Suara.com - Kata kunci terkait Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12% menjadi pembahasan panas di platform X hingga Kamis (19/12/2024). Bahkan sedianya digelar aksi massa untuk menolak rencana kenaikan nilai PPN tersebut di Istana Negara.
Hal ini membuat sosok Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati turut disoroti, termasuk soal penilaian latar belakang sang menteri yang pernah disampaikan oleh Tom Lembong.
Momen ini terjadi ketika eks Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong dihadirkan di kanal YouTube kasisolusi. Terang-terangan Tom mengaku kasihan dengan Sri Mulyani karena latar belakangnya sebelum menjabat sebagai bendahara negara.
"Saya sering kasihan dengan Ibu Sri Mulyani, karena beliau kan memang bukan latar belakang bankir, bukan latar belakang pasar modal, bahkan seumur hidup beliau nggak pernah kerja di sektor swasta," tutur Tom, seperti dikutip pada Kamis (19/12/2024).
Dalam podcast yang dipandu oleh Deryansha alias Dery eks Vierra itu, Tom memang sempat mengulas beberapa kebijakan keuangan negara yang kini dikelola oleh Sri Mulyani.
Tom lalu menyoroti latar belakang Sri Mulyani sebagai akademisi hingga kemudian berkiprah di Bank Dunia. Namun sebagai pelaku ekonomi, menurut Tom, Sri kurang memiliki pengalaman di bidang bisnis dan investasi perbankan.
"Kan beliau akademisi. Beliau dosen, kemudian bekerja di lembaga multilateral yaitu Bank Dunia, tapi seharipun dalam seumur hidupnya beliau nggak pernah kerja di bisnis, apalagi jalanin usaha sendiri. Jadi memang beliau orang yang sangat makro, dan bidangnya development economics," kata Tom.
"Beliau ngerti banget program untuk ke ibu hamil, mencegah stunting, program untuk pendidikan di usia awal balita, kebijakan sosial, ekonomi sosial. Tapi beliau tidak berlatarbelakang dunia usaha, jadi benar-benar nggak familiar, tidak begitu menjiwai, bahkan tidak begitu ngerti dinamika di dalam sebuah bidang usaha. Apalagi perbankan dan keuangan, memang bukan latar belakang beliau," sambungnya.
Di sisi lain, penolakan masyarakat terhadap rencana PPN 12 persen memang tak henti bergema. Sedianya rencana ini akan dilaksanakan mulai 1 Januari 2025 mendatang.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Buka Suara Soal Kenaikan PPN 12 Persen: Bisa Picu 5 Komplikasi Ini...
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Qurban Era Digital: Bagaimana Teknologi Mengubah Tradisi Idul Adha di ASEAN
-
Lebih dari Sekadar Kurban, Iduladha Juga Mengajarkan Arti Kepedulian
-
Energi Ceria Khas Brasil Hadir dalam Koleksi Sandal Penuh Warna
-
Apa Arti Mimpi Kecebur Sungai atau Got? Ini Penjelasannya Menurut Primbon Jawa
-
4 Shio Diprediksi Paling Hoki Besok 31 Mei 2026, Akhir Bulan Hidup Makin Tenang
-
Tren Fashion Polkadot Comeback! Motif Retro Kembali Digandrungi Gen Z dan Ibu Muda
-
5 Rekomendasi Moisturizer untuk Jerawat Mendem, Ampuh Redakan Peradangan
-
Apakah Sunscreen Bisa Bikin Awet Muda? Ini Kata Dokter dan 5 Pilihan yang Layak Dicoba
-
3 Rekomendasi Mesin Cuci Panasonic yang Terbukti Awet dan Laris, Harga Murah!
-
Jangan Sembarangan! Ini Cara Aman Menyimpan Gas Portable yang Sudah Dibuka