Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 08 Agustus 2025 | 16:14 WIB
Potret Acha Septriasa dan Vicky Kharisma. [Instagram]

3. Tentukan Aturan dan Nilai yang Konsisten

Anak membutuhkan konsistensi dalam pengasuhan, meskipun tinggal di dua rumah berbeda. Maka dari itu, penting bagi Anda dan mantan pasangan untuk menyepakati aturan dasar bersama misalnya soal jam tidur, penggunaan gadget, dan kebiasaan belajar.

Hal ini bukan berarti setiap rumah harus identik, tetapi nilai dasar yang sama akan membantu anak merasa lebih aman dan tidak bingung.

Konsistensi juga memperkuat pesan-pesan positif yang Anda ingin tanamkan dalam diri anak.

4. Hindari Konflik di Depan Anak

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam co-parenting adalah bertengkar di depan anak. Ini dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam dan membuat anak merasa terjebak di antara kedua orang tuanya.

Jika emosi sedang tinggi, lebih baik tunda pembicaraan dan cari waktu yang lebih kondusif untuk berdialog.

Acha dan Vicky dikenal menjaga privasi serta tidak menjadikan anak sebagai pelampiasan emosi. Mereka memilih berdiskusi secara dewasa di luar jangkauan anak, sebuah sikap bijak yang patut ditiru.

5. Hormati Batasan dan Peran Masing-Masing

Baca Juga: Kasus Acha Septriasa Cerai, Ini Hukum Talak 5 Kali Menurut Islam dan Undang-Undang

Setelah bercerai, penting untuk memahami bahwa mantan pasangan bukan lagi bagian dari kehidupan pribadi Anda, tapi tetap merupakan orang tua dari anak Anda.

Hormati batasan tersebut dan hindari mengatur-atur kehidupan pribadi mereka, selama tidak membahayakan anak.

Sebaliknya, Anda juga berhak memiliki ruang dan keputusan sendiri dalam rumah tangga Anda. Dengan saling menghormati, co-parenting bisa berjalan lebih damai dan produktif.

6. Libatkan Anak dalam Keputusan yang Relevan

Terkadang, co-parenting mengharuskan kita membuat keputusan penting, seperti pindah sekolah atau liburan keluarga.

Dalam situasi ini, ajak anak berdiskusi sesuai dengan usianya. Libatkan mereka agar merasa dihargai dan tidak terasing dari keputusan orang tuanya.

Tentu saja, keputusan akhir tetap ada pada orang tua, tetapi dengan mendengarkan suara anak, Anda turut membantu membangun kepercayaan dan rasa aman dalam dirinya.

7. Jaga Kesehatan Mental dan Dukung Satu Sama Lain

Co-parenting bisa jadi melelahkan secara emosional. Maka dari itu, penting bagi kedua pihak untuk menjaga kesehatan mental masing-masing.

Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor keluarga jika diperlukan.

Memberi dukungan satu sama lain juga bisa memperkuat kerja sama dalam pengasuhan. Tidak ada salahnya sesekali mengucapkan terima kasih atau menghargai kontribusi mantan pasangan dalam merawat anak.

Menariknya, Acha Septriasa juga pernah membagikan pentingnya healing journey setelah bercerai.

Ia menyebut bahwa menerima, memaafkan, dan move on adalah bagian penting dari membangun masa depan yang sehat, baik untuk dirinya maupun anaknya.

Co-parenting bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil. Dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, serta menempatkan kebutuhan anak sebagai prioritas utama, Anda dan mantan pasangan tetap bisa menjadi tim yang solid untuk anak.

Seperti yang diperlihatkan oleh Acha Septriasa dan Vicky Kharisma, keberhasilan co-parenting terletak pada kesadaran untuk tetap hadir sebagai orang tua, meski tidak lagi sebagai pasangan.

Mereka adalah contoh nyata bahwa cinta orang tua tidak berkurang karena perceraian, melainkan hanya berubah bentuk.

Jika Anda sedang menjalani fase ini, semoga 7 tips sukses co-parenting setelah bercerai di atas dapat membantu menciptakan hubungan yang sehat, harmonis, dan penuh cinta untuk anak tercinta.

Kontributor : Rishna Maulina Pratama

Load More