Suara.com - Indonesia Bertutur 2024 hadir dengan tema "Subak: Harmoni dengan Pencipta, Alam, dan Sesama". Filosofi Subak yang diusung oleh mega festival ini sarat akan makna keseimbangan hubungan antara manusia dengan pencipta, sesama, dan alam. Lalu, apa itu subak?
Menurut Direktur Perfilman, Musik, dan Media, Ahmad Mahendra, pemilihan Subak sebagai tema dalam mega festival yang berlangsung sejak tanggal 7 - 18 Agustus 2024 ini memiliki alasan yang sangat kuat.
"Soal Subak ini kita angkat karena ingin sekali karya yang diekspresikan (menggambarkan) soal harmoni terhadap alam," kata Mahendra saat ditemui di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali.
Sebagian besar orang mengenal subak sebagai sistem irigasi pertanian di Bali. Namun, subak lebih dari sekadar sistem irigasi. Ini merupakan sebuah filosofi hidup yang mendalam, yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Secara sederhana, subak adalah sebuah organisasi tradisional para petani di Bali yang memiliki tujuan utama untuk berbagi tanggung jawab dalam pengelolaan irigasi air dan pola tanam padi di sawah. Sistem ini melibatkan pembagian air secara adil dan merata di antara para petani melalui jaringan saluran irigasi yang kompleks.
Namun, esensi subak jauh lebih dalam. Ini adalah sebuah sistem sosial-budaya yang unik, di mana pertanian menjadi bagian integral dari kehidupan spiritual masyarakat Bali. Konsep Tri Hita Karana—keharmonisan antara manusia, Tuhan, dan alam—merupakan dasar dari filosofi subak.
- Parhyangan (hubungan manusia dengan Tuhan): Terwujud dalam upacara-upacara keagamaan yang dilakukan sebagai bentuk syukur atas hasil panen dan permohonan perlindungan dari alam.
- Pawongan (hubungan manusia dengan manusia): Ditunjukkan dalam semangat gotong royong dan kerjasama dalam mengelola sistem irigasi.
- Palemahan (hubungan manusia dengan alam): Terlihat dalam pengelolaan sumber daya air secara bijaksana dan berkelanjutan, serta penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.
Warisan Budaya Dunia
Sistem subak telah terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat Bali selama berabad-abad. Selain itu, subak juga merupakan warisan budaya yang tak ternilai, yang mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai spiritual yang mendalam.
Karena keunikan dan nilainya, subak telah diakui oleh dunia. UNESCO bahkan telah menetapkan subak sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2012. Itu artinya, UNESCO mengakui pentingnya sistem ini dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan sosial.
Baca Juga: Healing ke Bali Usai Cerai, Inge Anugrah Temukan Kebahagiaan Baru
Subak lebih dari sekadar teknik pertanian. Ini adalah sebuah warisan budaya yang berharga, bukti nyata bahwa manusia dapat hidup harmonis dengan alam tanpa mengorbankan kebutuhan ekonomi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada
-
Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman
-
Air Laut Surut Lalu Masuk Permukiman, Warga Pasimarannu Panik Mengungsi Mandiri
-
Soroti Manuver Politik di Kasus Eks Jampidsus, Sejumlah Akademisi Minta Prabowo Turun Tangan
-
Dua Pidato di DPR Tunjukkan Arah Ekonomi Prabowo Semakin Jelas
-
Gempa NTT, Selly Gantina Minta Pemerintah Segera Tembus Daerah Berdampak
-
PTBA Kembali Hadirkan BIDIKSIBA, Buka Jalan Generasi Muda Menuju Pendidikan Tinggi
-
Spot 17-an Kekinian di Blok M: Dari Secret Gig sampai Tantangan Senyum!
-
Beras Fortifikasi Jadi Pelarian Produsen Akibat Melonjaknya Harga Gabah
-
Hendardi Singgung Manuver Hukum Eks Jampidsus, Dinilai Kelabui Publik Soal Substansi Perkara