- Buku memoar Aurelie Moeremans, Broken Strings, yang dirilis gratis, menceritakan pengalaman traumatis sejak usia 15 tahun.
- Isi buku meliputi grooming, manipulasi emosional, kekerasan fisik dan seksual yang dialami Aurelie oleh pelaku bernama Bobby.
- Penting adanya trigger warning karena buku ini menyajikan secara mentah kisah trauma, kekerasan, dan proses penyembuhan yang sensitif.
Suara.com - Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans telah menjadi perbincangan hangat di kalangan pembaca Indonesia sejak dirilis secara gratis.
Memoar pribadi ini menceritakan pengalaman traumatis Aurelie sebagai penyintas grooming dan hubungan abusif yang dimulai sejak usianya masih sangat muda, sekitar 15 tahun.
Dengan gaya penulisan yang jujur, santai, dan seperti curhatan harian, buku ini bukan hanya kisah pilu, tapi juga inspirasi tentang proses penyembuhan dan kekuatan untuk bangkit.
Namun, karena isinya yang sensitif, Aurelie sendiri menekankan pentingnya trigger warning agar pembaca bisa mempersiapkan diri secara mental.
Trigger warning adalah peringatan tentang konten yang mungkin memicu trauma atau ketidaknyamanan, terutama bagi mereka yang pernah mengalami hal serupa.
Dalam buku ini, Aurelie membuka luka lama tentang seorang pria dewasa bernama samaran Bobby yang awalnya tampak penuh perhatian, tapi lambat laun berubah menjadi sosok manipulatif dan abusif.
Kisah ini menggambarkan bagaimana masa muda Aurelie dicuri oleh pengalaman traumatis yang merampas kebebasan dan rasa amannya.
Bagi pembaca, trigger warning sangat krusial karena buku ini tidak meromantisasi kekerasan, melainkan menyajikannya secara mentah dari sudut pandang korban.
Jika kamu berencana membaca Broken Strings, berikut adalah 7 trigger warning utama yang perlu diperhatikan, beserta penjelasannya.
Baca Juga: Sinopsis Broken Strings, Buku Aurelie Moeremans yang Angkat Isu Grooming
1. Grooming Anak
Ini adalah salah satu trigger utama yang mendominasi cerita. Grooming merujuk pada proses di mana pelaku dewasa membangun kepercayaan dengan anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi.
Dalam buku, Aurelie menceritakan bagaimana Bobby, seorang pria dewasa, mendekatinya saat ia baru saja tiba di Indonesia dan berusaha menjadi artis.
Proses ini dimulai dengan perhatian palsu yang membuatnya merasa aman, tapi berujung pada kontrol total.
Bagi pembaca yang pernah mengalami atau dekat dengan kasus grooming, bagian ini bisa sangat memicu rasa marah, sedih, atau flashback trauma masa kecil.
2. Manipulasi Emosional
Aurelie secara detail menggambarkan bagaimana Bobby menggunakan taktik manipulasi untuk mengendalikan emosinya. Ini termasuk gaslighting, isolasi dari keluarga dan teman, serta permainan psikologis yang membuat Aurelie merasa tidak percaya diri dan bergantung padanya.
Trigger ini bisa membuat pembaca yang pernah berada dalam hubungan toksik merasa cemas atau teringat pengalaman buruk mereka.
Buku ini menekankan betapa lambat proses manipulasi ini terjadi, sehingga pembaca mungkin merasa frustrasi melihat bagaimana korban sulit keluar dari lingkaran tersebut.
3. Kekerasan Fisik
Meski tidak selalu eksplisit, ada deskripsi tentang kekerasan fisik yang dialami Aurelie sebagai bagian dari hubungan abusif.
Kekerasan ini mencakup tindakan yang merusak tubuh dan meninggalkan luka fisik, yang digambarkan tanpa sensor untuk menunjukkan realitas kekerasan domestik.
Bagi penyintas kekerasan fisik, bagian ini bisa memicu respons fisik seperti ketakutan atau sakit hati.
Aurelie menulisnya sebagai bagian dari proses belajar menyelamatkan diri, tapi tetap saja, ini adalah konten yang berat.
4. Kekerasan Seksual
Salah satu aspek paling sensitif dalam buku adalah penggambaran kekerasan seksual yang dialami Aurelie. Ini termasuk eksploitasi seksual dalam konteks hubungan tidak sehat, di mana consent (persetujuan) sering diabaikan.
Trigger ini sangat kuat bagi korban pelecehan seksual, karena bisa membangkitkan ingatan traumatis.
Buku ini menyoroti bagaimana kekerasan ini sering disertai dengan rasa malu dan rasa bersalah yang salah tempat pada korban.
5. Trauma Masa Kecil dan Kehilangan Masa Muda
Cerita dimulai dari usia remaja Aurelie, yang membuatnya kehilangan masa muda yang seharusnya penuh kegembiraan.
Trigger ini melibatkan tema childhood trauma, di mana pengalaman buruk membentuk kepribadian dan kehidupan dewasa.
Pembaca yang memiliki trauma serupa mungkin merasa sedih atau marah atas ketidakadilan yang digambarkan, terutama bagaimana Aurelie merasa dicuri waktunya oleh pelaku.
6. Kontrol dan Isolasi
Bobby digambarkan sebagai sosok yang mengendalikan segala aspek kehidupan Aurelie, termasuk karier, pertemanan, dan bahkan pikirannya.
Ini adalah bentuk abuse psikologis yang membuat korban merasa terjebak.
Trigger ini bisa memengaruhi pembaca yang pernah mengalami kontrol berlebih dalam hubungan, menyebabkan rasa claustrophobia emosional saat membaca.
7. Proses Penyembuhan dari Abuse
Meski buku ini juga tentang survival dan healing, deskripsi proses keluar dari siklus abuse bisa menjadi trigger bagi yang masih berjuang.
Ini termasuk perasaan takut mengecewakan orang tua, diam karena malu, dan pertanyaan-pertanyaan seperti "kenapa tidak langsung kabur?".
Namun, bagian ini juga memberikan harapan, menunjukkan bahwa penyembuhan mungkin meski lambat.
Pada intinya, Broken Strings adalah buku yang berani dan penting, tapi tidak untuk semua orang. Jika kamu merasa trigger warning di atas relevan dengan pengalamanmu, pertimbangkan untuk membaca dengan pendampingan atau jeda jika diperlukan.
Aurelie menulis buku ini untuk membantu orang lain, bukan untuk menyakiti. Kamu bisa mengunduh PDF-nya secara gratis melalui link resmi di media sosial Aurelie.
Ingat, membaca kisah trauma orang lain bisa menjadi langkah empati, tapi prioritaskan kesehatan mentalmu sendiri!
Buku Broken Strings Aurelie Moeremans telah dibaca ribuan orang dan mendapat respons positif karena kejujurannya, tapi selalu siapkan diri sebelum menyelam ke dalamnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Cara Cek Lokasi Penukaran Uang Baru Terdekat Lewat PINTAR BI, Mudah dan Resmi
-
Apakah Kerja 2 Bulan Dapat THR? Simak Penjelasan dan Perhitungannya
-
Beda Gamis Bini Orang dan Kebanggaan Mertua, Jadi Tren Fesyen Lebaran 2026
-
Mudik Gratis Bank Mandiri 2026 Kapan Dibuka? Ini Jadwal, Rute, dan Cara Daftarnya
-
Apakah Gadai BPKB Motor di Pegadaian Motornya Ditahan? Ini Ketentuan Resminya
-
6 Bedak untuk Tampil Natural, Wajah Segar Tanpa Foundation untuk Daily Look
-
Batas Maksimal Penukaran Uang Baru di BI 2026, Cek Rincian Nominal dan Jadwalnya
-
Isyana Sarasvati Kuliah di Mana? Bantah Tuduhan Terima Beasiswa LPDP
-
THR dan Gaji ke-13 ASN 2026 Kapan Cair? Simak Jadwal Lengkap Aturannya
-
5 Bedak untuk Menutupi Jerawat, Bikin Wajah Lebih Mulus Seketika