Lifestyle / Food & Travel
Senin, 06 Juni 2022 | 18:21 WIB
Candi Borobudur (pixabay.com/Saesherra)

Suara.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Menparekraf Sandiaga Uno menanggapi keresahan umat Buddha untuk beribadah terkait kenaikan harga tiket masuk Candi Borobudur.

Sandiaga mengatakan pihaknya akan mengakomodir dan mencari jalan keluar yang tepat agar ibadah umat Buddha tidak terganggu.

"Nah, untuk umat Buddha sodara kita, kekhawatiran sama, kita akan formulasikan, kita tidak ingin diskriminasi umat agama Buddha ingin akses ke Candi Borobudur," ujar Sandiaga saat berbincang dengan awak media, Senin (6/6/2022).

Sandiaga menambahkan, berkaca pada Hari Raya Waisak pada 16 Mei 2022, ia menyebut bahwa proses ibadah atau perayaan Waisak tidak dilakukan di dalam bangunan Candi Borobudur, melainkan hanya di kawasan kompleks candi.

"Umat Buddha di Waisak kemaren mereka lakukan peribadatan di pelataran, dan itu bukan dalam bangunan candi tapi menghadap candi, dengan backdrop indah. Kita lepas lampion, itu pengalaman yang berkesan buat saya," cerita Sandiaga.

Sementara itu, menurut Sandiaga, kenaikan harga tiket masuk Candi Borobudur sudah dihitung dengan matang, sesuai dengan daya dukung candi yang sudah berdiri sejak abad ke-8 dan ke-9 itu.

"Angka 1.200 ini, sudah dihitung berkali-kali, berulang-ulang bahwa jumlah 365 hari (satu tahun) ini, atau total maksimal hanya 1.200 kunjungan per hari, sudah merupakan daya dukung dari bangunan Candi Borobudur," jelasnya.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan harga tiket masuk Candi Borobudur untuk turis lokal sebesar Rp750 ribu, sedangkan wisatawan mancanegara sebesar 100 dollar AS atau setara Rp1,4 juta.

Ditambah Luhut juga mengatakan, maksimal pengunjung Candi Borobudur yang boleh masuk ke bangunanya hanya 1.200 orang per hari.

Baca Juga: Bhikkhu Sri Pannyavaro Sorot Kebijakan Tiket Candi Borobudur: Jangan Hanya yang Punya Uang Boleh Naik

Load More