Lifestyle / Relationship
Selasa, 12 Desember 2017 | 21:00 WIB
Ilustrasi pasangan yang tengah bercinta (Shutterstock)

Suara.com - Mencapai orgasme secara teratur merupakan hal yang membahagiakan bagi banyak orang. Meski bukan sebagai tujuan seks, mencapai orgasme sama seperti bonus tambahan.

Sayangnya, ini tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Mencapai orgasme bagi orang dengan Persistant Genital Arousal Disorder (PGAD) atau gangguan gairah genital persisten, adalah mimpi buruk yang seakan tidak pernah berakhir.

Sebuah laporan mendefinisikan PGAD sebagai sensasi 'gigitan' genital yang terus-menerus, hal yang dianggap tidak diinginkan dan menyebabkan pasien setidaknya mengalami tekanan. Mereka akan mengalami orgasme meski tidak ada rangsangan seksual atau emosi.

Orang-orang dengan PGAD sering merasa malu dengan kondisi berbeda mereka. Hal ini diperburuk oleh asumsi atau diagnosis yang salah dari banyak profesional kesehatan, bahwa mereka yang menderita PGAD adalah pecandu seks atau memiliki hiperseksualitas.

Jadi apa yang sebenarnya membedakannya dari hiperseksualitas? Penting, bahwa PGAD tidak bisa terbebas dari orgasme dan mereka bisa berlanjut merasakannya selama berjam-jam, berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Dr. David Goldmeier, spesialis pengobatan seksual di Rumah Sakit St Mary di London yang mengkhususkan diri pada perempuan dengan PGAD, mengatakan bahwa kecanduan seks atau hypomania adalah masalah yang benar-benar terpisah.

"Kecanduan seksual adalah tingkat keinginan atas seks yang tinggi. Sementara PGAD adalah kelainan yang nyata. Jika Anda merasa sakit di bagian sana, sakit seperti apakah Anda pertanyakan? Jika seseorang mengatakan dia mengalami sakit GP di suatu tempat, apakah Anda akan mengatakan itu adalah gangguan nyata?" ujar Goldmeier.

Ini bukanlah kondisi yang umum. Dr. Goldmeier mengatakan, unitnya hanya menemukan satu kasus di antara 100 anak muda. Namun, penyebabnya masih belum benar-benar diketahui.

"Ada kerusakan halus pada saraf pudendal (yang membawa sensasi pada alat kelamin Anda) dan mengapa hal itu terjadi tidak diketahui secara pasti. Seringkali, kita tidak dapat menentukannya. Karena itu berasal dari daerah genital, otak menganggapnya sebagai gairah genital," ujarnya.

Baca Juga: Orgasme, Lelaki Ini Buta Mendadak

Tidak mengherankan, orang menganggapnya lucu atau merepotkan. Tapi Dr. Goldmeier mengatakan bahwa kondisi ini samgat mempengaruhi kehidupan penderita dengan berbagai cara.

"Mereka mungkin orgasme secara spontan sehingga jelas sangat menyedihkan. Ini adalah rangsangan seksual yang tidak terlarang. Tapi Anda bisa membayangkan jika Anda mengalami sakit yang buruk yang terus menerus terjadi, ini akan menjadi sangat menjengkelkan. Mereka sangat cemas, depresi dan beberapa perempuan bahkan telah melakukan bunuh diri karena kondisinya terus berlanjut," tandasnya.

Dr. Goldmeier mengungkapkan, kebanyakan dari mereka sama sekali tidak menginginkan kehidupan seks. Mereka ingin keinginan dan kehidupan seks mereka justru dimatikan. (Metro)

Load More