Suara.com - Menikah dengan sepupu, baik sepupu dari pihak ayah maupun ibu, sering menjadi perbincangan saat Lebaran. Hal ini pun lantas menimbulkan pertanyaan, bagaimana hukum menikah dengan sepupu dalam Islam? Berikut ini penjelasannya.
Diketahui bahwa Pernikahan dalam Islam dianggap sebagai ibadah. Pernikahan bukan hanya sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga sebagai cara untuk memenuhi fitrah manusia dalam menjaga kehormatan maupun keturunan.
Dalam Islam, pernikahan hukumnya sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Namun hukumnya menjadi wajib bagi seseorang tidak mampu untuk menahan hawa nafsunya, dan makruh jika melakukan pernikahan tanpa tujuan yang jelas.
Namun bagaimana jika menikah dengan sepupu? Apa hukum menikah dengan sepupu dalam Islam? Nah untuk mengetahui hukumnya, simak berikut ini penjelasannya.
Hukum Menikah Dengan Sepupu Dalam Islam
Mengutip dari buku Fiqih Perempuan Kontemporer karya Farid Nu'man Hasan, menikah dengan sepupu dianggap sah dalam Islam karena sepupu bukanlah mahram. Ini juga dijelaskan dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 23 yang bunyi ayatnya sebagai berikut:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ
Artinya: “Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu menikahinya, (diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam pernikahan) dua perempuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 23).
Berdasarkan ayat di atas disebutkan ada beberapa perempuan yang haram untuk dinikahi oleh laki-laki karena statusnya mahram. Namun dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa saudara sepupu boleh untuk dinikahi, karena sepupu statusnya bukan mahram.
Baca Juga: Hukum Ayah yang Tidak Mengakui Anaknya Menurut Islam
Dalam beberapa hadis disebutkan juga bahwa Rasulullah SAW pernah memberikan contoh tentang pernikahan dengan sepupu yang dilakukan para sahabat dan keluarga Rasulullah SAW sendiri, contohnya pernikahan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra.
Dalam kitab Taudhihul Adillah 6 karya KH. M. Syafi'i Hadzami disebutkan, meski diperbolehkan menikahi sepupu, namun menikahi sepupu disebut sebagai 'khilafu al-aula' (menyalahi yang lebih utama).
Dalam kitab tersebut dijelaskan juga bahwa melakukan pernikaha dengan kerabat dekat dikatakan kurang sempurna syahwatnya, yang mana ini dapat mengakibatkan pertumbuhan anaknya menjadi kurang sempurna.
Namun pada realitanya, ada juga sejumlah orang yang menikahi sepupunya dan mereka dikaruniai anak-anak yang sehat. Contohnya pernikahan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib dimana yang ayahnya Ali bersaudara dengan ayah Rasulllah SAW.
Pernikahan mereka sebagai kerabat dekat pun dianugrahi anak-anak yang sehat. Adapun anak-anaknya bernama Sayyid Hasan, Sayyid Husein, Sayyid Muhsin, Sayyidah Umu Kultsum dan Sayyidah Zainab. Ini disebutkan dalam kitab Siyar al-‘Alamin Nubala` juz II, hal. 119.
“Sayyidah Fatimah dilahirkan beberapa saat sebelum diutusnya Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul. Imam Ali bin Abi Thalib kemudian menikahinya pada bulan Dzulqa'dah atau beberapa saat sebelumnya pada tahun kedua hijriah setelah Perang Badar… (dari pernikahan tersebut) kemudian beliau melahirkan: Sayyid Hasan, Sayyid Husein, Sayyid Muhsin, Sayyidah Umu Kultsum dan Sayyidah Zainab”.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Seberapa Penting Asuransi Perjalanan di Era Serba Mobile? Ini Penjelasannya
-
Serum Apa yang Bisa Mengurangi Garis Halus? Ini 5 Rekomendasinya untuk Usia 50-an
-
Kulit Kombinasi Cocok Pakai Cushion Apa? Ini 5 Pilihan agar Makeup Rapi dan Tak Luntur
-
Kapan Pengumuman Seleksi Manajer Kopdes Merah Putih? Ini Jadwal dan Tahapan Jika Lolos
-
Apa Itu Musinnah? Syarat Hewan Kurban yang Wajib Diketahui Umat Muslim
-
5 Rekomendasi Parfum Mykonos untuk Anak Sekolah, Segar Seharian Anti Bau Matahari
-
12 Promo Skincare Indomaret, Diskon Besar Harga Mulai Rp6 Ribuan
-
Apakah Marina SPF 30 Bisa Bikin Kulit Cerah? Segini Harganya di Indomaret dan Alfamart
-
Liburan Tak Biasa di Jakarta: Sensasi Makan di Atas Katamaran Sambil Menyusuri Sungai Tahang
-
Juvelook Jadi Tren Perawatan Wajah Natural, Keahlian Certified Injector Jadi Penentu Hasil