2. Historis keluarga
Jika seseorang dalam sebuah keluarga pernah mengalami depresi di masa lalu, seperti orang tua atau saudara kandung, kemungkinan besar kita juga akan mengalaminya. Efek ini terjadi karena ikatan batin yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
3. Peristiwa yang membuat stres
Seperti yang disebutkan sebelumnya, perisitiwa stres beragam macamnya, mulai dari kehilangan pekerjaan, berakhirnya sebuah hubungan, dan pasca operasi atau sembuh dari penyakit parah.
Kebanyakan orang akan meluangkan waktu untuk berdamai dengan peristiwa stres, seperti berkabung atau berakhirnya sebuah hubungan.
Ketika peristiwa stres ini terjadi, risiko manusia untuk mengalami depresi akan meningkat seiring dengan kita berhenti menemui teman dan keluarga dan mencoba mengatasi masalah tersebut sendirian.
4. Kesepian
Kesepian disebabkan oleh hal-hal seperti terputusnya hubungan dari keluarga dan teman dapat meningkatkan risiko depresi.
5. Cita-cita atau tujuan yang tidak tercapai
Baca Juga: Catatan Lain KPA Kota Bandung, Paparan HIV Terjadi ke 653 Ibu Rumah Tangga
Hal ini bisa saja terjadi ketika ada dorongan dalam diri untuk mencapai sesuatu namun terhalang dengan faktor yang tidak bisa diatur oleh individu itu sendiri.
Tak jarang mereka yang tidak dapat memenuhi tujuan atau cita-citanya secara berkepanjangan akan timbul depresi, apalagi ketika teman terdekat mereka sudah mencapai hal itu terlebih dahulu.
6. Penyakit
Seperti sebut saja para penyintas kanker yang mengalami bagaimana ngerinya kehilangan rambut, rasa tercabik-cabik dari dalam diri, dan di sisi lain mereka harus menerima keadaan sambil tetap berpikiran positif.
7. Alkohol dan narkoba
Ketika hidup membuat terjadi tidak sesuai harapan, beberapa orang mencoba mengatasinya dengan minum terlalu banyak alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang.
Memang efeknya memberikan sebuah ketenangan, namun itu hanyalah keterangan sementara dan masalah sebenarnya tidak benar-benar hilang.
8. Melahirkan
Beberapa wanita sangat rentan terhadap depresi setelah proses persalinan. Perubahan hormonal dan fisik, serta tanggung jawab tambahan dari kehidupan baru, dapat menyebabkan depresi pascakelahiran atau yang biasa disebut postnatal depression.
Jika sudah pernah atau sedang mengalami penyebab-penyebab di atas, segeralah meminta bantuan terhadap profesional agar masalah yang terjadi tidak menjadi berkepanjangan.
Jangan pernah malu untuk bercerita dan jangan remehkan jika ada salah satu dari kerabat atau temanmu bercerita.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Menko Yusril Buka Suara Soal Kericuhan Bendera Bulan Bintang di Aceh
-
Kontak Tembak dengan OPM Saat HUT ke-81 RI, 1 Prajurit TNI Gugur-2 Terluka
-
Usai Kericuhan Penurunan Merah Putih, Kapolri Pastikan Aceh Terkendali
-
7 Kuliner Musim Panas di Turkiye yang Wajib Dicoba, dari Sup Dingin hingga Es Krim Maras
-
Sudah Seperti Bestie, Istana Ungkap Rahasia di Balik Posisi Duduk Jokowi-Prabowo-Gibran
-
7 Cara Mencuci Sepatu Canvas di Rumah agar Bersih dan Tidak Cepat Rusak
-
HUT ke-81 RI: BRI Perluas Akses Keuangan Hingga Pelosok dan Mancanegara
-
Lama Tak Terdengar Kabarnya, Pemain Keturunan Indonesia Ini Bakal Susul Ole Romeny?
-
Hasto Ungkap Alasan Megawati Pilih Upacara di Sekolah Partai Ketimbang Istana
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah