- Harga minyak dunia naik pada Rabu, 10 Desember 2025, dipicu kekhawatiran pasokan berlebih dan penantian kesepakatan damai Rusia-Ukraina.
- Minyak mentah Brent dan WTI mengalami kenaikan harga tipis; pasokan Rusia berisiko terhambat jika pembeli tidak ditemukan.
- Ukraina akan menyerahkan rencana perdamaian ke AS; kesepakatan dapat mencabut sanksi yang memengaruhi pasokan minyak global.
Suara.com - Harga minyak dunia tercatat naik pada perdagangan Rabu 10 Desember 2025.
Kenaikan harga dipicu kekhawatiran pasar atas pasokan yang melebihi permintaan dan para investor yang masih menanti perdamaian antara Rusia dengan Ukraina.
Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent naik 11 sen, atau 0,2 persen, menjadi 62,05 dolar AS per barel pada pukul 02.41 GMT.
Lalu, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 13 sen, atau 0,2 persen, menjadi 58,38 dolar AS per barel.
Analis ING dalam sebuah catatan, mengatakan Meskipun pasar minyak semakin mendekati kelebihan pasokan seperti yang diperkirakan, pasokan dari Rusia tetap menjadi risiko.
"Meskipun volume ekspor minyak Rusia melalui laut tetap terjaga, minyak-minyak ini kesulitan menemukan pembeli," tulis ING.
Disebutkan juga produksi minyak Rusia akan mulai turun jika pembeli tidak ditemukan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa setelah melalui diplomasi intensif selama beberapa hari, Ukraina dan mitra-mitra Eropanya akan segera menyerahkan "dokumen yang sudah disempurnakan", mengenai rencana perdamaian untuk mengakhiri perang dengan Rusia kepada Amerika Serikat (AS).
Disebutkan, kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia berpotensi mengakibatkan dicabutnya sanksi internasional terhadap perusahaan-perusahaan Rusia.
Baca Juga: PGN Bawa Pasokan Logistik ke Desa Terisolir di Perbatasan Sumut Aceh
Jika ini terjadi, pasokan minyak yang saat ini tertahan dapat kembali dilepas ke pasar.
Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) menyatakan bahwa mereka memperkirakan produksi minyak AS akan mencapai rekor yang lebih tinggi tahun ini dari yang diprediksi sebelumnya, menaikkan perkiraan rata-rata produksi 2025 menjadi 13,61 juta barel per hari , naik 20.000 barel .
Namun, organisasi tersebut menurunkan proyeksi total produksi untuk tahun 2026 sebesar 50.000 barel, menjadi rata-rata 13,53 juta barel per hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
Terkini
-
Mandalika Racing Series 2026 Resmi Digelar, Pertamina Perkuat Pembinaan Pembalap Muda Indonesia
-
BNLI Bukukan Laba Bersih Rp920 Miliar pada Kuartal I 2026, Cek Likuiditasnya
-
AI Generatif Tingkatkan Proyeksi Karir dan Kinerja Developer Hingga dari 50 Persen
-
OJK Klaim Perbankan Kebal Guncangan: Kokoh di Atas Kertas, Waspada di Lapangan
-
Purbaya Ngotot Kejar Perusahaan Baja China Pengemplang Pajak
-
Syarat Subsidi PPN Tiket Pesawat saat Harga Avtur Naik Gila-gilaan
-
Pemerintah Batasi Pembelian Beras SPHP, Ini Alasannya
-
Emas Jadi Primadona Saat Dunia Bergejolak, Minat Investasi Melonjak
-
Perusahaan Ritel China Gencar Ekspansi Buka Toko Fisik di RI
-
Perhatian Emak-emak! Beli Beras SPHP Dijatah Hanya 5 Buah