Suara.com - Film Ini Angkat Kisah Anak Lahir dan Hidup di Penjara, Ulurkan Tanganmu
“Every child has the right to live in the free world, safe, well being, and happy”. Begitu title awal pembukaan teaser film “Invisible Hopes”. Invisible Hopes adalah sebuah film dokumenter yang mengungkap kondisi memprihatinkan para anak-anak yang lahir dari ibu narapidana yang terpaksa hidup dan dibesarkan dibalik jeruji penjara di Indonesia.
Acara screening dan diskusi dengan tajuk “Invisible Hopes for Unsighted Person” dilakukan dalam rangka memperingati hari anak sedunia pada pada 20 November.
Pemutaran teaser film Invisible Hopes yang digelar pada Sabtu (23/11/2019) dihadiri oleh sekitar seratus orang
penonton umum dan disabilitas netra.
Sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa banyak anak yang lahir dari seorang ibu narapidana dan terpaksa hidup dibalik jeruji penjara di Indonesia. Sebagian besar keluarga para narapidana hamil ini tidak peduli atau tidak sanggup untuk membantu memenuhi biaya hidup mereka dalam penjara. Berlatar belakang empati tersebut Tiar Simorangkir, sutradara dan sekaligus produser film Invisible Hopes tergugah untuk membuat film ini.
"Mereka harus membiayai sendiri biaya hidup sehari-hari dan biaya melahirkan serta membesarkan anak dalam penjara. Mereka mengalami penderitaan secara psikologis, sosial dan phisik”, ujar Tiar Simorangkir, sutradara dan sekaligus produser film Invisible Hopes dalam siaran pers yang dikirimkan pada Suara.com.
Anak-anak yang terpaksa lahir dan dibesarkan dibalik jeruji penjara menjadi korban terselubung. Mereka harus hidup di dalam sel dan diperlakukan persis seperti narapidana, hidup terkekang dan hilang kebebasannya sebagai seorang anak. Pergaulan mereka sehari-hari adalah para pelaku tindak pidana.
“Oleh karena itu kami dari Lam Horas Production merasa sangat penting untuk membuat sebuah film tentang permasalahan tersebut. Melalui film ini diharapkan dapat mendorong sebuah diskusi baru, mengajak penonton untuk
memberikan harapan baru bagi anak-anak yang terpaksa hidup dibalik jeruji penjara”, lanjut Tiar.
Baca Juga: Studi: Tinggal di Pinggir Jalan Bikin Pertumbuhan Paru-Paru Anak Terhambat
Lam Horas Production adalah sebuah komunitas filmmaker yang membuat film secara kolaborasi untuk tujuan kemanusiaan. Mereka membuat film supaya dapat menyuarakan suara orang-orang yang haknya teropresi terutama kaum perempuan, anak-anak dan disabilitas.
Buat Tiar pengalaman shooting dan bertemu langsung dengan kurang lebih 40 orang narapidana hamil dan 31 anak selama shooting enam bulan dalam penjara sangat “melelahkan” sekaligus memacu semangat untuk meneruskan membuat film tersebut.
Sangat melelahkan karena setiap hari melihat pergumulan para narapidana hamil, melihat anak-anak yang harus hidup bersama para narapidana dan hilang kebebasannya sementara teman-teman mereka diluar sana hidup bebas dan bertumbuh kembang dengan layak.
“Ketika pertama kali saya mengetahui tentang keberadaan anak-anak yang terpaksa lahir dan dibesarkan dalam penjara saya sangat sedih dan terkejut karena tidak menyangka ada anak-anak seperti mereka.Bagi saya yang menjalani masa kanak-kanak yang bebas dan bahagia, meskipun dalam keluarga miskin, merasa
tidak adil jika anak-anak tidak berdosa itu menjadi korban terselubung dalam penjara” demikian ungkap Tiar.
Sayangnya proses penyelesaian film ini masih tersendat karena kekurangan biaya. Lam Horas Production sudah melakukan shooting selama enam bulan di empat penjara di Indonesia. Saat ini sedang melakukan pencarian dana untuk menyelesaikan proses paska produksi. Salah satu usaha pencarian funding ini dilakukan melalui crowdfunding, dimana masyarakat umum, baik personal maupun lembaga atau perusahaan, dapat turut membantu dan sebagai rewards nama mereka akan dicantumkan di credit title filmnya.
Konfirmasi dan informasi lebih detail dapat dilakukan melalui telp atau whatsapp 082122791242 atau akun
sosial media Facebook dan Instagram @Lam Horas Production.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
Terkini
-
Dibongkar Tasya Farasya, Produk Rp100 Ribuan Ini Mirip Foundation Estee Lauder
-
5 Sepatu Puma Tanpa Tali untuk Jalan Kaki, Nyaman dan Stylish Mulai Rp600 Ribuan
-
7 Fakta Penipuan Umrah Hanania Travel: Rugikan 128 Orang Senilai Rp12 Miliar
-
Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
-
6 Cara Memilih Shade Cushion agar Hasil Tidak Abu-abu, Makeup Jadi Fresh dan Bebas Kusam
-
3 Cushion Terlaris di Shopee dengan Rating Nyaris Sempurna, Bikin Wajah Flawless Seharian
-
Kronologi Kasus Penipuan Umrah Hanania Travel, Berapa Total Kerugiannya?
-
5 Sunscreen yang Bagus untuk Remaja, Formula Ringan dan Cepat Meresap
-
5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
-
Dari Sunset hingga Pertunjukan Musikal, Ini 5 Cara Seru Menghabiskan Libur Panjang di Jakarta