Suara.com - Permainan claw machine atau mesin capit merupakan salah satu permainan yang populer di arena bermain di Indonesia.
Bukan cuma Indonesia saja, claw machine diketahui punya banyak penggemar di negara seperti Jepang, China, dan Taiwan.
Wajar, hadiah claw machine saat ini bukan hanya boneka saja. Mulai dari action figures hingga makanan, ada berbagai macam hadiah yang bisa diperoleh dari claw machine.
Meski begitu, sebuah claw machine yang diketahui berada di daerah China baru-baru ini menimbulkan kontroversi seperti dilaporkan World of Buzz.
Lewat unggahan akun @BiologistDan di Twitter, tampak jika claw machine itu menggunakan anak anjing hidup sebagai hadiah.
Dalam video, dapat dilihat jika para anak anjing tersebut saling berkerumun di kotak sempit claw machine.
Anak anjing itu juga tampak dimasukkan ke dalam ember kecil untuk memudahkan pemain mengambilnya.
Yang miris, terdengar pula jika video itu diedit dengan musik ceria seolah-olah hendak menegaskan bahwa permainan claw machine berhadiah anak anjing itu adalah sesuatu yang imut.
Hal ini pun tentunya mengundang kemarahan warganet dari seluruh dunia.
Baca Juga: Seekor Anjing Selamatkan Bayi yang Dikubur Hidup-hidup oleh Ibunya
"Ini sangat kejam! Bagaimana jika mesin itu mengenai mata mereka???"
"Ini mengerikan. Anjing-anjing malang itu pasti ketakutan."
"Aku benar-benar berharap ini palsu."
Tak cuma warganet, organisasi pecinta binatang PETA juga diketahui sudah angkat bicara.
"Ini 2019 - bagaimana bisa ini terjadi? Anak anjing hidup digunakan sebagai hadiah claw machine di arcade. Binatang tidak seharusnya dijadikan mainan atau hadiah, mereka individu yang pantas dihargai," tulis PETA.
Tega sekali ya wahana mesin capit anak anjing ini.
Berita Terkait
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Personel TNI dari Tamtama hingga Perwira Kini Bisa Ikut Pendidikan Militer di China
-
Pengantin Pesanan: Saat Pernikahan Jadi Modus Perdagangan Orang
-
Airlangga Bantah Tudingan Indonesia Jadi Jalur Transshipment Barang China ke AS
-
Sangkar Emas dan Romansa Toxic: Membedah Era Revolusioner dalam Drama Blazing Elegance
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung