Suara.com - Game online dengan konten kekerasan PUBG menuai kontra di Indonesia. Bahkan, berbagai pihak termasuk MUI sedang menggodok fatwa atas permainan yang memicu kecanduan ini.
Ya, tak cuma orang dewasa, PUBG alias Player Unknown's Battle Ground juga dimainkan anak-anak. Bahkan tak sedikit turnamen yang diselenggarakan bagi para maniak PUBG.
Sebenarnya, sang kreator game ini tengah memperkenalkan fitur baru di game, di mana pengguna yang telah bermain selama enam jam akan mendapat pemberitahuan untuk berhenti bermain game. Akses game bisa dicoba kembali 24 jam kemudian.
Namun bagi mereka yang sudah cenderung kecanduan, fitur seperti ini amat menakuti mereka. Ya, jika sudah kecanduan, orang cenderung akan bermain game tersebut dalam waktu tak terbatas. Hal inilah yang dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas hidup lainnya sehingga beberapa negara pun sudah angkat suara untuk melarang permainan ini.
Dilansir dari laman TimesofIndia, ada beberapa kriteria yang menunjukkan bahwa seseorang telah kecanduan game online. Ini dia di antaranya:
1. Terjebak dalam posisi yang sama dalam waktu lama
2. Merasa lebih nyaman di dunia virtual ketimbang dunia nyata
3. Menghabiskan uang untuk bermain game dan memenuhi kebutuhannya
4. Menjadi kesal ketika tidak bisa memainkan permainan, bahkan sering merujuk pada tanda-tanda depresi
5. Berbohong tentang seberapa sering Anda bermain game.
6. Terus memikirkan permainan saat jauh dari layar ponsel.
Jika Anda memiliki satu atau lebih dari kriteria di atas, maka Anda sudah termasuk kecanduan. Beberapa orang bisa ketagihan selama 8-10 jam dan tidak kecanduan, sementara untuk beberapa orang, bahkan bermain selama satu jam dapat memiliki efek buruk.
Nah, umumnya, durasi waktu yang dianggap cukup aman untuk bermain game adalah 1-2 jam setiap hari. Selama kebiasaan bermain game tidak mengganggu waktu tidur dan rutinitas lainnya, maka itu tergolong aman untuk Anda.
Ada perbedaan antara kehidupan virtual dan dunia nyata. Bagi pecandu, mungkin sulit memisahkan keduanya. Penting bagi Anda untuk tidak membiarkan kebiasaan bermain game mengganggu kehidupan pribadi.
Baca Juga: KPAI : Konten Pornografi Sudah Masuk Ke Game Online yang Dimainkan Anak
Plus, di dunia game seperti PUBG, banyak hal bisa menjadi kompetitif dan tidak sehat sehingga membuatnya lebih berbahaya daripada kecanduan lainnya. Pasalnya, hal ini dapat memengaruhi keterampilan Anda dalam mengambil keputusan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
BRI Dukung Kebijakan Dana SAL demi Perkuat Intermediasi Perbankan
-
Transformasi Digital Kampus, BTN & Undip Resmi Luncurkan KTM Co-Branding Bagi 17.000 Mahasiswa Baru
-
Ratusan Ribu USD Disita dari Bandung dan Tangerang Terkait Kasus Suap Pajak Banjarmasin
-
Perbedaan Eye Serum dan Eye Cream, Mana yang Lebih Bagus?
-
SMGR Hidupkan Lagi Semen Kujang, Bidik Kuasai Pasar Jawa Barat
-
Pemerintah Buka Peluang Perpanjang Penempatan Dana SAL, BRI Sambut Positif
-
Polrestabes Bandung Sita 176.970 Butir Obat Keras Ilegal, 68 Tersangka Ditangkap
-
Likuiditas Menguat, BRI Perluas Penyaluran Kredit Berkualitas ke Sektor Produktif
-
Gugat Praperadilan, Tim Hukum Febrie Adriansyah Soroti Cacat Prosedur dan Dobel Penetapan Tersangka
-
Bedah Plastik Thailand Kian Diminati, Ini Alasan Standar Internasional Jadi Magnet Pasien Indonesia