Suara.com - Lisa Mariana kena body shaming netizen di media sosial. Tak terima dengan tuduhan tersebut, Lisa Mariana pun menjelaskan bahwa sekarang tubuhnya memang lebih berisi beberapa alasan.
Pertama, alasan berat badan Lisa Mariana naik adalah karena baru saja melahirkan anak kedua. Ia juga tengah mengonsumsi antidepresan yang dinilai membuat badannya semakin gemuk.
"Pada sibuk mom shaming deh. Emang lagi overwight sayang. Kan abis melahirkan anak kedua hehe," tulis Lisa Mariana, melansir Instagram Story pada Selasa (8/4/2025).
"1. Aku gemuk pasca melahirkan. 2. Baby blues yang mengharuskan aku meminum antidepresan dari dokter dan berdampak ke BB (Berat Badan)," lanjut Lisa Mariana dalam unggahan lain.
Lisa Mariana sebenarnya tidak masalah dengan bentuk tubuhnya yang sekarang. Namun banyaknya netizen yang melakukan body shaming membuatnya harus membuat klarifikasi.
"Tapi aku tidak mempermasalahkan itu. Kalian mau mom shaming aku it's ok sayang, memang begini keadaannya. Janji langsing lagi," tegas Lisa Mariana.
Berangkat dari pernyataan Lisa Mariana, apakah benar antidepresan membuat gemuk? Simak penjelasan dari Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa bernama dr. Andri, Sp.KJ, FAPM berikut ini.
Apakah Antidepresan Bikin Gemuk
Penjelasan soal efek samping antidepresan disampaikan oleh dr. Andri melalui video di kanal YouTube pribadinya, Andri Psikosomatik. Dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut membenarkan antidepresan bisa membuat berat badan naik.
Menurut dr. Andri, pasien yang mengeluhkan naik berat badan usai mengonsumsi antidepresan kebanyakan perempuan. Biasanya efek tersebut muncul karena penggunaan beberapa golongan antidepresan, seperti SSRIs (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors), SNRIs (Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors), dan Mirtazapine.
Baca Juga: Apa Itu Menisbatkan Anak? Dibahas di Tengah Isu Perselingkuhan Ridwan Kamil
"Antidepresan katanya bikin gemuk. Apa betul? Nah teman-teman memang banyak keluhan pasien-pasien yang menggunakan antidepresan golongan SSRI, SNRI, kemudian juga golongan Mirtazapine atau misalnya juga ada yang menggunakan Maprotilin atau Amitriptilin. Mereka sering mengeluh susah mengendalikan nafsu makan dan juga menjadi gemuk," jelas dr. Andri.
"Sebenarnya kalau kita melihat dari berbagai penelitian, memang dikatakan ada sebagian besar pasien yang menggunakan antidepresan SSRI, SNRI tersebut biasanya mengalami kegemukan, terutama perempuan," imbuhnya.
Penjelasan yang sama juga disampaikan oleh apoteker sekaligus konten kreator bernama Anita Wijaya Djatmiko. Lulusan Profesi Apoteker UNAIR (Universitas Airlangga) itu menjabarkan dalam video YouTube pribadinya.
"Tiga golongan obat yang punya efek samping weight gain atau peningkatan berat badan. Yang pertama adalah golongan Insulin. Yang kedua adalah obat golongan Corticosteroids. Yang ketiga adalah obat-obatan antidepresan," jelas Anita Djatmiko, dilansir pada Selasa (8/4/2025).
Menurut penjelasan Anita Djatmiko, golongan-golongan obat ini bisa membuat gemuk karena beberapa alasan. Salah satunya adalah lantaran memiliki sifat water resistant atau mampu menahan cairan.
"Kenapa tiga obat tersebut bisa menyebabkan kegemukan atau peningkatan berat badan? Yang pertama karena dia mempengaruhi metabolisme tubuh. Yang kedua, obat-obatan yang bisa meningkatkan berat badan dia akan meretensi cairan," jelas Anita lagi.
"Jadi cairan itu tidak bisa keluar dengan seperti biasanya, jadi ditahan gitu. Sehingga menyebabkan beberapa jaringan mengandung air yang lebih tinggi sehingga (tubuh) terlihat menjadi lebih gemuk," imbuhnya.
Kendati memiliki efek samping, jangan sembarangan menghentikan konsumsi obat golongan-golongan di atas. Lebih baik lebih dulu konsultasi dengan dokter sebelum mengambil keputusan.
"Jadi apa solusinya? Kalian tetap harus meminum obat kalian, jangan sampai dihentikan karena manfaatnya lebih besar daripada efek sampingnya," kata Anita Djatmiko lagi.
"Yang kedua yang bisa kalian lakukan adalah segera konsultasikan ke dokter kalian bahwa setelah kalian konsumsi obat tersebut ada peningkatan berat badan, bagaimana solusinya. Apakah bisa diganti obat lain atau bisa diganti dengan terapi lainnya. Jadi jangan langsung disetop ya," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
Pilihan
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
Terkini
-
Puasa Ramadan Bikin Berat Badan Naik? Begini Penjelasan Ahli Gizi RSA UGM
-
Apakah Sepeda Listrik Lipat Boleh Masuk KRL? Cek 6 Rekomendasi yang Diizinkan
-
Bukan LPDP! 5 Beasiswa Fully Funded Ini Tidak Wajibkan Penerima Kembali ke Indonesia
-
45 Desain Amplop Lebaran Gratis Siap Print, Model Unik Bikin THR Makin Berkesan
-
7 Sepatu Lebaran Tanpa Tali untuk Orang Tua, Jalan Kaki Nyaman Bebas Ribet
-
Apakah Sepeda Listrik Bisa Meledak? Cek 6 Rekomendasi Selis Terbaik Bebas Korsleting
-
Rumus dan Cara Perhitungan THR Kurang dari 1 Tahun, Pekerja Baru Wajib Tahu!
-
5 Rekomendasi Sabun Muka pH Balance untuk Jaga Skin Barrier Tetap Sehat
-
Magrib Jogja Hari Ini Jam Berapa? Ada yang Buka Puasanya Lebih Cepat dari Kemarin
-
4 Rekomendasi Sabun untuk Wajah Berminyak dan Berjerawat