Suara.com - Penyu adalah spesies kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Namun populasinya terus terancam oleh aktivitas manusia dan perubahan iklim. Untuk menjawab tantangan ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjalin kemitraan strategis dengan Yayasan Penyu Papua (YPP), difokuskan pada kawasan konservasi di Raja Ampat dan Waigeo Barat, Papua Barat Daya.
“Ini sejalan dengan visi pengelolaan laut yang sehat dan produktif,” kata Koswara, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Senin (Jakarta).
Kerja sama ini menjadi bentuk nyata kolaborasi pemerintah dengan organisasi lokal, guna memperkuat konservasi berbasis wilayah. Perjanjian Kemitraan ini ditandatangani di Kantor YPP, Raja Ampat, dan berlaku selama tiga tahun, dengan evaluasi berkala untuk menjamin akuntabilitas.
Kegiatan yang dijalankan mencakup pemantauan populasi penyu dan habitatnya, perlindungan ekosistem laut, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, wilayah Raja Ampat menjadi lokasi penting bagi program pelestarian ini.
“Penyu merupakan spesies kunci dalam ekosistem laut. Kemitraan ini sangat penting untuk memastikan langkah konservasi kita berbasis ilmu pengetahuan dan melibatkan masyarakat sebagai garda depan pelestarian,” ujar Sarmintohadi, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP.
Kepala BKKPN Kupang Imam Fauzi menyebut kemitraan ini membuka peluang lebih luas untuk pengumpulan data dan kerja sama jangka panjang.
“Walau penyu belum menjadi target utama konservasi kami, upaya ini penting sebagai langkah awal untuk mendapatkan data valid tentang populasi dan genetika penyu. Ini juga membuka peluang kerja sama lanjutan dengan mitra pendukung seperti Blue Abadi Fund,” katanya.
Sementara itu, Ketua YPP Ferdiel Ballamu menilai kolaborasi ini sebagai bentuk pengakuan atas kerja YPP selama ini, serta momentum untuk memperkuat dampak ke masyarakat.
Pihaknya berharap program ini membawa manfaat konkret, tak hanya bagi spesies yang dilindungi, tapi juga warga lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan, demi perlindungan spesies laut prioritas.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
7 Bedak yang Cocok untuk Kulit Berminyak dan Tahan Lama, Pori-pori Tersamarkan
-
5 Urutan Skincare Glad2Glow Pagi yang Benar agar Kulit Sehat dan Glowing Maksimal
-
7 Aplikasi Rasionalisasi UTBK-SNBT Gratis, Ukur Peluang Lolos Kampus Impian
-
Kapan Penutupan Pendaftaran SNBT 2026? Cek Cara Daftar dan Dokumen yang Dibutuhkan
-
Urutan Skincare Malam Basic yang Benar untuk Pemula, Kulit Auto Cerah di Pagi Hari
-
Bagaimana Cara Memilih Parfum Sesuai Kepribadian? Ini 5 yang Cocok untuk Si Energik
-
Urutan Skincare Pagi untuk Remaja, Cek 6 Rekomendasinya yang Cocok Buat Anak Sekolah
-
Bagaimana Cara Memakai Foundation agar Tahan Lama? 5 Produk Ini Nempel Seharian
-
Mengenal Nafta Minyak Bumi, Biang Kerok Harga Plastik Naik Drastis
-
5 Parfum Pria Kalem yang Tahan Lama dari Brand Lokal