Suara.com - Di masa pandemi Covid-19, ketahanan pangan jadi hal penting yang perlu diperhatikan untuk memastikan masyarakat mendapat kecukupan nutrisi. Khususnya di 1000 hari pertama kehidupan, pemberian pangan bukan saja asal kenyang, tapi harus mengandung gizi kompleks karena berpengaruh pada perkembangan otak dan fisik anak.
Kegagalan pemberian nutrisi 1000 hari pertama kehidupan, bisa berdampak pada anak mengalami stunting atau gagal tumbuh, baik secara fisik maupun kemampuan berpikir.
"Pangan yang rawan adalah di 1000 hari pertama kehidupan, ini teori solid. Karena berhubungan dengan pembentukan otak manusia, gizi jangan sampai buruk, jangan asal kenyang. Jangan main-main dengan 1000 hari pertama, karena anak Anda konsekuensinya," ujar Prof. Dr. Ir. Bustanul Arifin, MS., Guru Besar Universitas Lampung & Tim Pakar IRN dalam acara Webinar Indofood, Rabu (21/10/2020).
Nah, dalam hal pemberian nutrisi ini, diversifikasi atau keanekaragaman sumber pangan juga diperlukan. Sumber karbohidrat misalnya, tidak melulu harus dari nasi, sehingga masyarakat disarankan jangan terlalu bergantung pada beras.
"Karbohidrat jangan yang terlalu banyak beras, cari yang kompleks, rendah indeks glikemik, seperti ubi jalar, ubi kayu, kentang sedang tren, kalau bisa dari tanah lokal," jelasnya.
Hal ini juga sejalan program diversifikasi Kementerian Pertanian yang berusaha membuat sumber makanan utama jadi bervariasi, di mana sumber karbohidrat bisa berasal dari sumber daya lokal yang dihasilkan di daerah tersebut.
Sebut saja Aceh sebagai penghasil singkong, ini bisa untuk sumber karbohidrat, Riau penghasil sagu, Lampung mengandalkan singkong, Jawa Tengah dengan Jagung, dan seterusnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan prediksi, di saat Indonesia mampu memproduksi 31 juta ton beras di 2020, jumlah konsumsi beras masih sangat tinggi. Ini artinya, masih banyak masyarakat yang mengandalkan beras sebagai sumber makanan pokok atau utama.
"Yang lebih menarik itu, konsumsi naik lebih banyak dibanding produksi, kita masih banyak makan beras. Justru tantangan di sini," tutup Prof. Bustanul.
Baca Juga: 5 Mitos Asupan Nutrisi, Salah Satunya tentang Makanan Manis Bikin Diabetes
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
-
Polri Tetapkan Febrie Adriansyah dan DR Tersangka Kasus Dugaan Korupsi serta TPPU
-
Jampdisus Febrie Adriansyah Akhirnya Mundur
Terkini
-
Berapa Lama Waktu MPLS? Panduan Durasi, Jadwal, dan Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah
-
Perbedaan Loose Powder vs Setting Powder, Kapan Harus Pakai Keduanya?
-
7 Sepatu Running Lokal Terbaik untuk Lari Jarak Jauh, Lengkap dengan Harganya
-
6 Zodiak dengan Horoskop Terbaik 13 Juli 2026: Hari Penuh Hoki untuk Capricorn hingga Gemini
-
Promo Superindo Terbaru Periode 1316 Juli 2026: Minyak, Ikan hingga Daging Banting Harga
-
5 Cushion Lokal Terbaik untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat yang Sensitif
-
Modal Kecil, Untung Maksimal: 5 Ide Bisnis Kuliner Kekinian yang Lagi Viral!
-
Memilih Pembalut yang Lebih Ramah Lingkungan, Ini yang Perlu Diketahui Perempuan
-
4 Cara Menata Kamar Tidur Biar Hoki Sesuai Feng Shui, Lengkap dengan Rekomendasi Produk dari Azko
-
Foundation Apa yang Bisa Menutupi Flek Hitam? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Makeup Flawless