Suara.com - Butet Manurung, penggagas Sokola Rimba ini namanya di dunia pendidikan begitu harum. Bagaimana tidak, perempuan kelahiran Jakarta, 46 tahun silam ini menjadi pelopor berdirinya sekolah untuk anak-anak suku-suku terasing di 16 titik pelosok Indonesia melalui Yayasan Sokola.
Padahal keberhasilan Butet Manurung mengenalkan anak-anak suku adat pada kegiatan membaca, menulis dan menghitung ini berawal dari mimpinya yang sederhana, menjauh dari tuntutan kerja di balik meja bilik kantor.
"Dulu orangtua saya selalu bilang suatu hari saya akan menikah lalu punya anak. Kalau pun bekerja saya berpikir nanti akan kerja si bilangan Sudirman, pakai heels duduk di belakang meja. Saya takut sekali," ujar Butet Manurung pada Suara.com, belum lama ini.
Ketakutan Butet Manurung pada dunia kerja yang monoton membuatnya bermimpi untuk bisa bekerja di hutan suatu hari nanti. Hal ini diwujudkannya lewat keikutsertaan Butet pada organisasi pecinta alam semasa duduk di bangku kuliah. Ia juga sering berpetualang ke gunung, arung jeram, hingga hutan-hutan di Indonesia untuk menemukan zona nyamannya.
Lulusan Antropologi, Universitas Padjajaran Bandung ini tak ingin menyesal ketika usia senja dirinya belum melakukan apapun yang menjadi mimpinya saat kecil. Semesta pun mendukung. Selepas meraih gelar sarjana, Butet Manurung mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan alam.
Berbekal pengalamannya sebagai mahasiawa pecinta alam, Butet Manurung memulai karir sebagai pemandu wisata di sebuah taman nasional. Namun ibu dari dua anak ini merasa tak puas melakoni profesi tersebut. Ia ingin memberi dampak lebih melalui ilmu yang didapatnya selama perkuliahan.
"Lalu saya lihat lowongan iklan baris di Koran. Bunyinya: dicari fasilitator pendidikan alternatif bagi suku asli Orang Rimba, Jambi. Saya merasa tergerak untuk melamar pekerjaan ini," tambah Butet Manurung lagi.
Ternyata di sanalah, Butet menemukan surga dunianya. Namun tentu saja perjuangannya tak langsung berjalan mulus. Butet Manurung harus mengalami penolakan dari suku dalam yang tak terpapar dunia luar. Butet Manurung tak menyerah, berawal dari tiga murid, lama kelamaan Ia berhasil menjadikan sekolah menjadi tren di kalangan anak muda rimba.
"Tantangan pasti ada. Tentunya bagaimana bisa mendapat kepercayaan mereka. Kita kan dianggap orang luar dan mereka jarang melihat perempuan jalan sendiri ke rimba sehingga ya penolakan itu ada," ujar Butet Manurung.
Baca Juga: Mantul, 5 Seleb Ini Tempuh Pendidikan sampai S3
Perempuan bernama asli Saur Marlina Manurung ini mengaku bahwa dirinya tidak menggunakan metode pembelajaran seperti di sekolah pada umumnya. Butet sengaja memadukan konsep bermain sambil belajar sehingga anak-anak rimba tidak merasa seperti sedang bersekolah.
"Sekolahnya juga tidak beratap seperti sekolahan lain. Jadi kita di hutan saja gitu, saya bawa buku, papan lalu ya mengenalkan mereka pada abjad, angka dan mengajarkan mereka berkomunikasi agar mereka bisa mandiri ketika berurusan dengan orang asing seperti penjahat yang mau menebang pohon di hutan, mereka bisa lawan dengan pengetahuan pasal-pasal di undang-undang," tambah dia.
Atas dasar perjuangannya meningkatkan pendidikan bagi masyarakat adat di pelosok Indonesia ini, Butet pun dihadiahi banyak penghargaan. Pada 2004 lalu, Majalah TIME Asia menyebut Butet sebagai salah satu Pahlawan Asia. Tak hanya itu Butet juga memperoleh penghargaan seperti Young Global Leader oleh forum Ekonomi Dunia, Social Entrepreneur of the Year oleh Ernst and Young, dan Ramon Magsaysay Award.
Berawal dari Hutan Rimba Jambi, kini Sokola Rimba yang didirikan Butet Manurung telah menjangkau pelosok Indonesia lainnya seperti Flores, Aceh, Yogyakarta, Halmahera, Bulukumba, Pulau Besar dan Gunung Egon, Makassar, Klaten, dan Sumba.
Pada para perempuan lainnya, Butet Manurung berpesan agar terus menghidupkan mimpi-mimpi yang di punya agar tidak menyesal ketika usia lanjut menghampiri. Yang pasti, Ia menikmati hasil dari mimpi dan kerja kerasnya yang bisa dibagikannya pada anak dan cucunya kelak.
"Sebagai perempuan jadilah diri sendiri. Jangan sampai di usia 70 tahun baru menyesal. Buat saya keren itu bisa melakukan sesuatu yang kita cintai," tandas Butet.
Itulah kisah perjuangan Butet Manurung, berawal dari Sokola Rimba hingga menjadi pahlawan Asia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Qurban Era Digital: Bagaimana Teknologi Mengubah Tradisi Idul Adha di ASEAN
-
Lebih dari Sekadar Kurban, Iduladha Juga Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Energi Ceria Khas Brasil Hadir dalam Koleksi Sandal Penuh Warna
-
Apa Arti Mimpi Kecebur Sungai atau Got? Ini Penjelasannya Menurut Primbon Jawa
-
4 Shio Diprediksi Paling Hoki Besok 31 Mei 2026, Akhir Bulan Hidup Makin Tenang
-
Tren Fashion Polkadot Comeback! Motif Retro Kembali Digandrungi Gen Z dan Ibu Muda
-
5 Rekomendasi Moisturizer untuk Jerawat Mendem, Ampuh Redakan Peradangan
-
Apakah Sunscreen Bisa Bikin Awet Muda? Ini Kata Dokter dan 5 Pilihan yang Layak Dicoba
-
3 Rekomendasi Mesin Cuci Panasonic yang Terbukti Awet dan Laris, Harga Murah!
-
Jangan Sembarangan! Ini Cara Aman Menyimpan Gas Portable yang Sudah Dibuka