Suara.com - Kedudukan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia memang masih dipengaruhi oleh unsur budaya. Laki-laki dianggap superior dan masih mendominasi pos-pos jabatan sebagai pemimpin.
Lihat saja dari tujuh presiden yang memimpin Indonesia, hanya Megawati Soekarno Putri, satu-satunya presiden yang mewakili kaum perempuan. Begitu juga di sektor kementerian, baru delapan dari 34 menteri dalam kabinet kerja Presiden Jokowi yang merupakan perempuan.
Padahal, kompetensi untuk menjadi pemimpin juga bisa diemban oleh kaum hawa. Penelitian membuktikan bahwa perempuan lebih berusaha untuk mengembangkan diri sepanjang karir mereka.
Perempuan juga lebih banyak mengupayakan kompetensi diri seiring pertambahan usia. Saat bekerja perempuan juga cenderung lebih menggunakan akal pikiran dan ilmu kepemimpinan yang telah mereka pelajari.
Untuk memperjuangkan kesetaraan gender termasuk dalam hal kepemimpinan, Plan International Indonesia, organisasi nonprofit yang peduli terhadap pemenuhan hak-hak anak dan kesetaraan anak perempuan membentuk komunitas bernama Youth Coalition for Girls. Komunitas yang anggotanya berusia 15-29 tahun ini dibentuk dengan latar ketidakadilan gender yang ada di Indonesia.
Salah satu inisiator Youth Coalition for Girls, Fatimah Huurin Jannah. Ia menceritakan, komunitas ini mulanya terbentuk dari program Youth Camp for Change yang diadakan Plan International pada 2016. Program ini melibatkan 30 anak remaja di Indonesia dari berbagai daerah.
"Nah, waktu itu kita diminta untuk menganalisis situasi hak anak di Indonesia untuk dilaporkan ke Plan. Ternyata kita menemukan bahwa salah satu situasi yang sudah gawat di Indonesia itu ketidaksetaraan gender," ujar perempuan berusia 19 tahun yang akrab disapa Faza ini kepada Suara.com, beberapa waktu lalu.
Hingga akhirnya, Faza dan peserta Youth Camp for Change lainnya terpikir untuk membentuk sebuah panel diskusi yang dapat memperjuangkan kesetaraan gender bagi anak perempuan. Lalu, terbentuklah komunitas Youth Coalition for Girls.
Melalui komunitas ini, Faza dan inisiator lainnya berupaya untuk memfasilitasi anak-anak muda khususnya perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan gender di daerahnya. Ia mencontohkan, di daerahnya yakni Tangerang, anak-anak perempuan masih jarang yang berpendidikan tinggi, karena dianggap sulit mendapatkan jodoh.
"Perempuan dianggap tidak tepat kalau jadi pemimpin, harusnya di dapur saja. Padahal baik perempuan maupun lelaki punya kapasitas sama menjadi pemimpin," ujar dia.
Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan komunitas Youth Coalition for Girls adalah merayakan hari anak perempuan internasional dengan memberikan kesempatan bagi puluhan anak perempuan dari berbagai daerah untuk merasakan pengalaman menjadi menteri selama sehari.
Melalui kegiatan 'Sehari Jadi Menteri' ini, para peserta mendapat kesempatan untuk memberikan rekomendasi seolah-olah mereka menyandang jabatan sebagai menteri. Melalui kegiatan ini pula, tambah Faza, sekaligus untuk menunjukkan bahwa perempuan juga mampu memimpin dan memiliki aspirasi segar untuk memperjuangkan kepentingan orang banyak.
"Tahun kemarin 11 anak muda ditempatkan di Kementerian Ketenagakerjaan, 11 lainnya di Kementerian PPPA. Mereka dijemput dengan voorijder dan merasakan fasilitas sebagai Menteri. Tapi mereka juga akan diuji untuk mengemukakan rekomendasi-rekomendasi dari permasalahan di masing-masing kementerian," tambah dia.
Selain itu, komunitas ini, tambah Faza juga rutin menyelenggarakan kegiatan yang meningkatkan kompetensi anak perempuan seperti latihan komunikasi dan advokasi. Youth Coalition for Girls juga berjejaring dengan organisasi lainnya seperti Koalisi Anak Muda untuk SDG's dan Koalisi Perempuan Berdaya untuk mengadvokasi prinsip kesetaraan gender di semua organisasi.
"Kita juga meningkatkan peran kita sebagai konselor sebaya. Jadi, ketika ada anak perempuan lainnya yang mendapatkan ketidakadilan gender bisa curhat istilahnya, ke kita. Misalnya mendapat kekerasan, dan butuh akses ke pemerintah. Itu fungsinya kami bermitra di jaringan untuk merujuk kesana," tambah dia.
Meski baru berusia seumur jagung, Faza mengatakan komunitas ini sudah memiliki 200 anggota yang tersebar di 13 provinsi. Jika kalian anak muda berusia 15-29 tahun dan ingin turut serta memperjuangkan kesetaraan gender, bisa bergabung di komunitas Youth Coalition for Girls dengan mengunjungi laman media sosial Instagram mereka di @YCG.id.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Liburan Agustus Lebih Hemat! Ada Diskon di Wisata Nako Pasir Angin Bareng BRI
-
Satgas Galapana DPR RI ke Ruteng, Kumpulkan Menteri hingga Bos BUMN untuk Tangani Korban Gempa
-
Bangunan Dapur MBG di Muara Enim Jadi Sasaran Maling, Motor dan Ponsel Raib
-
Pasar Murah HUT RI Digelar di 5 Kecamatan Palembang, Ada Diskon Belanja Rp10 Ribu
-
Kado Anniversary Sempat Bikin Mahalini Kesal, Rizky Febian Bongkar Rencana Rahasianya
-
Apakah Serum Vitamin C Boleh Dipakai Malam Hari? Ini Waktu Terbaik Agar Glowing Maksimal
-
Review Skintific 2% Salicylic Acid, Serum Ampuh Bikin Jerawat Meradang Langsung Kempes
-
73 Hotspot Terpantau di Kalsel, Kemenhut Dorong Verifikasi Dini Karhutla
-
Apresiasi Pidato Prabowo, Jubir PSI: Pertumbuhan Ekonomi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
-
Pengamat Kejaksaan: Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Anggota Tim 9