- BEI belum menetapkan Pjs Dirut pengganti Iman Rachman karena masih proses.
- Operasional dan pengambilan keputusan bursa dipastikan normal tanpa gangguan.
- Simpang Siur Nama: Jeffrey Hendrik sempat disebut Menkeu sebagai Pjs, namun belum resmi di BEI.
Suara.com - Teka-teki mengenai sosok yang akan menakhodai Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk sementara waktu masih menjadi misteri. Otoritas bursa mengonfirmasi bahwa hingga saat ini belum ada penunjukan resmi Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama untuk menggantikan Iman Rachman yang secara mengejutkan mengundurkan diri pada akhir Januari lalu.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menjelaskan bahwa proses internal untuk menentukan suksesor sementara masih terus bergulir. Meski pasar menantikan kepastian figur pemimpin baru, manajemen meminta publik untuk bersabar menunggu hasil proses yang sedang berjalan sesuai regulasi yang berlaku.
"Kami masih belum dapat mengeluarkan pernyataan resmi karena masih terdapat proses yang masih harus dijalankan," ungkap Kautsar dalam keterangan tertulisnya pada Senin (2/2/2026).
Meskipun kursi kepemimpinan tertinggi tengah kosong, Kautsar memberikan jaminan kepada para investor dan pelaku pasar bahwa stabilitas bursa tidak akan terganggu. Ia menegaskan bahwa sistem tata kelola di BEI telah dirancang untuk tetap tangguh dalam menghadapi masa transisi kepemimpinan.
Pihak manajemen memastikan bahwa seluruh aktivitas perdagangan, pengawasan pasar, hingga layanan administrasi emiten tetap berjalan sebagaimana mestinya. "Kami memastikan proses pengambilan keputusan dan operasional masih berjalan dengan normal dan tidak terganggu terkait hal ini," tambah Kautsar.
Isu mengenai Pjs Dirut BEI sempat memanas menyusul pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam pertemuan di Danantara akhir pekan lalu. Dalam kesempatan tersebut, Jeffrey Hendrik sempat disebut-sebut sebagai sosok yang akan mengisi posisi Pjs Direktur Utama.
Namun, pernyataan resmi dari pihak BEI hari ini secara tersirat mengklarifikasi bahwa kabar tersebut belum bersifat final secara administratif di internal bursa. Pengunduran diri Iman Rachman yang efektif pada Jumat (30/1/2026) memang meninggalkan celah strategis, namun penunjukan penggantinya harus melalui mekanisme formal yang melibatkan koordinasi ketat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kini, pelaku pasar modal menantikan langkah konkret dari dewan komisaris dan pemegang saham untuk segera menetapkan nahkoda baru guna menjaga sentimen positif di tengah dinamika ekonomi global tahun 2026 yang kian menantang.
Baca Juga: Disinggung MSCI, 38 Saham RI Melanggar Aturan Free Float
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Bagaimana Cara Menonton Film Pesta Babi? Ini Syarat dan Prosedurnya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Dukung Aktualisasi dan Kreativitas Mahasiswa, Pertamina Gelar Energy AdSport Challenge di ITB
-
BTN JAKIM 2026 Bakal Digelar 13-14 Juni, Masyarakat Diminta Perhatikan Ruas Jalan Terdampak
-
Purbaya Lanjutkan Efisiensi Anggaran MBG usai Dipotong Jadi Rp 268 T
-
Menteri Purbaya hingga Bahlil Rapat Keluhan Kadin China, Bahas Apa Saja?
-
Rumor Badan Ekspor Bikin IHSG Anjlok, Ini Saham Paling Boncos
-
Pertamina Gelar Sokoguru Policy Forum Bahas Ketahanan dan Transisi Energi Nasional
-
Bos Danantara Saham BUMN Perbankan Lagi Murah, Saatnya Beli?
-
Rosan Hingga Bahlil Ikut Tertutup Soal Badan Ekspor
-
Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak ke 117,31 Dolar AS per Barel
-
Rupiah Loyo, Duit Subsidi Bengkak! Stok Pertalite Tinggal 16 Hari