa makanan ini sebenarnya tidak sehat-sehat amat.

Berikut beberapa makanan yang diklaim sehat, tapi nyatanya tak sehat yang dihimpun oleh hellosehat.com.

1. Sereal dengan gula tambahan
Energy bar, granola bar, protein bar, dan sereal sarapan kemasan yang diklaim diperkaya oleh serat dan protein sebenarnya memiliki profil gizi yang setara dengan sebatang cokelat. Beberapa makanan “sehat” ini bahkan bisa memiliki kandungan gula berlipat ganda daripada sekantung permen.

Banyak granola bar fortifikasi yang mengandung nilai serat lebih dari tiga porsi asupan serat harian yang Anda butuhkan dengan kandungan kalori hanya 140 kcal. Energy bar pada umumnya tidak mendapatkan serat mereka dari gandum asli atau kacang-kacangan, karena kebanyakan mengambil serat dari ekstrak akar chicory, tanaman hambar yang kaya akan kandungan serat.

Serat fortifikasi yang terkandung dalam energy bar adalah serat yang tidak mudah larut. Memang membantu pencernaan, tetapi tidak memberikan pengaruh apapun untuk kesehatan jantung Anda.

Solusi: Pilih produk energy bar, granola bar, atau protein bar dengan bahan dasar kacang-kacangan atau buah-buahan. Selain itu, dapatkan asupan serat, vitamin, dan energi Anda dari makanan utuh, seperti daging dan ikan segar, sayuran, buah-buahan, kacang dan biji-bijian segar.

2. Frozen yogurt
Frozen yogurt seperti tidak pernah ada matinya dari tahun ke tahun. Apalagi, kini banyak produk fro-yo yang mengklaim mengandung agen antioksidan dan detoksifikasi dari berbagai bahan aktif alami, seperti charcoal bamboo.

Padahal, sekalipun Anda memilih rasa yang plain, kandungan gula dalam ½ cup frozen yogurt bisa mencapai 25 gram, bahkan sebelum Anda menambahkan topping favorit Anda.

Solusi: racik fro-yo versi Anda sendiri di rumah dengan plain greek yogurt (rendah lemak atau tanpa lemak) dengan topping irisan buah segar, granola, chia seeds, dan/atau madu.

3. Susu skim dan rendah lemak
Susu skim dan yang rendah lemak mengandung kalori yang lebih sedikit, tetapi susu sapi segar mengandung lebih banyak lemak jenuh dan tidak jenuh tunggal yang membantu Anda kenyang lebih lama, mendukung metabolisme, dan meningkatkan komposisi tubuh Anda. Tanpa lemak, susu skim dan susu rendah lemak juga memiliki lebih sedikit kandungan vitamin A, D, E, dan K jika dibandingkan dengan susu sapi utuh tanpa olahan.

Lebih lanjut, produsen susu skim menambahkan bubuk susu guna menyamaratakan konsistensi susu skim dengan susu sapi yang baru saja diperah. Proses penambahan bubuk susu ini melibatkan kolesterol yang teroksidasi, yang jauh lebih merusak arteri Anda dibanding kolesterol pada umumnya.

Dilansir dari Muscle and Fitness, sejumlah studi telah membuktikan bahwa susu rendah lemak dan tanpa lemak memiliki risiko lebih tinggi terhadap obesitas anak dibanding susu sapi biasa.

4. Minyak sayur
Minyak sayur seperti minyak canola, minyak jagung, minyak biji anggur, semuanya dibuat dari proses kimiawi. Produsen memanggang biji-bijian tersebut dalam panas sangat tinggi dan membuang cairan lainnya untuk mengekstrak minyak.

Pada tahapan akhir, mereka akan menambahkan bahan-bahan kimia lain untuk meningkatkan kualitas warna dan bau dari minyak tersebut. Proses berkelanjutan ini mengubah minyak sayur menjadi lemak tidak stabil yang disebut polyunsaturated fatty acid (PUFA).

Tubuh manusia tidak dirancang untuk mencerna PUFA dengan baik, karena sel tubuh terdiri dari mayoritas lemak jenuh dan tidak jenuh. Selain itu, minyak sayur juga memiliki perbandingan antara Omega-6 PUFA dengan Omega-3 yang cukup tinggi, yang bisa menyebabkan peradangan dan meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, dan diabetes.

5. Minuman energi, smoothies, dan jus dalam kemasan
Meskipun minuman energi, jus, dan smoothies dikemas dengan nutrisi sehat seperti vitamin, mineral, hingga antioksidan, tetap saja minuman “sehat” pelepas dahaga yang dijual dalam kemasan biasanya tinggi akan kandungan gula.

Proses jus mengekstrak semua serat baik dalam buah dan sayur yang bisa membantu Anda untuk merasa kenyang, dan mengandung gula dalam jumlah tinggi dalam satu kemasan kecil, bisa mencapai 50 gram per satu sajian, dan kebanyakan dari gula ini berasal dari buah-buahan. Meskipun ini adalah gula alami, tetap saja asupan gula sebanyak itu dalam satu kali konsumsi tidak baik untuk tubuh Anda.

Solusi: Jika Anda memang ingin menenggak jus botolan, periksa label komposisi dan tabel gizinya. Pastikan minuman kemasan Anda tidak mengandung lebih dari 15 gram karbohidrat per satu sajian. Idealnya, jus atau smoothies yang baik memiliki perbandingan 1 porsi buah dan sisanya adalah sayur.

6. Buah-buahan kering
Buah segar terbukti baik untuk kesehatan. Bagaimana dengan buah-buahan kering? Produsen buah-buahan kering menggunakan sulfur dioksida untuk mempertahankan kesegaran buah dan menambahkan gula untuk meningkatkan cita rasanya.

Memang buah kering masih mengandung vitamin, mineral, dan serat yang baik untuk Anda, tapi rasa manis buatan dari buah kering ini akan menipu Anda untuk ngemil semakin banyak dan sering, yang tidak baik untuk kesehatan. Jadi, buah-buahan kering, seperti kismis atau sultana, sebenarnya sama saja dengan sebungkus permen.

7. Roti gandum
Tidak semua roti gandum mengandung gandum utuh murni (whole wheat), bahkan produk yang berlaber “multi-grain” atau “seven-grain” masih bisa mengandung tepung terigu olahan. Roti “multi-grain” hanya menunjukkan bahwa roti tersebut terbuat dari banyak biji-bijian, tidak menyatakan seberapa banyak tahapan proses pengolahan yang dilalui.

Gandum olahan telah melalui begitu banyak proses pabrik, dan kandungan bakteri baik, serat, vitamin, dan mineral juga ikut terbuang, meninggalkan hanya karbohidrat sederhana yang bisa meningkatkan kadar gula darah Anda dan menaikkan berat badan. Lebih lanjut, banyak produk roti gandum yang mengandung minyak hidrogenasi, pemanis buatan, fruktosa (gula jagung), pengawet, hingga pewarna.

Solusi: Perhatikan tabel nutrisi di kemasan produk dan pastikan bahan yang paling pertama tercantum adalah “gandum utuh”(whole wheat) atau “biji utuh” (whole grain). Umumnya, bahan komposisi yang paling pertama dicantumkan memiliki porsi paling besar dalam produk tersebut.

8. Gluten-free
Jika suatu produk mengklaim gluten-free, artinya Anda tidak akan mendapatkan tekstur kenyal dan empuk yang biasa dapatkan dari roti, muffin, kue, pasta, dan banyak makanan lainnya. Untuk menyiasati hilangnya sensasi rasa dan tekstur, makanan gluten-free sering ditambahkan banyak bahan lainnya, seperti gula, lemak, dan bahan-bahan kimia lainnya.

Pada akhirnya, makanan “sehat” gluten-free Anda justru mengandung lebih banyak kalori dan gula, sementara nutrisi lainnya (seperti serat, vitamin, dan mineral) hanya tersedia dalam porsi yang jauh lebih sedikit.

Solusi: Kecuali Anda mengidap penyakit Celiac atau intoleransi gluten, tetap konsumsi makanan yang mengandung gluten, seperti  tepung 100 persen gandum utuh (whole wheat) atau tepung bernutrisi lainnya, seperti almond, quinoa, atau kacang arab.

Load More