Suara.com - Hari ini, anak-anak di seluruh dunia cenderung mengalami pubertas pada usia yang lebih awal dibanding anak-anak zaman dahulu. Fenomena ini telah meningkat selama dua dekade terakhir dan terjadi pada anak perempuan dan lelaki. Dalam istilah medis, anak disebut mengalami pubertas dini jika telah mengalami perubahan fisik sebelum 8 tahun pada perempuan dan sebelum 9 tahun pada anak lelaki.
Menurut penelitian, anak-anak yang mengalami pubertas dini bisa berisiko mengalami komplikasi fisik dan psikologis. Misalnya, seorang anak perempuan yang dewasa sebelum waktunya mungkin menghadapi isolasi sosial atau pelecehan seksual.
"Pubertas dini bisa meningkatkan peluang anak mengonsumsi alkohol, merokok, menggunakan narkoba, dan penyimpangan seksual," ujar Frank M, perwakilan Biro Pusat Kedokteran Rumah Sakit Anak Cincinnati.
Namun, orangtua tidak perlu panik, karena kebanyakan anak yang mengalami pubertas dini tidak menghadapi komplikasi serius. Tetapi para ilmuwan terus mencari tahu faktor-faktor apa saja yang bisa memicu pubertas dini untuk meningkatkan upaya pencegahannya.
Salah satunya studi terkini yang dipublikasikan dalam jurnal Human Reproduction yang menunjukkan kaitan paparan bahan kimia dalam peralatan rumah tangga dan produk kecantikan dengan kemungkinan pubertas dini.
"Kita tahu bahwa beberapa bahan kimia dapat masuk ke tubuh dengan melewati kulit atau tidak sengaja menghirupnya. Kita perlu tahu bagaimana bahan kimia ini bisa memengaruhi sistem hormonal anak-anak," ujar peneliti utama Kim Harley, seorang profesor di Universitas Berkeley di California.
Untuk mendapatkan temuan, peneliti memeriksa konsentrasi berbagai bahan kimia dalam sampel urin ibu selama kehamilan, kemudian melanjutkan pengambilan sampel pada anak-anak mereka di usia sembilan tahun.
Temuan mengungkapkan hubungan antara pubertas dini pada anak perempuan dengan konsentrasi tinggi diethyl phthalate, triclosan, dan paraben dalam sampel urin. Zat kimia ini biasa ditemukan dalam produk kosmetik wajah, pewangi, sabun, detergen, semprotan aerosol, dan lainnya. Sayangnya, untuk anak lelaki, tidak ditemukan hubungan antara bahan kimia ini dengan risiko pubertas dini.
"Zat kimia dalam kosmetik di atas dapat mengikat reseptor hormon, seperti reseptor estrogen, dan memengaruhi perubahan dalam tubuh kita," kata Harley Inverse.
Baca Juga: Sampai November 2018, Polres Jakbar Bekuk 1.414 Orang, Beberapanya Artis
Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan karena mungkin ada faktor lainnya yang juga berperan dalam memicu pubertas dini pada anak. Tetapi jika Anda khawatir, maka cobalah beralih ke produk yang lebih organik selama kehamilan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Heboh Prajurit TNI Pukul Warga di Rangko hingga Babak Belur, Dandim Angkat Bicara
-
Sering Nyeri Saat Naik Tangga? Kenali Penyebabnya Sebelum Lutut Makin Sulit Diajak Bergerak
-
Cara Kerja Teknologi AI uMI Panvivo PET/CT, Bisa Bantu Deteksi Lesi Kanker Berukuran Sangat Kecil
-
Belanja Elektronik Makin Mudah via Online, Ini Alasan Konsumen Masih Datang ke Toko
-
Makin Dekat Bela Timnas Indonesia, Statistik Terbaru Laurin Ulrich Nyaris Dekati Lionel Messi
-
Terjaring di Demo 27 Agustus, 29 Pelajar Jakarta Dikirim Ikut Pembekalan Bela Negara, Ada dari SD
-
BAIC T1 Unjuk Gigi di GIIAS Bandung 2026
-
PHE Selesaikan Survei Seismik Offshore 2D SE Java Frontier Area Laut Selatan Jawa di Samudera Hindia
-
Muak Kondisi Pemerintahan dan Pembangunan, Warga Kabupaten Bandung Barat Ngadu ke Jakarta
-
Program Tak Goyah Dihantam Kritik: Benarkah Suara Publik Tak Mengusik MBG?