Suara.com - Sedotan kertas selama ini dianggap sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun Pemerintah Korea Selatan belum lama ini mempertimbangkan kembali penggunaannya.
Dilansir dari Korea Times, Kementerian Lingkungan Hidup Korea Selatan mengumumkan akan meninjau ulang siklus hidup (LCA) sedotan kertas dan membandingkannya dengan sedotan plastik pada Kamis, 13 Februari 2025.
Penilaian tersebut akan memeriksa seberapa besar dampak lingkungan yang ditimbulkan sedotan kertas di berbagai tahap siklus hidupnya, mulai dari produksi, konsumsi, hingga pembuangan. Penilaian diharapkan akan selesai pada bulan April.
LCA alias lifecycle assessment muncul setelah pemerintah pada tahun 2021 merevisi Keputusan Penegakan Undang-Undang tentang Promosi Penghematan dan Daur Ulang Sumber Daya, dengan mengumumkan akan melarang penggunaan sedotan plastik pada tahun berikutnya.
Kemudian pada tahun 2022, pelarangan tersebut ditunda hingga tahun berikutnya. Pada tahun 2023, penerapan larangan tersebut ditunda tanpa batas waktu, yang secara efektif memungkinkan penggunaan sedotan plastik lagi untuk sementara.
Kementerian juga akan mulai melakukan pembandingan bagaimana negara-negara lain, khususnya negara-negara di Uni Eropa yang mengatur penggunaan sedotan plastik.
"Bahkan para ahli memiliki pendapat yang berbeda tentang apakah sedotan kertas lebih aman bagi lingkungan atau tidak, sehingga membingungkan konsumen dan produsen sedotan," kata seorang pejabat kementerian.
"Oleh karena itu, kami terdorong untuk meluncurkan inspeksi menyeluruh terhadap kertas, plastik, serta bahan sedotan alternatif lainnya untuk memahami komposisi kimianya dan dampaknya terhadap alam," lanjutnya.
Sebagai informasi, Selama beberapa tahun terakhir, sedotan kertas telah kehilangan popularitas di kalangan perusahaan dan konsumen di seluruh dunia karena keramahan lingkungannya gagal mengimbangi bahaya lingkungan dari sedotan plastik.
Baca Juga: Tantangan Pendidikan Ramah Lingkungan di Era Modern
Hal ini mendorong Presiden Amerika Donald Trump untuk memerintahkan penggunaan kembali sedotan plastik di pemerintahan federal negara tersebut
Mandat Trump itu muncul setelah Badan Perlindungan Lingkungan Amerika pada tahun 2020 mengatakan sedotan kertas mengeluarkan emisi karbon 5,5 kali lebih banyak daripada sedotan plastik selama produksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Antrean Mengular di SPBU Bali, Ini Janji Pertamina
-
Gagal Panen Meluas! BI Ungkap Ancaman Nyata El Nino ke Ekonomi Sulsel
-
Duka di Cikarang Utara: Ayah dan Anak Tewas Usai Ledakan Tabung Gas Hanguskan Rumah
-
Sapu Bersih 40 Suara! Emil Dardak Kembali Pimpin Demokrat Jatim Secara Aklamasi
-
Tembus Rp189 Miliar! Data PPATK Bongkar Transaksi Judi Daring Warga dan ASN di Lebak
-
Maba UII Langsung Juara Campus League, Alfira Deanika Tundukkan Unggulan UNESA
-
Menyambangi Tebuireng, Tradisi Ziarah dan Suka Cita Warga NU Jelang Muktamar Ke-35
-
Momentum HAPERNAS 2026, Perumnas Serahterimakan Hunian kepada Lebih dari 530 Konsumen
-
Bila Mufakat Buntu, Sidang Pleno III Muktamar Ke-35 NU Sepakati Opsi Voting
-
Bahtsul Masail di Muktamar NU Sepakat Kripto Boleh Ditransaksikan