Lifestyle / Male
Senin, 12 Januari 2026 | 11:34 WIB
Timothy Ronald Kupas Cara Raditya Dika Mengelola Investasi demi Kebebasan Finansial (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Raditya Dika berbagi pandangan mengenai perencanaan keuangan dan investasi dalam siniar bersama Timothy Ronald pada Kamis (08/01).
  • Kesadaran finansial Radit muncul di usia 21 tahun karena profesi seniman tidak menjamin pendapatan stabil.
  • Strategi investasi Radit mencakup kombinasi berbagai metode serta fokus utama meningkatkan pendapatan dari banyak sumber.

Suara.com - Raditya Dika kembali mencuri perhatian publik, kali ini bukan lewat karya komedi atau film, melainkan lewat cara pandangnya soal uang dan masa depan. 

Dalam siniar bersama triliuner muda dan edukator keuangan Timothy Ronald, Kamis (08/01), Radit, sapaan akrab Raditya Dika secara terbuka membagikan bagaimana ia menyiapkan kebebasan finansial bahkan sejak masih berstatus mahasiswa.

Timothy Ronald memang dikenal luas sebagai figur yang aktif mengedukasi publik soal keuangan dan investasi. Namun dalam perbincangan ini, publik dibuat terkejut karena Raditya Dika ternyata sudah jauh lebih dulu memahami pentingnya perencanaan finansial jangka panjang. 

Ayah dua anak tersebut mengungkapkan bahwa kesadaran itu muncul ketika dirinya masih berusia 21 tahun, bahkan sebelum merilis buku pertamanya.

“Kalau gue nggak invest gue rugi. Jadi pegangannya itu dulu. Berarti gue harus belajar investasi. Dari situ pelan-pelan investasi buat apa. Akhirnya ketemu, untuk bisa mendapatkan kebebasan di masa tua nanti, harus punya dana pensiun,” ujarnya dalam siniar tersebut.

Dorongan Radit untuk serius mengelola uang ternyata berangkat dari ketakutannya akan masa depan seorang seniman. Ia menyadari bahwa profesi kreatif tidak selalu menjanjikan pendapatan yang stabil dan pasti. 

Untuk itulah, sejak muda ia sudah menanamkan disiplin untuk belajar bagaimana uang bekerja, agar kelak tidak terjebak dalam ketidakpastian.

Meski tidak membeberkan secara rinci berapa besar dana pensiun yang sudah ia kumpulkan, Radit memastikan bahwa ia memilih kelas aset dengan risiko tinggi demi potensi pertumbuhan jangka panjang. 

Dana pensiun itu, kata dia, masih terus dipersiapkan hingga saat ini seiring dengan perjalanan karier dan investasinya. Percakapan dengan Timothy Ronald pun masuk lebih dalam ke soal strategi. 

Baca Juga: Bahlil: Realisasi Investasi Sektor ESDM Investasi Turun, PNBP Gagal Capai Target

Timothy sempat menggali pendekatan Radit dalam berinvestasi. “Thought process-nya itu seperti apa? Apakah bang Radit penganut John Bogel dengan pure indexing? Atau stock picking sedikit-sedikit, apa sih metodologinya,” tanya Timothy.

Radit menjawab dengan jujur bahwa ia tidak terpaku pada satu aliran saja. “Dari jaman gue muda sampe sekarang suka coba kombinasi sih. Ada yang coba top value, ada juga yang reksa dana indeks, gue nyampur sih sebenernya. Full seratus persen equity Indonesia. Nah, beberapa tahun belakangan gue diversifikasi ke luar (negeri),” jawabnya.

Selain soal investasi, Radit juga membagikan pandangannya tentang bagaimana seseorang bisa meningkatkan savings rate dan keluar dari jebakan hedonic treadmill, pola hidup hedonis yang terus berulang. 

Ia menekankan bahwa pekerjaan adalah sumber utama kekayaan, sementara investasi berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan keuangan.

“Makanya waktu gue paling banyak meningkatkan penghasilan, biar investment rate gue bisa tinggi. Yang paling utama memperbanyak revenue stream. Jadi gimana caranya uang yang masuk itu dari berbagai macam hal yang bisa gue lakukan,” katanya.

Bagi Radit, kunci kebebasan finansial bukan hanya soal pintar menaruh uang, tetapi juga soal membangun kebiasaan produktif. Ia menyarankan anak muda untuk membiasakan diri bekerja, menciptakan penghasilan, lalu mengelolanya dengan disiplin. 

Load More