Suara.com - Sebuah penelitian besar dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa rutin berolahraga di usia pertengahan hingga lanjut dapat mengurangi risiko demensia hingga 45 persen. Mengutip dari Science Alert (21/11/2025), temuan ini berasal dari Framingham Heart Study, salah satu studi kesehatan jangka panjang paling terkenal di dunia.
Penelitian ini menegaskan kembali pesan klasik para dokter: aktivitas fisik baik untuk otak. Namun lebih dari itu, studi ini juga menjawab sejumlah pertanyaan penting yang selama ini menjadi perdebatan, termasuk apakah olahraga tetap bermanfaat bagi mereka yang memiliki risiko genetik terhadap demensia.
Mengutip Science Alert (21/11/2025), analisis ini mencakup 4.290 peserta dari Framingham Heart Study Offspring Cohort. Program ini dimulai pada 1948, ketika lebih dari 5.000 warga Framingham, Massachusetts, direkrut untuk mempelajari faktor risiko jangka panjang penyakit jantung.
Pada 1971, generasi kedua — anak-anak dan pasangan dari peserta awal — juga ikut serta dan menjalani pemeriksaan rutin setiap empat hingga delapan tahun.
Dalam studi terbaru, peserta memberikan laporan sendiri mengenai tingkat aktivitas fisik mereka, termasuk kegiatan ringan seperti naik tangga hingga olahraga intens. Data tersebut kemudian dianalisis berdasarkan tiga kelompok umur:
- Usia muda (26–44 tahun) – data diambil pada akhir 1970-an
- Usia pertengahan (45–64 tahun) – diperiksa pada akhir 1980-an hingga 1990-an
- Usia lanjut (65+ tahun) – dievaluasi pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an
Para peneliti kemudian mencatat siapa yang mengembangkan demensia dan pada usia berapa diagnosis diberikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik tertinggi pada usia pertengahan dan lanjut berkaitan dengan penurunan risiko demensia antara 41 hingga 45 persen dibandingkan mereka yang jarang bergerak. Hubungan ini tetap kuat bahkan setelah peneliti menyesuaikan faktor risiko lain, seperti usia, tingkat pendidikan, tekanan darah tinggi, dan diabetes.
Sebaliknya, olahraga di usia muda ternyata tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap risiko demensia di kemudian hari. Para ilmuwan menduga bahwa perubahan biologis yang terkait dengan penuaan — seperti perubahan pembuluh darah otak dan peradangan kronis — mungkin membuat aktivitas fisik pada usia lebih tua justru lebih berperan sebagai pelindung.
Dari seluruh peserta, 13,2 persen (567 orang) akhirnya mengalami demensia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional Amerika dan beberapa negara lain, kemungkinan karena lamanya masa pemantauan dan kecermatan proses diagnosis.
Baca Juga: Aero Sport di Era Liburan Keluarga: Ketika Langit Jadi Ruang Rekreasi Baru
Salah satu aspek unik studi ini adalah analisis terhadap peran gen APOE ε4, alel yang diketahui meningkatkan risiko Alzheimer. Temuannya mengejutkan:
- Di usia pertengahan, aktivitas fisik hanya menurunkan risiko demensia pada peserta tanpa alel APOE ε4.
- Namun di usia lanjut, olahraga memberikan manfaat baik bagi pembawa maupun non-pembawa gen tersebut.
Artinya, meski seseorang memiliki kecenderungan genetik terhadap Alzheimer, tetap ada manfaat besar dari tetap aktif secara fisik saat memasuki usia 65 tahun ke atas.
Para peneliti menilai temuan ini dapat membantu menggambarkan strategi yang lebih tepat sasaran dalam kampanye kesehatan masyarakat, terutama untuk kelompok dengan risiko genetik.
Meski hasilnya kuat, studi ini memiliki beberapa batasan. Aktivitas fisik dilaporkan oleh peserta sendiri, sehingga potensi salah ingat tidak dapat dihindari. Penelitian juga tidak dapat menentukan jenis olahraga apa yang paling efektif.
Selain itu, sebagian besar peserta adalah warga keturunan Eropa dari satu kota yang sama, sehingga generalisasi ke populasi global perlu dilakukan dengan hati-hati.
Kasus demensia pada peserta usia muda pun relatif jarang, sehingga peneliti tidak dapat menarik kesimpulan yang kuat tentang pengaruh olahraga di usia 20–30-an.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- 3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
Beda Two Way Cake dan Powder Foundation, Mana yang Lebih Bagus?
-
Bedanya Scarlett Whitening Acne Serum vs Brightly Ever After, Mana yang Cocok untuk Kulit Anda?
-
Dikaitkan dengan Ritual Pesugihan, Viral Daftar Harga Layanan Ritual di Gunung Kawi
-
Masalah Rambut Tak Selalu Sama, Ini Pentingnya Memilih Perawatan Sesuai Kebutuhan
-
4 Toko Online Terpercaya untuk Beli Sepatu Lari di Indonesia, Dijamin Original
-
5 Mesin Cuci Portable yang Muat 4,5 Kg Baju, Cocok untuk Kos-kosan atau Paviliun
-
5 Manfaat Memutar Musik saat Kerja, Bantu Kurangi Stres dan Tingkatkan Produktivitas
-
5 Skincare Hada Labo untuk Mencerahkan Kulit Wajah yang Kusam
-
3 Lipstik Awet dan Anti Luntur untuk Ngopi Cantik, Gak Repot Touch Up saat Nongkrong
-
5 Jenis Sepatu Lari dan Fungsinya Sesuai Kebutuhan, Jangan Salah Pilih!