Suara.com - Industri fesyen menjadi salah satu kontributor utama dalam masalah lingkungan, mulai dari produksi bahan baku hingga sampah dari produk jadi. Namun belakangan, pergerakan kampanye isu lingkungan atau sustainability pada industri tekstil dan pakaian kini bergerak ke arah yang lebih baik. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya desainer, perusahaan, dan brand besar terus menggaungkan konsep sustainable fashion.
Berdasarkan laporan South East Asia Fashion Sustainability 2021, kawasan Asia Tenggara memiliki potensi yang besar untuk memimpin perubahan masa depan industri fashion yang lebih memperhatikan aspek lingkungan serta sosial.
Di Indonesia sendiri, kesadaran publik akan sustainable fashion kian bertumbuh, di mana banyak generasi muda yang semakin peduli akan pentingnya menjaga lingkungan dan berusaha melakukan green buying.
SukkhaCitta, sebuah wirausaha sosial yang bergerak di industri fashion berfokus memerhatikan kelangsungan lingkungan dan pemberdayaan wanita, menggelar pameran KAPAS pada 15 April hingga 15 Mei 2022 di pusat perbelanjaan Ashta District 8, Jakarta.
Acara ini bertujuan membangun kesadaran masyarakat akan isu lingkungan di industri fashion. Pada kesempatan ini, SukkhaCitta menceritakan proses pembuatan pakaian, dan memperlihatkan cara yang lebih ramah lingkungan untuk menghasilkan dampak positif, yaitu melalui Tumpang Sari, sebuah teknik pertanian regeneratif, warisan leluhur Indonesia yang memerhatikan keberlangsungan lingkungan.
Founder SukkhaCitta Denica Riadini-Flesch mengatakan, “Bukan rahasia lagi bahwa industri fashion memang butuh berbagai pembaharuan agar bisa terus bertumbuh dan memberikan dampak positif kepada masyarakat."
Hingga saat ini, industri fashion menyumbang sebesar 10% dari emisi karbon global dan hanya kurang dari 2% pekerja di bidang tersebut mendapatkan penghasilan yang layak.
Untuk itulah, SukkhaCitta hadir di Indonesia untuk memberdayakan perempuan di daerah perkampungan Jawa Tengah dan Jawa Timur sembari membangun industri busana yang lebih hijau dan ramah bagi dunia.
“Melalui pameran KAPAS ini, kami hendak mengajak masyarakat untuk menyaksikan perjalanan ketika kami diperkenalkan dengan kearifan lokal nenek moyang kita dari petani-petani kapas yang sudah semakin sedikit di Indonesia. Kami ingin memperkenalkan metode Tumpang Sari yang bukan hanya ramah lingkungan, namun juga dapat memaksimalkan produksi kapas. Kita dapat berkaca pada kisah Ibu Kasmini yang setelah menerapkan metode Tumpang Sari, kini beliau tidak perlu lagi membeli bahan kimia yang mahal dan beliau pun bisa mendapatkan hasil panen sebanyak enam kali lipat dari jumlah panen sebelumnya,” jelas Denica.
Sejak tahun 2016, kehadiran SukkhaCitta telah memberikan dampak pada lebih dari 1.400 kaum perempuan di seluruh Indonesia. Dengan akses pasar yang lebih adil, SukkhaCitta juga telah sukses membangun kesejahteraan masyarakat lewat peningkatan penghasilan dari pengrajin dan petani kecil binaannya sebesar 60%.
Tidak hanya itu, pelatihan pewarnaan alam dan daur ulang yang secara konsisten terus dilakukan telah mencegah lebih dari 1,2 juta liter air terkontaminasi dengan limbah beracun, di mana saat ini SukkhaCitta telah meregenerasi 20 hektar tanah gersang melalui program penghijauan dan penanaman hutan serta pertanian regeneratif.
Dalam perjalanan mengelola dan memperbaiki lingkungan, SukkhaCitta mendapatkan dukungan dari Bank DBS Indonesia yang juga memiliki misi yang sama sebagai bank yang digerakkan oleh tujuan positif (purpose-driven bank). Pada tahun 2018, SukkhaCitta mendapatkan dana hibah dari Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation pada program DBS Foundation Social Enterprise (SE) Grant.
Dana tersebut digunakan untuk memberikan pelatihan kepada lebih banyak pengrajin lokal, serta meningkatkan kapasitas produksi. Selain memberikan dana hibah, DBS Foundation juga memberikan bimbingan kepada SukkhaCitta untuk membantu mereka mengatasi berbagai tantangan bisnis.
Sejalan dengan salah satu pilar sustainability Bank DBS Indonesia, yaitu Creating Social Impact, Bank DBS Indonesia senantiasa berkomitmen untuk menumbuhkembangkan wirausaha sosial guna memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus menjawab berbagai isu sosial di Indonesia. Melalui upaya tersebut, Bank DBS Indonesia berharap dapat menciptakan dunia yang lebih baik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Wewangian Terinspirasi Musim Panas dari Timur Tengah, Sentuhan Segar yang Cocok untuk Iklim Tropis
-
Apa Itu Makeup Patchy? Ini 7 Penyebab dan Cara Mencegahnya agar Wajah Mulus
-
Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
-
Perempuan Desa Tak Lagi di Balik Layar, Kini Bisa Jadi Penggerak Ekonomi
-
4 Cushion Budget Friendly di Bawah Rp60 Ribu, Lebih Murah dari Viva Velvet Cushion
-
5 Sepatu Nike Vomero Plus yang Nyaman untuk Lari Jarak Jauh Andalan dr Tirta
-
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
-
Apresiasi Pelanggan Setia, Citilink Serahkan Hadiah Mobil Hybrid dan Tiket Gratis
-
5 Sandal MyFeet untuk Jalan-jalan Tanpa Nyeri Tumit Rekomendasi Dokter
-
123 Kreator Muda Ikuti Kompetisi Video IFG untuk Tingkatkan Kesadaran Risiko Sehari-hari