Di era modern ini, aktivitas fisik tidak hanya sekedar tentang kesehatan, tetapi juga membangun komunitas.
Dilansir Channelnewsasia, Merek pakaian olahraga semakin menyadari pentingnya peran komunitas dalam menarik dan mempertahankan pelanggan.
Dari lari hingga yoga, sportswear mulai menghadirkan berbagai kegiatan yang tidak hanya memfasilitasi olahraga, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di antara para penggunanya.
Pakaian Olahraga Menjadi Jembatan Sosial
Dalam lingkungan yang penuh dengan ekonomi dan sosial, konsumen semakin banyak memilih merek yang mereka dukung. Mereka tidak hanya membeli produk; mereka ingin bergabung dalam komunitas yang memiliki nilai-nilai yang sama.
Merek seperti On, Adidas, dan Lululemon telah mengambil langkah untuk membangun hubungan nyata dengan konsumen melalui klub lari, kelas yoga, dan acara komunitas lainnya.
Misalnya, On baru-baru ini meluncurkan On Running Club di Singapura, yang mengundang pelari dari berbagai level untuk berkumpul setiap dua minggu.
Dengan pendekatan ini, mereka tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga menciptakan ruang di mana semua orang dapat merasa terinspirasi dan didukung.
Merek ini menekankan bahwa komunitas yang inklusif adalah inti dari apa yang mereka tawarkan.
Baca Juga: 5 Sepatu Lari Paling Nyaman untuk Kaki Lebar dan Badan Gemuk, Harga Terjangkau
Berbagai Kegiatan Menarik untuk Masyarakat
Adidas juga telah membangun komunitas yang kuat melalui Adidas Runners SG, yang kini memiliki lebih dari 9.000 anggota.
Kegiatan ini menawarkan berbagai kecepatan grup untuk memastikan bahwa semua pelari dapat bergabung dan merasakan atmosfer kebersamaan.
Dengan tagline "Setiap Pace Memiliki Tempat", Adidas menjunjung tinggi prinsip inklusi, di mana semua anggota merasa dihargai, terlepas dari kekuatan mereka.
Sementara itu, Lululemon membawa konsep retail-meets-wellness ke tingkat berikutnya dengan membangun studio yoga di toko andalan mereka.
Konsumen tidak hanya dapat berbelanja pakaian olahraga berkualitas, tetapi juga terlibat dalam kelas-kelas yang dipimpin oleh instruktur berpengalaman.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans, Apa Itu Child Grooming dan Bahayanya Pada Anak?
-
5 Sampo Jepang untuk Atasi Rambut Rontok dan Uban Usia 40 Tahun ke Atas
-
5 Rekomendasi Promo Alat Elektronik di Opening Hartono Pakuwon Mall Jogja, Diskon hingga 80 Persen!
-
5 Rekomendasi Hair Oil Penumbuh Rambut untuk Lansia, Akar Jadi Kuat
-
Apa Pendidikan Aurelie Moeremans? Berani Tulis Buku Broken Strings tentang Grooming
-
9 Potret Aurelie Moeremans yang Jadi Korban Grooming Usia 15 Tahun
-
Silsilah Keluarga Aurelie Moeremans, Jadi Korban Grooming Usia 15 Tahun
-
5 Perawatan Rambut Sehat Versi dr Tirta, Ampuh Cegah Rontok di Usia Matang
-
7 Trigger Warning Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans
-
Sinopsis Broken Strings, Buku Aurelie Moeremans yang Angkat Isu Grooming