Suara.com - Saat ini, kerusakan lingkungan yang semakin parah membuat banyak orang mulai beralih pada gaya hidup yang berkelanjutan. Salah satunya adalah dengan mengurangi penggunaan barang-barang yang bisa menghasilkan polusi dan limbah dari produk sekali pakai, seperti sedotan plastik, botol air plastik hingga cangkir kopi sekali minum.
Tapi pernahkah terpikir oleh Anda, jika rutinitas kecantikan yang setiap harinya Anda lakukan juga bisa menyumbang polusi dan limbah yang sama merusaknya seperti sedotan plastik? Lihat saja bagaimana berbagai produk kecantikan dikemas dalam plastik yang kemungkinan besar akan berakhir di tempat pembuangan sampah.
Nah, di tahun baru ini, saatnya membuat komitmen untuk membantu lebih banyak pihak mengurangi polusi dan limbah dari produk sekali pakai, dengan membuat rutinitas kecantikan yang berkelanjutan. Bagaimana caranya? Berikut daftarnya yang dilansir dari The Independent.
1. Gunakan kapas atau tisu wajah yang biodegradable
Setelah seharian beraktivitas, kapas dan tisu wajah jadi andalan untuk menghapus riasan dan membersihkan wajah. Meski ini sangat efisien, tapi tahukah Anda jika kerusakan lingkungan yang ditimbulkan tisu wajah ternyata sangat besar?
Menurut kelompok riset Mintel, 47 persen orang Inggris secara teratur menggunakan tisu wajah, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa terurai dari tempat pembuangan sampah karena komposisi bahan yang hampir tidak dapat dihancurkan seperti poliester, polipropilena, kapas, pulp kayu, atau serat rayon. Sebuah survei di Inggris juga mengungkap jika tisu adalah penyebab penyumbatan paling besar di selokan atau sekitar 93 persen.
Melihat kondisi tersebut, ada beberapa alternatif yang tidak terlalu merusak lingkungan. Jika Anda tidak sanggup berpisah dengan tisu wajah, atau membutuhkan solusi cepat untuk situasi darurat, sejumlah merek kini menawarkan alternatif tisu yang dapat terbiodegradasi dan dapat digunakan kembali. Atau, gunakan bantalan penghapus makeup yang dapat digunakan kembali dan dicuci.
Selain tisu wajah, kapas juga bisa menyebabkan bencana. Selain tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat didegradasi, dibutuhkan satu ton air untuk menghasilkan setiap lapisan kapas sekali pakai. Tumbuhan penghasil kapas (kecuali yang terbuat dari kapas organik) juga ditanam dengan pestisida yang merusak lingkungan sekitar.
Solusinya adalah berinvestasi dalam penghapus makeup yang dapat digunakan kembali yang terbuat dari kapas lembut, kapas organik, atau bantalan serat mikro berkualitas tinggi. Saat ini juga tersedia penghapus makeup dua sisi yang hanya membutuhkan air, dapat digunakan kembali hingga 200 siklus pencucian dan menggantikan kebutuhan 500 tisu wajah.
Baca Juga: Dari BTS hingga BLACKPINK, 5 Tren Kecantikan Kpop Terbaik Tahun 2019
2. Tukar aerosol dengan deodoran stick alami
Sebagian besar dari kita menggunakan deodoran setiap hari yang berbahan dasar aerosol dan berkemasan roll-on. Dilihat dari kemasannya, produk ini juga dapat merusak lingkungan.
Biasanya, deodoran roll-on dikemas dalam dua lapisan plastik, yang berarti sangat sulit untuk didaur ulang. Mengingat plastik membutuhkan waktu hingga 450 tahun lamanya untuk terurai dan jutaan orang menggunakan deodoran roll-on setiap hari, maka kita bisa membayangkan berapa jumlah plastik yang hanya berasal dari deodoran roll-on saja.
Meskipun berita baiknya adalah aerosol dapat didaur ulang, gas terkompresi yang digunakan di dalamnya memiliki dampak berbahaya pada emisi CO2.
Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh produsen kecantikan Unilever, jika satu juta orang mengganti aerosol reguler mereka untuk aerosol yang lebih baru dan terkompresi, maka 696 ton CO2 dapat dihemat, yang setara dengan alumunium yang bisa menghasilkan hingga 20 ribu sepeda.
Jadi, apa yang seharusnya Anda gunakan? Deodoran alami yang dibuat dengan sedikit atau tanpa kemasan. Ini adalah alternatif yang bagus karena produk ini selain bisa membantu menjaga bau, juga memiliki dampak minimal pada dunia di sekitar kita. Formula bebas aluminium ini akan baik untuk tubuh Anda, serta terhadap lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali