"Tiap bahasa memiliki aturan fonotaktik masing-masing. Fonotaktik adalah aturan tentang kombinasi bunyi yang diperbolehkan dalam suatu bahasa. Aturan ini menentukan kombinasi fonem mana yang diperbolehkan dalam suatu suku kata atau kata," lanjut papar Fauzan.
Fauzan memperoleh temuan dari aturan fonologis tersebut, bahwa masyarakat Indonesia asing untuk melafalkan bunyi 'sr' di tengah kata seperti pada kata nasreng.
"Saya pikir, itu makanya kalau kita bandingkan dengan contoh sebelumnya (nasgor vs. nasreng), mungkin nasreng terasa agak janggal karena /sr/ di tengah kata bukan pola yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia," timpal Fauzan.
Berdasarkan aturan fonologis tersebut, tak mengherankan jika nasgor menjadi singkatan yang lebih umum dipakai di masyarakat.
Pelafalan nasreng juga tak mengindahkan pola fonologis yang umum dalam bahasa Indonesia, sehingga terdengar asing.
"Bahasa Indonesia cenderung menghindari kombinasi konsonan yang rumit, terutama di tengah kata. Jadi, kombinasi /sr/ dalam "nasreng" tidak sesuai dengan pola fonotaktik yang umum," pungkas Fauzan.
Terkait beda cara orang menyingkat kata, Fauzan mengatakan hal itu lumrah terjadi.
"Karena sebenernya bahasa itu bersifar arbitrer," jelas Fauzan kepada Suara.com, Rabu (19/3/2025).
Artinya hubungan antara lambang bunyi (kata) dan makna yang diwakilinya tidak memiliki dasar alami atau logis, melainkan ditentukan oleh konvensi atau kesepakatan masyarakat bahasa.
Baca Juga: Tak Ada Salahnya Perkenalkan KBBI pada Anak seperti Belajar Bahasa Asing
Fauzan menyebut, orang bisa mengacak kata sehingga menciptakan kata baru. Namun, jika dirunut dari sejarah linguistik penuturan orang yang mengacak kata tersebut, menurut Fauzan tidak akan lepas dari kaidah fonotatik yang biasa dituturkan.
"Tapi emang kata yang kita buat itu (kalau dalam konteks singakatan) ngga lepas dari aturan fonotaktik bahasa yang dituturkan. Jadi serandom-randomnya kata baru yang terbentuk, pasti ngga keluar dari aturan fonotaktiknya," jelas Fauzan.
Kontributor : Armand Ilham
Berita Terkait
-
RUU TNI Direvisi Lagi! DPR dan Pemerintah Sibuk Benahi Tata Bahasa, Ada Apa?
-
Anies Lancar Ngobrol Bahasa Inggris dengan Bule, Publik Sentil Mantan Presiden
-
Tak Ada Salahnya Perkenalkan KBBI pada Anak seperti Belajar Bahasa Asing
-
Akui Kaya Harta dan Bahasa Daerah, Firdaus Oiwobo Sentil Kemampuan Speaking Hotman: Lidah Lu Aja Masih Belok Begitu
-
Arti Velocity di TikTok dalam Bahasa Gaul dan Cara Menggunakannya
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
HUT RI ke-81, Tradisi Panjat Pinang Kembali Meriahkan Kalimalang
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?