Suara.com - Perundungan atau bullying di sekolah masih menjadi momok di kalangan remaja Indonesia yang akhirnya berdampak pada kesehatan mental korban. Mirisnya, petugas masih menemukan bullying yang dilakukan ‘Si Kaya’ kepada ‘Si Miskin’ di lingkungan sekolah.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, dr. Herwin Meifendy, MPH mengatakan bullying di sekolah ini menyebabkan anak stres dan mengganggu perkembangan mental hingga berisiko menyisakan trauma. Hasilnya edukasi dan sosialisasi kepada guru berusaha dilakukan pihak dr. Herwin.
“Karena yang melakukan bullying ini, kadang-kadang, orang tuanya yang kaya-kaya gitu kan, yang dibully yang nggak mampu. Nah itu salah satu cara, menurut saya ini kita edukasi. Termasuk dia yang membully ini,” ujar dr. Herwin saat konferensi pers Healthy Me Fest 2025: Aku Muda, Aku Bijak, Aku Bahagia di Jakarta Timur, Sabtu (2/8/2025).
Masih ditemukannya kasus bullying inilah yang akhirnya membuat Petugas Pemegang Program Jiwa Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Asri Hendrasari melakukan pemetaan, dan berencana membuat stratifikasi atau kriteria sekolah sehat yang salah satu poinnya memiliki pokja anti-bullying.
“Kami saat ini sedang melakukan mapping terkait dengan stratifikasi sekolah sehat. Nah, di situ banyak sekali strata yang harus atau penilaian-penilaian harus dipenuhi oleh sekolah. Salah satunya adalah sekolah harus mempunyai pokja (kelompok kerja) anti-bullying,” ungkap Asri.
Pokja anti-bullying di sekolah sehat ini adalah pelajar yang bertugas di UKS. Mereka nantinya akan mendapat pembinaan dari petugas Puskesmas terkait kasus perundungan yang terjadi. Bahkan kata Asri, tak jarang pokja ini bertugas sebagai ‘mata-mata’ keseharian temannya di sekolah.
“Nah, mereka ini nanti tugasnya harus menjadi mata-mata ya, mata-mata untuk teman sebayanya. Kira-kira adakah kasus bullying yang diam-diam tanpa pengetahuan yang dilakukan oleh teman sebayanya,” ungkap Asri.
Selanjutnya setelah mereka menemukan kasus, pokja anti-bullying di UKS bakal melaporkan kepada guru secara diam-diam. Apalagi sekolah tingkat SMP hingga SMA umumnya sudah memiliki kelompok pertemanan atau bahkan organisasi tersembunyi.
“Baik itu kita bilang ‘positif’ atau ‘negatif’, tapi akhirnya biasanya kebanyakannya yang kita informasikan, yang kita dapatkan itu adalah yang (kegiatan) positif, negatif,” kata Asri.
Baca Juga: Dampak Kebijakan Rombel Dedi Mulyadi: Merugikan Sekolah Swasta, Kini Berujung di PTUN
Menyadari perilaku negatif bullying di sekolah berdampak pada kesehatan mental generasi penerus, maka semakin mengingatkan pentingnya edukasi dan workshop seputar kesehatan mental terkait dengan aktivitas digital seperti di media sosial.
Apalagi hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2024, menunjukkan lebih dari 79,5 persen populasi Indonesia kini telah terhubung dengan internet. Di sisi lain, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan jumlah pengguna aktif TikTok tertinggi di dunia, dengan lebih dari 157 juta pengguna per Juli 2024.
Selain itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 juga menunjukkan bahwa 29% remaja usia 10 hingga 19 tahun di Indonesia mengalami gejala gangguan kesehatan mental.
Fenomena ini menandakan perlunya perhatian lebih terhadap dampak psikologis dari kehidupan digital, serta pentingnya membekali generasi muda dengan ketahanan mental yang kuat.
“Kami percaya bahwa investasi terbaik adalah pada generasi muda. Melalui Healthy Me Fest 2025, kami ingin berkontribusi menciptakan ruang edukatif dan suportif, agar anak muda Indonesia memiliki daya tahan mental yang kuat di tengah derasnya arus digital," ungkap Presiden Direktur PT Volvo Indonesia, Cahyo Harbianto.
Festival yang juga didukung PT Indomobil Edukasi Utama ini dimulai dari SMKN 26 Jakarta dan akan berlanjut ke kota-kota besar lain sepanjang Agustus–September 2025. Program ini menggabungkan seminar interaktif, sesi berbagi pengalaman nyata (lived experience) bersama penyintas, hingga diskusi bersama psikolog dari Sehat Jiwa. Dalam setiap kota, ditargetkan lebih dari 350 peserta dari kalangan pelajar, guru, mahasiswa, dan komunitas lokal.
Di sisi lain, fenomena paparan media sosial yang tidak terarah dan diatur dengan baik membuat para pelajar sulit berkonsentrasi saat menerima materi di dalam kelas. Hasilnya edukasi digital sudah menjadi keniscayaan dan tidak bisa diganggu gugat.
"Banyak sekali dari efek penggunaan gadget yang berlebihan, gangguan konsentrasi dalam belajar. Sering sekali anak-anak tersebut kalau sudah pegang hape di luar pengawasan orang tua, menggunakan gadget itu lebih dari jam 12 malam," ungkap Asri.
"Sehingga saat pagi-pagi ngantuk biasanya bukan karena anemia aja ya, tetapi efek dari mereka menggunakan gadget di luar pengawasan orang tua, sehingga itu bisa mengganggu konsentrasi belajar," sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Cara Atasi Uap Keluar dari Gagang Panci Presto agar Daging Cepat Empuk
-
Saat Ekonomi Sulit, Mal Andalkan Hiburan Anak untuk Dongkrak Belanja?
-
5 Tips Layering Parfum agar Wanginya Tidak Pasaran, Ini Aroma yang Cocok Dipadukan
-
Jerawat Tak Kunjung Sembuh? 4 Rekomendasi Vitamin dari Dokter Estetika untuk Wajah Berjerawat
-
12 Destinasi Wisata Hits di Jakarta untuk Libur Sekolah, dari Pantai hingga Hutan Mangrove
-
Bedak Padat Purbasari Bisa Dipakai untuk Umur Berapa? Lengkap dengan 4 Keunggulannya
-
Beda Cream, Liquid, dan Powder Blush: Kenali Tekstur, Hasil Akhir, dan Cara Pakainya
-
Instaperfect Cushion untuk Kulit Apa? Ini Varian, Manfaat, dan Kelebihannya Menurut Review
-
7 Cara Membedakan Sepatu Ortuseight Asli dan KW agar Tidak Salah Beli
-
Sering Pakai Masker Hitam Bikin Jerawat Makin Parah? Ini Penjelasan Dokter Spesialis Kulit