Menjadi perawat sekaligus supir ambulans membutuhkan kemampuan multitasking yang luar biasa. Ika mengaku, tiap kali berangkat dinas, ia harus berkonsentrasi pada dua hal.
Yang pertama adalah bagaimana keadaan pasien di belakang. Mengendarai ambulans memiliki standar prosedur tersendiri, terutama soal kecepatan, kurang lebih 40-60 km/jam.
"Jalanan Indonesia itu kan bolong-bolong, pasti pasien tidak nyaman. Kalau dalam prinsip saya, saya biasakan diri kita jika menjadi pasien, jadi kembalikan lagi ke diri kita sendiri," kata Ika.
Kemudian yang kedua adalah konsentrasi mengendalikan mobil. Sementara ia mengenakan APD lengkap yang terkadang terasa sangat panas meski sudah memasang AC dengan suhu terendah, tetap saja ia mengalami susah bernapas karena masker berlapis-lapis.
"Tapi tetap harus kita nikmatin. Biasanya bawa pasien positif covid-19, nah dari situ kita harus mengendarai kendaraan pelan, alon alon sing penting kelakon (pelan-pelan asal sampai)," sambungnya lagi.
Tak jarang pula ia terimbas macet jalanan Jakarta, meski saat ini Jakarta tengah diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Yang membuatnya sedih, terkadang ada banyak kendaraan yang tak mau minggir untuk memberinya lewat.
Satu kendala lagi yang dihadapi oleh Ika adalah kesulitan mengendalikan mobil ambulans yang berbodi besar dan tidak dilengkapi power steering.
Dalam 12 jam kerja sejak pertama kali dinas, sudah hampir lima pasien yang diantarnya. Terkadang membutuhkan waktu seharian dengan jarak yang panjang dan jauh dan melelahkan.
SOP mengatakan bahwa satu kali pasien satu kali dekontaminasi, yang berarti setelah Ika dan partnernya selesai mengantar satu pasien, baik mobil maupun yang naik ambulans harus disterilkan.
Baca Juga: Terinfeksi Virus Corona, Perawat Kentucky: Badan Sakit Seperti Patah Tulang
"Kalau dalam sehari ada dua pasien rujukan, berarti dua kali kita mandi juga, habis itu sampai rumah masih mandi lagi. Pulang-pulang sakit kepala kebanyakan keramas, hahaha.." kelakarnya.
Di dalam timnya, hanya ia satu-satunya perempuan yang bisa menyetir. Ada rasa senang dirasakan oleh Ika, karena menambah pengalaman bagaimana rasanya bekerja di pekerjaan yang umumnya banyak lelaki ini.
Tak jarang Ika mendapatkan ekspresi kaget dan perkataan aneh tentang keputusannya menjadi relawan. Hal tersebut sempat membuat Ika sedih dan minder.
"Orang kan mesti kaget, eh ternyata supirnya perempuan. 'Ih, kamu lho, perempuan. Kok mau sih nyetir ambulans' Ya ampun, kok kayak gini sih, niatku kan ingin melayani," jelas Ika.
Pandemi kelar, ingin peluk mama
Ibu bagi Ika adalah support system terbesarnya. Dukungannya sangat kuat, membuat ia semakin semangat bekerja.
"Tiap pagi Mama selalu telepon, selalu absen telepon saya. Kalau kita kerja ini didukung, diridhoi, saya yakin semua pekerjaan dipermudah." katanya.
Oleh karena itu, begitu pandemi virus corona ini selesai, hal pertama yang ingin ia lakukan adalah pulang ke rumah dan memeluk sang ibu.
"Kasih kabar ke Mama. Ma, aku pulang dengan sehat, nggak kurang satu apapun. Kasih selamat sama Mama, peluk Mama. Berterima kasih karena Mama sudah berdoa setiap hari buat kita agar kita terlindungi," katanya.
Setelah itu ia ingin berkumpul kembali bersama teman-teman, kembali menghirup udara bebas tanpa masker. Dan tentu saja, ingin wisuda bersama teman-teman di bulan September nanti, serta melanjutkan studi profesinya sebagai perawat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Chelsea, AC Milan, Aston Villa Tur Pramusim ke Indonesia, Erick Thohir Angkat Topi
-
Review Buku Ramadan Rain: Kisah Hangat tentang Doa, Syukur, dan Cinta Keluarga di Balik Hujan
-
Kebakaran Hebat Landa Gedung Bapenda DKI Jakarta
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Rekor Buruk Timnas Indonesia di Piala AFF Semakin Panjang, Pemain Naturalisasi Tak Berkutik
-
100 Petani Sidomulyo Muba Serahkan Diri, Bela 4 Warga yang Dituduh Mencuri di Kebun Sendiri
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dikembangkan ke Atas, Bawah, dan Samping
-
Dari Batam Menuju Timnas Indonesia, Garudayaksa FC Buka Kesempatan bagi Talenta Muda
-
Tak Berdiri Sendiri, Pengamat Unas Endus Ada Sosok Berpengaruh di Kasus Eks Jampidsus