Suara.com - Dunia pendakian Indonesia kembali berduka. Dua sahabat, Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono, yang telah mengenal sejak masa sekolah dikabarkan meninggal dunia dalam perjalanan turun dari Puncak Cartenz Pyramid, gunung tertinggi di Indonesia.
Kabar tersebut pun menarik perhatian publik, khususnya mengenai kisah persahabatan mereka yang inspiratif. Keduanya disebut memiliki mimpi besar bersama, yakni menaklukkan tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia sebelum usia 60 tahun.
Meski akhirnya terwujud, tetapi perjalanan pulang dari puncak menjadi akhir kisah mereka. Diceritakan jurnalis Andreas Harsono di postingan media sosialnya, kedua pendaki tersebut merupakan kawannya di SMP dan SMA Dempo Malang (1981–1984).
Lilie, seorang insinyur yang bekerja di PT Telkom Bandung, memilih pensiun dini dan mendirikan bisnis busana perempuan. Dengan rendah hati, ia sering menyebut dirinya "tukang jahit."
Sementara itu, Elsa adalah dokter gigi lulusan Universitas Trisakti, yang suaminya pernah bertugas di Angkatan Laut dan kemudian bekerja di sebuah klinik gigi di Jakarta.
Tahun 2015 menjadi awal perjalanan baru bagi mereka. Di usia 50 tahun, saat anak-anak mereka sudah kuliah, mereka memulai kembali hobi lama: berlatih keras, bersepeda, berjalan kaki, dan mendaki gunung.
"Mereka bercita-cita mendaki ketujuh puncak gunung tertinggi di seluruh Indonesia. Mereka jalani dengan tekun. Mereka bugar jiwa dan raga. Gunung Slamet. Gunung Sumbing. Ciremai.Semeru. Kerinci. Rinjani. Binaiya," tulis Andreas seperti Suara.com kutip pada TikTok @blue.sky1353 Senin (3/2/2025)
Setelah enam gunung berhasil mereka taklukkan, Puncak Cartenz Pyramid di Papua menjadi puncak terakhir dalam daftar impian mereka.
Summit Terakhir: Puncak Cartenz Pyramid
Baca Juga: Kenangan Manis Lilie Wijayanti dan Elsa Laksono, The Hiking Queen Puncak Carstensz
Pada Jumat, 28 Februari 2025, setelah perjalanan yang panjang dan penuh tantangan, Lilie dan Elsa akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Puncak Cartenz Pyramid. Mimpi yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun akhirnya tercapai.
Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi tragedi. Perjalanan turun dari puncak menuju Lembah Kuning, tempat mereka menunggu helikopter evakuasi, menjadi tantangan berat.
Cuaca buruk, hujan deras, dan suhu dingin ekstrem melanda kawasan tersebut, membuat mereka mengalami Acute Mountain Sickness (AMS)—penyakit ketinggian yang fatal jika tidak segera ditangani.
Pada Sabtu, 1 Maret 2025, di tengah perjuangan melawan suhu yang menusuk tulang, Lilie dan Elsa mengembuskan napas terakhir mereka, bersama, dalam dinginnya pegunungan Papua.
Proses Evakuasi yang Dramatis
Kabar duka ini baru ramai diperbincangkan di media sosial pada Minggu, 2 Maret 2025. Proses evakuasi berlangsung dramatis di Helipad Bandara Mozes Kilangin, Timika, dengan bantuan dua helikopter Komala Indonesia tipe AS 350 B3/PK-KIE dan PK-KIA.
Elsa berhasil dievakuasi lebih dulu dan jenazahnya disemayamkan di RSUD Kabupaten Mimika. Sementara itu, jenazah Lilie masih berada di kawasan Puncak Cartenz dan dijadwalkan dievakuasi pada Senin, 3 Maret 2025.
Persahabatan yang Abadi
Kepergian Lilie dan Elsa bukan hanya duka bagi keluarga mereka, tetapi juga kehilangan besar bagi komunitas pendaki di Indonesia. Mereka adalah bukti nyata bahwa usia bukan penghalang untuk mengejar mimpi.
Berita Terkait
-
Berakhir Tragis di Puncak Cartenz Gegara Hipotermia, Jenazah Elsa dan Lilie Bakal Diterbangkan ke Jakarta Hari Ini
-
2 Pendaki Tewas, Drama Fiersa Besari dkk Dievakuasi di Puncak Cartenz Papua Tengah
-
Beda Rombongan dengan 2 Pendaki Tewas di Puncak Cartenz, Kondisi Terbaru Fiersa Besari usai Berhasil Selamat
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dari Anemia hingga Isu Mental, Ketika Generasi Muda Turun Tangan Racik Solusi Kesehatan
-
Tandon Air yang Bagus Merek Apa? Ini 4 Rekomendasinya yang Anti-Lumut dan Tahan Lama
-
The Apurva Kempinski Bali Angkat Isu Regenerasi dan Keberlanjutan
-
Cara Atasi Uap Keluar dari Gagang Panci Presto agar Daging Cepat Empuk
-
Saat Ekonomi Sulit, Mal Andalkan Hiburan Anak untuk Dongkrak Belanja?
-
5 Tips Layering Parfum agar Wanginya Tidak Pasaran, Ini Aroma yang Cocok Dipadukan
-
Jerawat Tak Kunjung Sembuh? 4 Rekomendasi Vitamin dari Dokter Estetika untuk Wajah Berjerawat
-
12 Destinasi Wisata Hits di Jakarta untuk Libur Sekolah, dari Pantai hingga Hutan Mangrove
-
Bedak Padat Purbasari Bisa Dipakai untuk Umur Berapa? Lengkap dengan 4 Keunggulannya
-
Beda Cream, Liquid, dan Powder Blush: Kenali Tekstur, Hasil Akhir, dan Cara Pakainya