Suara.com - Penderita tuberkulosis (TBC) masih mendapat stigma negatif di Indonesia, yaitu dianggap sebagai penyakit kutukan yang memalukan, inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Komunitas PETA didirikan.
Kita tahu banyak pengidap TBC sering bersembunyi dan enggan menjalani pengobatan, karena malu mendapat stigma netaif tersebut. Padahal, mereka dapat menjadi sumber penularan bagi orang terdekatnya. Pun pada penderita TBC yang mendapatkan pengobatan, tapi tak teratur, berisiko mengalami resistensi sehingga mengidap TBC MDR.
Nah, mantan penderita TBC, almarhum Zaini Edi yang merupakan salah satu pendiri Komunitas PETA menyadari betul pentingnya pengobatan teratur untuk mengobati penyakit yang disebabkan kuman mycobacterium tuberkulosis ini. Usai dinyatakan sembuh, ia memutuskan untuk mendirikan organisasi pejuang tangguh yang disingkat PETA, pada 2012.
"Awalnya Pak Zaini niatnya hanya iseng. Dia terpikir kalau sudah sembuh apa yang bisa dilakukan untuk pasien, dan diputuskan bikin paguyuban kecil bersama lima orang lainnya termasuk saya," ujar Yulinda salah satu pendiri Komunitas Pejuang Tangguh pada Suara.com, Jumat (30/3/2018).
Gayung pun bersambut, niat untuk mendampingi pasien TBC MDR pun mendapat dukungan dari KNCV Tuberculosis Foundation (KNCV) yakni organisasi nirlaba internasional yang secara khusus berfokus pada pengentasan tuberkulosis (TB) di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Para pendiri Komunitas PETA ini pun mendapat pelatihan sebagai expert patient trainer. Mereka dilatih untuk memberikan dukungan psiko-sosial pada pasien TB MDR di RSUP Persahabatan baik secara individu maupun kelompok .
Sayangnya, Zaini harus mendahului rekan-rekan pendiri PETA lainnya. Ia meninggal karena terinfeksi TB HDR pada 2013 yang lebih kompleks pengobatannya dari TB MDR.
Kunjungan ke Rumah Sakit Setiap Hari
Yulinda dan keempat pendiri lainnya pun berniat untuk mengukuhkan paguyuban kecilnya sebagai organisasi. Mereka membentuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hingga akhirnya kini tersebar di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tanggerang.
Baca Juga: Alasan Perempuan Suka Lelaki Lebih Muda
"Sekarang kita ada di 4 rumah sakit besar infeksi dengan total anggota 40 orang," tambah Yulinda.
Yulinda menjelaskan, di sela-sela kesibukan anggota PETA dalam mencari nafkah, mereka memiliki tanggung jawab untuk mendampingi pasien dalam memberikan motivasi, menguatkan psikologis pasien, menjelaskan efek samping obat pada pasien dan keluarga.
"Jadi anggota kita hospital visit tiap hari mengunjungi pasien di rumah sakit, puskesmas, bahkan rumahnya untuk mengembalikan motivasi pasien yang putus obat untuk kembali menikah," ujar Yulinda.
Menurut Yulinda, pasien TB MDR menjadi prioritas PETA karena risiko penularan dengan status yang sama dan pengobatan yang cukup lama yakni 19-24 bulan. Belum lagi risiko efek samping yang diidap pasien TBC MDR mulai dari depresi hingga kelumpuhan sementara.
"Banyak anggota kami yang tertular langsung TBC MDR. Jadi kami merasakan betul bagaimana rasanya menjadi pasien TBC MDR. Mereka harus sembuh seperti kami karena TBC MDR bisa disembuhkan," ujar Yulinda.
Anggota PETA lainnya Tono Febrianto mengatakan, tertarik bergabung di PETA agar bisa membagikan pengalamannya pada pasien TBC MDR agar terus berjuang menggapai kesembuhan. Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai supir GOJEK ini berharap perjuangannya dan rekan-rekan PETA bisa membantu pemerintah mengeliminasi TBC pada 2030.
"Panggilan jiwa saja agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Yang kami khawatirkan mereka bisa menularkan. Padahal TBC MDR bisa disembuhkan, seperti kami contohnya," terangnya menutup perbincangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda