Suara.com - “Dulu hampir seluruh wilayah di pesisir Pidodo Kulon merupakan tambak yang dikelola petani tambak setempat. Namun, kini kondisinya tambak-tambak tersebut tertutup air laut. Tidak cuma itu, garis pesisir pantai pun berubah. Semakin maju. Air laut kini hampir menjamah pemukiman warga. Wilayah ini terancam abrasi karena pasang surut air laut.”
Wasito, 52 tahun, memandang ujung cakrawala Laut Jawa dari bibir pantai di Dukuh Pilangsari, Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Matanya menatap nanar. Mengenakan topi jerami dan baju biru, dia melangkah menginjak pasir yang dipenuhi cangkang biota laut serta sampah-sampah yang terbawa ombak ke daratan.
Berlawanan arah dengan ujung batas cakrawala, terbentang hamparan hijau mangrove. Tumbuhan itu tampak menjorok ke laut. Ada beragam jenis mangrove di sana. Sebut saja bakau, cemara laut hingga api-api. Mereka ditanam sudah bertahun-tahun. Tampak, bentuknya bak dinding alami yang mempersamuhkan daratan dan ombak.
Di wilayah pantai, tak jauh dari garis laut, tampak sejumlah tanaman mangrove jenis bakau yang baru ditanam beberapa bulan. Terlihat, jajaran tanaman mangrove tersebut membentuk barisan yang sangat rapi. Tanaman-tanaman tersebut yang kelak bakal menjadi garda terdepan menghadapi abrasi dan deru ombak yang menghantam daratan.
Wasito, yang merupakan Ketua Pusat Pemberdayaan Pelayanan Masyarakat Pesisir (P3MP) Kendal, menceritakan masa lalu. Saat itu, kondisi pesisir pantai mengalami abrasi. Sejumlah tambak yang menjadi lumbung pencaharian para petani di Dukuh Pilangsari, masih tersebar di pesisir pantai. Jumlahnya banyak, kata Wasito. Namun kini, kondisi tersebut hanya cerita dan nostalgia belaka. Tambak-tambak hilang. Air laut telah menyapu dan menutup keberadaannya.
“Pidodo Kulon merupakan muara Kali Bodri. Masalahnya kini ekosistem di sana rusak. Tambak terdampak abrasi. Tadinya, seluruh wilayah air laut ini merupakan tambak. Kini semuanya hilang tertutup air laut. Pemerintah desa ingin ada kegiatan penanaman mangrove sehingga tambak-tambak di wilayah Pidodo Kulon aman dari ancaman abrasi,” ujar Wasito kepada Suara.com, belum lama ini.
Bukan cuma tambak yang ditelan laut, pemukiman warga pun kini berada dalam ancaman nyata. Wasito mengatakan banjir rob sebelumnya tidak pernah sampai merangsek ke rumah-rumah warga. Namun, kondisi itu berubah drastis. Sekarang, hampir setiap hari, masyarakat bersiap-siap menghadapi genangan air laut yang datang saat pasang.
Mereka harus mengangkat perabotan rumah dan menyiapkan penghalang air di pintu. Mereka pula menjaga anak-anak agar tidak bermain di genangan yang bisa tiba-tiba datang. Situasi ini semakin mengkhawatirkan. Maklum, garis pantai terus mengalami abrasi. Buntutnya, jarak bibir pantai dengan pemukiman semakin dekat dari tahun ke tahun.
Selain itu, kesadaran masyarakat menjadi tantangan. Mereka harus menyadari alasan perlunya mangrove ditanamkan lebih masif dan berkelanjutan. Banyak warga di sekitar kawasan pesisir belum sepenuhnya memahami bahkan tidak menyadari, peran vital mangrove sebagai benteng alami yang melindungi daratan dari berbagai bencana ekologis.
Baca Juga: BNI GoGreen Konservasi Mangrove: Dorong Ekonomi Warga Banyuwangi, Dukung Keanekaragaman Hayati
Mangrove bukan hanya sekadar tanaman pinggir laut. Tapi, tanaman itu juga merupakan sistem penyangga yang mampu meredam gelombang besar, mencegah abrasi pantai, serta menyerap karbon dalam jumlah signifikan. Minimnya pemahaman ini yang bikin masyarakat abai terhadap keberadaan mangrove.
“Selama ini, masyarakat pesisir kurang peduli. Kali pertama saya menanam (mangrove), mereka belum memahami. Nah, setelah kita tanami, petani tambak berterima kasih. Sebab, tambak yang tidak ada tanaman mangrove, akan habis. Jika ada mangrove, (tambak) utuh,” kata Wasito yang berasal dari Desa Kartikajaya, tetangga Pidodo Kulon.
Sekadar informasi, pesisir pantai Pidodo Kulon merupakan muara Sungai Bodri. Berdasarkan data yang dikutip dari Pusdataru Jawa Tengah, Bodri adalah sungai yang memiliki panjang 171 kilometer dengan luas daerah aliran sungai (DAS) yakni 612 kilometer persegi. Sungai ini melintasi 6 kecamatan di Kendal, salah satunya yakni Kecamatan Patebon.
Komunitas warga pesisir di Pidodo Kulon merupakan salah satu mitra Program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) karena merupakan konservasi mangrove berbasis inisiasi warga. Dengan kemitraan tersebut, komunitas nelayan membuat rumah pembibitan mangrove, penanaman serta memberdayakan masyarakat setempat.
Dalam penerapannya, Wasito dibantu oleh Supriadi, seorang nelayan penggerak. Bersama Supriadi, P3MP Kendal tak cuma menanam, tapi juga memulai melakukan pembibitan tanaman mangrove. Mereka mendirikan rumah pembibitan mangrove. Dalam proses pembibitan ini, Supriadi menggerakkan para nelayan dan ibu-ibu untuk turut membantu.
Inisiasi Rumah Pembibitan
Sosoknya gempal. Rambut panjangnya membuat sosok Supri terlihat disegani. Kendati demikian, Supri merupakan pribadi yang sangat lembut dan baik hati. Tutur katanya sangat sopan. Sosok berusia 42 tahun tersebut menjelaskan begitu detail mengenai konservasi Mangrove yang digerakkan oleh Wasito. Konservasi mangrove mengubah kebiasaan di sana.
Berita Terkait
-
BNI GoGreen Konservasi Mangrove: Dorong Ekonomi Warga Banyuwangi, Dukung Keanekaragaman Hayati
-
Lahan Gambut dan Mangrove Kalimantan, Jalan Indonesia Menuju Masa Depan Bebas Emisi
-
BAF Donasikan 21 Ribu Bibit Mangrove, Ciptakan Kualitas Udara Lebih Baik
-
Telkom Tanam Ribuan Mangrove di Tarakan Lewat Program GoZero% Goes to Borneo
-
Ekosistem Kian Menipis, 1.600 Hektare Mangrove di Tanjung Pasir Kini Direstorasi
Terpopuler
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Melayat ke Yogya, Susi Pudjiastuti Kenang Sosok Nasirun
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- Kado Kemerdekaan: Pemutihan Pajak Kendaraan di Agustus 2026, Buruh dan Ojol Dapat Diskon Khusus
- Prabowo Singgung Nuklir Iran, Badan Atom Internasional Ungkap Faktanya
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Prabowo dan PM Thailand Sepakati Kemitraan Strategis Baru, Fokus Pangan hingga Energi
-
Jangan Korbankan Nyawa Demi Target! BGN Didesak Usut Tuntas Keracunan Massal MBG di Semarang
-
Trauma Kolektif: Pagar Tinggi Mal Ingatkan Warga pada Kerusuhan Agustus
-
Kasus Bayi Dijual Rp20 Juta Belum Tuntas, Polisi Didesak Usut Sosok Pemberi Uang
-
Dipukul Balok Kayu, Wanita di Palembang Gagalkan Aksi Begal hingga Pelaku Ditangkap
-
Dua Kata Tijjani Reijnders Usai Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3
-
Ingin Rumah Terasa Lebih Elegan? Tren Interior Kini Mengandalkan Permainan Cahaya dari Keramik
-
Haykal Ungkap Hal yang Bikin Tak Nyaman di Palembang, Pengemis hingga Sungai Jadi Sorotan
-
Kreativitas Generasi Muda Indonesia Berbuah Manis, Ribuan Pelajar Sukses Bangun Bisnis
-
Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Digebuk Vietnam: Wajib Menang di Singapura