Suara.com - Setelah sukses dengan program pemugaran kampung sebelumnya, di kawasan Tangerang dengan Kampung Bekelir dan Kampung Merah Putih di Kota Tual Ambon, perusahaan cat, Pacific Paint dengan merek utama Metrolite dan Glotex, kali ini bekerja sama dengan Forum Pedagang Kanoman melakukan pengecatan kurang lebih dua ratus ruko dengan konsep beraneka ragam warna yang dinamakan Pecinan Warna Warni.
Tak hanya itu, tenda-tenda pedagang juga diganti dengan tenda warna warni agar lebih memanjakan ribuan mata pengunjung.
“Kami melihat kawasan pecinan pasar Kanoman ini sangat berpotensi menjadi salah satu daya tarik utama pengunjung yang sayang apabila tidak kita jaga, karena selain sebagai pusat ekonomi juga bagian dari sejarah bangsa Indonesia," ujar Suryanto Tjokrosantoso, Direktur Pacific Paint usai meresmikan Pecinan Warna Warni di Pecinan Pasar Kanoman, Cirebon, Kamis (3/5/2018).
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berharap dengan revitalisasi ini bisa menghidupkan kembali pasar sebagai destinasi utama wisata dan berbelanja, sehingga dapat lebih meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan yang terpenting dapat dinikmati hingga berbagai generasi.
Selain prosesi peresmian Pecinan Warna Warni yang dihadiri oleh tiga kesultanan Cirebon; Gusti Sultan Sepuh ke-14 Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, S.E dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon, Sultan Pangeran Raja Muhammad Emirudin dari Kasultanan Kanoman, dan Sultan Pangeran Raja Abdulgani Natadiningrat dari Keraton Kacirebonan, digelar pula panggung budaya yang menampilkan pertunjukan barongsai dan tarian tradisional Cirebon.
Acara yang dipadati pengunjung ini menjadi salah satu acara peresmian dan budaya terbesar di Kota Cirebon. Hal ini menjadi suatu kebanggaan mengingat Cirebon terkenal sebagai kota seni, budaya dan juga pluralisme.
Seperti yang telah diketahui bahwa hubungan keraton-keraton Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terjalin lama. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa berada di wilayah Cirebon sekitar 200 tahun sebelum Kesultanan Cirebon berdiri. Bahkan, keberadaan warga Tionghoa di Cirebon sudah ada sejak sekitar tahun 1415 M sebelum kerajaan Cirebon berdiri pada sekitar tahun 1500 M.
Hal ini mengingat riwayat putri dari Dinasti Ming, Ong Tien yang merupakan istri Sunan Gunung Jati juga diiringi dengan peristiwa monumental ketika pasukan negeri Tiongkok yang dinakhodai Laksamana Cheng Ho, Panglima Besar Angkatan Laut dari Dinasti Ming, datang ke Cirebon.
Baca Juga: Raditya Dika dan Anissa Aziza Ikhlas Berbulan Madu Di Ragunan
Pangeran Patih Raja Mochammad Qodiran dari Keraton Kanoman mengatakan bahwa kawasan pecinan yang ada di Kanoman memang tidak lepas dari sejarah perkawinan antara Sunan Gunung Jati dengan Putri Ong Tien, asal Tiongkok. Selain itu, lanjut dia, Cirebon menjadi jalur sutra perdagangan pada zaman Laksamana Cheng Ho.
"Riwayat sejarah yang ada ini sudah menjadi bagian dari etnis, yang ada di Cirebon. Leluhur kita sudah mendirikan kebhinekaan sejak dulu. Kita harus merawatnya, secara simbolis dengan Pecinan Warna-warni ini," jelas Qodiran
Dengan hadirnya destinasi Pecinan Warna Warni, tentu saja menjadi kehormatan bagi masyarakat Cirebon yang selalu bangga akan Pasar Kanoman. "Ini dikarenakan Pasar Kanoman bukan hanya bagian dari sejarah, tapi juga sudah menjadi bagian jantung dari Kota Cirebon itu sendiri," tambah Pangeran Radja Adipati Arief Natadiningrat dari Kesultanan Kasepuhan.
Dengan adanya pemugaran ini, ia berharap, masyarakat dapat lebih bangga dengan jati diri bangsa dan semakin apresiasi akan nilai sejarah dengan budaya lokal yang sudah semakin tergerus dengan modernnya zaman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Beda Sepatu Lari dan Sepatu Jalan Kaki, Jangan Sampai Keliru Memilihnya
-
Concealer untuk Mata Panda Warna Apa? Ini Tips Memilih dan 5 Rekomendasinya
-
5 Jenis Pompa Air Sesuai Kedalaman Sumur, Ketahui agar Tidak Salah Beli
-
Apakah Pompa Air Boleh Nyala Terus? Ini Cara Merawat yang Benar agar Awet
-
4 Kipas Angin Hemat Listrik yang Sejuk dan Ramah Tagihan Bulanan, Andalan saat Cuaca Panas
-
7 Jersey Original Murah Piala Dunia 2026: Mulai Rp300 Ribuan, Asli Adidas dan Nike!
-
4 Rekomendasi Sepatu Lari Lokal Cushion Empuk, Melindungi Lutut Pelari Big Size
-
3 Sunscreen di Bawah Rp20 Ribu dengan SPF Tinggi, Anti-Kantong Kering In This Economy
-
Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
-
3 Pilihan Sepatu Lari Brodo: Kualitas Jempolan, Cocok untuk Pemula hingga Profesional