- Secara hukum, Keppres 316 Tahun 1959 menetapkan Sumpah Pemuda sebagai hari nasional tidak libur.
- Tujuannya agar semangat Sumpah Pemuda diperingati secara aktif melalui kegiatan, bukan perayaan pasif.
- Makna persatuan diwujudkan lewat aksi nyata sehari-hari, bukan sekadar tanggal merah di kalender.
Suara.com - Setiap tahun menjelang tanggal 28 Oktober, satu pertanyaan klasik kembali mengemuka di kalangan masyarakat, pelajar, hingga pekerja: "Apakah Hari Sumpah Pemuda libur nasional?"
Jawabannya, secara konsisten dari tahun ke tahun, adalah tidak. Namun, di balik jawaban singkat itu, tersimpan alasan historis dan filosofis yang mendalam.
Mengapa salah satu tonggak sejarah terpenting bangsa ini tidak ditandai dengan tanggal merah di kalender?
Keputusan ini bukanlah sebuah kelalaian, melainkan sebuah pilihan sadar yang dirancang agar esensi Sumpah Pemuda tidak hanya dikenang, tetapi juga terus dihidupkan.
Dasar Hukum yang Mengukuhkan Statusnya
Secara yuridis, status Hari Sumpah Pemuda sebagai hari nasional yang tidak termasuk hari libur diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959.
Keppres yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno ini secara spesifik menggolongkan beberapa hari bersejarah, termasuk 28 Oktober, sebagai "Hari-hari Nasional yang bukan hari libur."
Penetapan ini diperkuat setiap tahunnya melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama terbaru.
Dalam SKB untuk tahun 2025, misalnya, tanggal 28 Oktober yang jatuh pada hari Selasa tidak tercantum sebagai hari libur. Dengan demikian, seluruh aktivitas perkantoran, sekolah, dan layanan publik tetap berjalan seperti biasa.
Namun, memandang Keppres ini hanya sebagai aturan administratif akan membuat kita kehilangan makna yang lebih besar.
Baca Juga: Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 Apakah Libur Tanggal Merah? Cek Aturannya
Keputusan ini justru menggarisbawahi bahwa ada cara lain untuk menghormati sejarah selain dengan meliburkan aktivitas.
Sumpah Adalah Komitmen Aktif, Bukan Perayaan Pasif
Inilah sudut pandang baru yang perlu kita pahami. Sumpah Pemuda pada hakikatnya adalah sebuah ikrar atau janji.
Berbeda dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus yang merupakan sebuah deklarasi puncak perjuangan, Sumpah Pemuda adalah sebuah komitmen berkelanjutan untuk bersatu dan berjuang.
"Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia."
Ikrar ini bukanlah sesuatu yang dirayakan dengan berdiam diri di rumah. Sebaliknya, ia menuntut aksi, refleksi, dan peneguhan kembali secara terus-menerus.
Dengan tidak menjadikannya hari libur, pemerintah sejak era Soekarno seolah ingin mendorong agar semangat Sumpah Pemuda justru diperingati secara aktif di pusat-pusat kegiatan masyarakat:
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi
-
Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?
-
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
-
Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan
-
Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis
-
Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah
-
Pekerja Perempuan Dominasi Perkebunan Sawit, Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Upah
-
PTBA Dorong Budaya Inovasi Lewat BIGMIND Innovation Award 2026, Ubah Ide Jadi Dampak
-
AHY Klarifikasi Maksud Pidato, Apa Respons Prabowo?
-
Ada 100 Ton Sampah Menumpuk di TPST Sempadan Sungai Cisadane