Selain itu, manajemen gizi di sekolah dievaluasi melalui penelitian setiap lima tahun sekali untuk menyesuaikan standar gizi yang terbaik bagi anak-anak. Menu makan siang juga terus diperbarui dengan kombinasi makanan utama, lauk pauk, serta sup.
Bahan pangan yang digunakan berasal dari sumber lokal dan diproduksi di dalam negeri, sehingga lebih segar dan mendukung pertanian lokal.
Makan Bersama: Cara Efektif Membangun Kebiasaan Makan Sehat
Makan bersama teman-teman di sekolah memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah mengurangi kebiasaan anak menjadi pemilih makanan (picky eater).
Dalam suasana yang menyenangkan, anak-anak lebih tertarik untuk mencoba berbagai jenis makanan, bahkan yang sebelumnya tidak mereka sukai. Mereka juga belajar meniru kebiasaan makan yang baik dari teman dan guru mereka.
Penting untuk memahami bahwa kenikmatan makanan tidak hanya bergantung pada rasa, tetapi juga aspek sosial dan sensorik.
"Saat makan, pancaindra bekerja secara bersamaan, melihat makanan, mencium aromanya, mencicipi rasanya, mendengar teksturnya, dan merasakan sensasi di lidah. Semua elemen ini berkontribusi terhadap pengalaman makan yang menyenangkan," kata Profesor di Kanagawa Insittiute itu.
Mendorong Kebiasaan Mengunyah yang Baik
Mengunyah makanan dengan baik, kata Naomi juga sangat penting untuk pencernaan dan kesehatan anak. Di beberapa sekolah di Jepang, diterapkan metode unik untuk membantu anak-anak mengunyah dengan benar, yaitu dengan memutar musik khusus selama makan siang.
Baca Juga: Badan Gizi Nasional Ngaku Ikut Kena Pemangkasan Anggaran, Program Makan Bergizi Gratis Terdampak?
"Musik ini mengatur ritme kunyahan mereka agar mencapai 30 hingga 60 kali kunyahan per suapan," pungas dia.
Sebuah eksperimen membuktikan bahwa kelompok siswa yang mendapat penjelasan tentang manfaat mengunyah dan didukung dengan musik khusus menunjukkan peningkatan ritme makan yang lebih baik dibandingkan kelompok yang tidak mendapat edukasi tambahan. Selain membantu pencernaan, kebiasaan ini juga terbukti mengurangi risiko obesitas.
Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk menyuap nasi, lauk, dan sayur secara berkesinambungan, bukan secara terpisah. Metode ini terbukti membantu mereka menghabiskan makanan dengan lebih mudah, sekaligus memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang seimbang.
Kolaborasi Sekolah dan Keluarga dalam Pendidikan Gizi
Pendidikan gizi tidak berhenti di sekolah, tetapi harus diterapkan juga di rumah. Untuk itu, sekolah menyediakan buletin gizi dan mengirimkan daftar menu makan siang selama satu bulan kepada orang tua.
Ini menjadi sarana komunikasi antara sekolah dan keluarga, sehingga orang tua dapat memahami pentingnya pola makan sehat dan menerapkannya di rumah.
Dengan adanya kesinambungan antara sekolah dan rumah, anak-anak dapat membangun kebiasaan makan yang baik, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Inspirasi dari Jepang menjadi dasar bagi Indonesia dalam mengembangkan MBG
Dalam kesempatan yang sama, Nyoto Suwignyo, Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional mengakui jika program MBG yang tengah dijalani di Indonesia bukanlah program yang mudah.
Berbeda dengan Jepang yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk membangun sistem makan siang bergizi di sekolah, Indonesia menerapkan program ini secara langsung ke seluruh kelompok sasaran.
"Ini merupakan tantangan besar yang membutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, termasuk regulasi, administrasi, dan infrastruktur," pungkas dia.
Namun, lanjut Nyoto, inspirasi dari Jepang bisa menjadi dasar bagi Indonesia dalam mengembangkan MBG. Meski begitu kata dia, pendekatan yang diambil bukanlah trial and error, melainkan trial and success, di mana setiap langkah harus menghasilkan solusi terbaik agar program ini berjalan efektif.
"Dari Prof Naomi Aiba kami dapatkan banyak hal, baik aspek hukum maupun edukasi. Apa yang beliau sampaikan sebagai pencerahan edukasi yang luar biasa yang tentu jadi perhatian bagi kami," tutup dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan