Terakhir adalah Kolekte Sampah, upaya edukasi untuk perubahan perilaku melalui pendekatan keagamaan. Karena di Labuan Bajo mayoritas penduduknya beragama Katolik, maka Kole Project melalukannya di gereja.
Jadi lanjut dia, umat-umat yang datang, bisa bersedekah atau kolekte tidak hanya dengan uang tapi juga sampah daur ulangnya ke gereja. Selain itu, Kole Project juga mengajak anak-anak, petugas dan organisasi gereja melakukan kegiatan pemilahan setiap hari Jumat.
"Ya, jadi upaya-upaya itu terus kita lakukan. Karena kita tidak bisa berharap tiba-tiba kita ada seratus pemulung di sini. Kita tidak bisa. Kita harus berusaha dan berupaya untuk mencegahnya justru tidak dikumpulkan dari TPA. Justru kita mendapatkannya dari sumber," rinci Putra lagi.
Hingga kini, dari 100 persen sampah yang terkumpul dari unit daur ulang cuma 20 persen yang diambil dari TPA, sementara 80 persennya melalui edukasi yang digaungkan Kole Project ke berbagai lapisan masyarakat.
Sampai saat ini, melalui berbagai alsi tadi sudah ada 300 siswa dan lebih dari 1000 masyarakat yang sudah berpartisipasi dengan Kole Project dengan 200 titik pengumpulan di seluruh Labuan Bajo.
Ke mana perginya sampah yang telah dikumpulkan?
Putra menjelaskan, sampah yang diterima dari sumber akan diproses di fasilitas pemilahan sampah atau RBU Labuan Bajo. Sampah akan disortir kembali, dibersihkan, dan dikemas.
Prosesnya sendiri melibatkan sekitar lebih dari 50 orang masyarakat lokal, termasuk kalangan difabel yang mendapatkan manfaat dari ekonomi sirkular.
"Habis dari sini, nanti kita lihat ada proses selanjutnya yang menggunakan mesin. Di mana botol yang dikumpulkan akan berubah jadi berbentuk kotak yang dipress," jelas dia.
Sampah-sampah yang sudah dipress, kata dia nantinya akan dijual ke pabrik daur ulang sesuai dengan jenisnya. Untuk sampah kaleng, botol kaca hingga karton, sudah ada penerimanya sendiri-sendiri.
Sementara khusus untuk sampah plastik yang dikumpulkan, Kole Project akan mengirim ke mitranya AQUA di Surabaya, Jawa Timur untuk kembali dibuat menjadi bahan baku kembali.
Berita Terkait
-
Kelakuan Pandawara Group di Pantai Binongko Labuan Bajo Bikin Kagum, Dapat Sampah Ratusan Kilogram!
-
Berpotensi Overtourism, Menparekraf Sandiaga Uno Himbau Infrastruktur Tidak Dibangun Secara Berlebihan di Labuan Bajo
-
Tampil Memukau di Grand Prix Monako, Lisa BLACKPINK Pakai Outfit dari 1800 Sampah Plastik: Ini Potretnya
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
Terkini
-
5 Water Heater Low Watt Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Keluarga Minimalis
-
5 Cushion Anti Keringat untuk Pekerja Kantoran, Makeup Tetap Fresh dan Tak Luntur
-
Rekam Jejak Roby Tremonti, Aktor yang Terseret Isu Child Grooming di Buku Aurelie Moeremans
-
Daftar Wilayah DIY yang Berpotensi Diguyur Hujan Petir hingga Pukul 15.00 WIB Hari Ini
-
5 Hair Tonic untuk Menumbuhkan Rambut, Ampuh Atasi Kerontokan dan Kebotakan
-
4 Sepatu Sneakers Wanita Mulai Rp100 Ribuan, Empuk dan Anti Lecet Dipakai Jalan
-
Kenapa Korban Grooming Seperti Aurelie Moeremans Cenderung Diam? Waspadai Ciri-cirinya!
-
5 Moisturizer Terbaik Harga Pelajar untuk Mencerahkan Wajah, Mulai Rp20 Ribuan
-
Alasan Aurelie Moeremans Terbitkan Buku Broken Strings secara Gratis
-
5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda