- DAS Bodri rentan bahaya dan perlu perbaikan segera meski anggaran lingkungan Jawa Tengah dipangkas drastis.
- Penelitian ARUPA mengungkap anggaran pengelolaan sungai provinsi anjlok signifikan dari Rp1,2 miliar menjadi Rp328 juta.
- Di Semarang, para pihak sepakat membentuk tim lintas kabupaten dan mendorong kolaborasi dana pemulihan DAS Bodri.
Suara.com - Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri di Jawa Tengah kini sedang dalam kondisi bahaya. Lingkungan di sepanjang aliran sungai itu dinilai butuh segera diperbaiki. Sedihnya, saat risiko bencana akibat cuaca ekstrem makin sering menghantui, biaya dari pemerintah untuk urusan lingkungan malah terus dipangkas secara drastis.
Sungai Bodri sendiri melintasi empat wilayah kabupaten: Wonosobo, Temanggung, Kendal, dan Semarang. Dengan luas sekitar 652 kilometer persegi, airnya mengalir dari lereng Gunung Prau sampai ke Laut Jawa. Sungai ini sangat penting bagi warga, terutama untuk pengairan sawah dan kebutuhan air waduk di wilayah Kendal.
Jika dilihat dari alamnya, bagian atas sungai punya aliran deras yang berfungsi menyerap air hujan. Sementara bagian bawahnya adalah dataran rendah yang subur untuk bertani. Namun, Sungai Bodri sering mengalami kerusakan tanah dan ancaman banjir setiap tahun. Itulah mengapa, menata lahan dan menanam pohon di pinggir sungai menjadi tugas yang sangat mendesak.
Hasil penelitian Tim ARUPA menunjukkan, jatah anggaran lingkungan di Jawa Tengah turun dari 1,53% di tahun 2023 menjadi cuma 1,05% untuk tahun 2025. Yang lebih bikin khawatir, anggaran khusus mengurus sungai anjlok dari Rp1,2 miliar menjadi hanya Rp328 juta saja untuk dibagi-bagi ke 18 sungai di seluruh provinsi.
Data yang bikin cukup mencengangkan tersebut diungkap dalam pertemuan yang digelar oleh Lembaga ARUPA di Quest Hotel Simpang Lima, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (16/12/2025). Direktur Eksekutif ARUPA, Edi Suprapto, menegaskan bahwa penelitian ini bukan cuma kertas biasa, tapi alat untuk bergerak.
"Kegiatan ini adalah bagian dari program pemulihan dan pengelolaan wilayah DAS Bodri agar lebih lestari. Kami berharap studi ini betul-betul bermanfaat dan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kewenangan Bapak/Ibu di institusi masing-masing agar tidak hanya menjadi tumpukan studi semata," tegas Edi.
Dalam acara itu, Koordinator Nasional Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, Sidi Rana Menggala, menyebutkan bahwa bantuan dana adalah kunci agar warga di desa bisa terus menjaga lingkungan. Ia bilang, bantuan uang yang sedikit pun bisa berdampak besar jika aturannya tepat.
Sidi mengatakan pihaknya bukan hanya sebatas pemberi donor, tapi juga lembaga katalisator yang menampung curhat dan harapan masyarakat. Di samping itu, menurut dia, kajian tersebut bukan cuma sebatas laporan lembaga nonpemerintah (NGO) belaka, tapi juga laporan akademik yang bisa ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan aksi konkret.
"GEF SGP bukan hanya sebatas pendonor, melainkan lembaga katalisator yang menampung aspirasi dan mimpi masyarakat. Kajian ini bukan hanya sebatas laporan NGO, melainkan laporan akademik yang diharapkan mampu merumuskan kebijakan fiskal atau insentif yang sangat dibutuhkan masyarakat agar program pelestarian lingkungan bersifat berkelanjutan," ujar Sidi.
Butuh Kerja Sama Antarwilayah
Selama ini, uang negara lebih banyak dipakai untuk pembangunan fisik, padahal masalah lingkungan juga butuh edukasi warga. Plt Kabid Infrastruktur Dinas Pusdataru Jateng, Lambang Antono, menyoroti nasib wilayah bawah (hilir) yang jadi korban karena kerusakan di wilayah atas (hulu) tidak diurus bersama-sama.
Menurutnya, Kendal adalah daerah yang paling menderita. Banjir hingga kiriman lumpur sering terjadi di sana. Karena itu, Lambang menyarankan agar dibentuk tim khusus supaya perbaikan bisa dilakukan dengan cepat dan kompak.
"Kendal berada di posisi yang paling menerima dampak, mulai dari banjir hingga lumpur yang melimpah. Kami sangat menyarankan adanya tim kerja agroekologi yang lintas kabupaten agar program pemulihan ini bisa berjalan secara super team, bukan superman," jelasnya.
Selain itu, Lambang juga mengajak adanya patungan dana antara pemerintah, perusahaan swasta atau corporate social responsibility (CSR), serta lembaga-lembaga sosial lainnya.
Gotong Royong Memulihkan Lingkungan
Pertemuan ini dihadiri berbagai pihak, mulai dari dinas pemerintah, ahli kampus, hingga perangkat desa. Harapannya, acara ini menghasilkan janji nyata untuk membenahi Sungai Bodri secara total.
Para peserta setuju bahwa urusan alam dan ekonomi harus sejalan. Salah satu hal penting adalah perlunya aturan hukum di tingkat kabupaten agar pemerintah desa tidak takut menggunakan dana desa untuk menanam pohon atau menjaga hutan tanpa birokrasi yang ribet.
Selain aturan, forum ini berjanji akan berhenti bekerja sendiri-sendiri dan mulai bekerja bareng. Rencananya, akan dibuat proyek percontohan di wilayah sungai yang kecil dulu. Perbaikan lingkungan akan difokuskan di sana agar hasilnya, seperti berkurangnya lumpur, bisa terbukti sebelum diterapkan di tempat lain.
Sebagai investasi masa depan, kerja sama ini juga akan mengajak sekolah-sekolah untuk mengajarkan cinta lingkungan sejak dini. Semua rencana ini diharapkan jadi pedoman baru pemerintah daerah demi menjaga Sungai Bodri tetap lestari untuk anak cucu nanti.()*
Berita Terkait
-
Intip Perbedaan Tarif Pajak Kendaraan DIY, Jateng dan Jabar, Mana yang Lebih Mahal?
-
Banjir Akibat Tanggul Sungai Tuntang Jebol di Demak
-
Meriahkan Imlek, InJourney Tawarkan Promo Tiket Sunrise Borobudur Rp350 Ribu
-
Pajak Kendaraan di Jawa Tengah Jadi Sorotan, Ini Simulasi Hitungan Opsen PKB untuk Toyota Avanza
-
Benarkah Pajak Kendaraan di Jawa Tengah Naik 66 Persen? Bapenda Jateng Beri Jawaban Tegas
Terpopuler
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 6 Rekomendasi Sabun Mandi di Alfamart yang Wangi Semerbak dan Antibakteri
- Tembus Pelosok Bumi Tegar Beriman: Pemkab Bogor Tuntaskan Ratusan Kilometer Jalan dari Barat-Timur
- Bupati Kulon Progo Hapus Logo Geblek Renteng hingga Wajibkan Sekolah Pasang Foto Kepala Daerah
- Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Pimpinan Komisi III DPR, Gantikan Rusdi Masse
Pilihan
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
-
Jadwal Buka Puasa Bandar Lampung 21 Februari 2026: Waktu Magrib & Salat Isya Hari Ini
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
Terkini
-
Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
-
Buka Puasa Baca Doa Dulu atau Minum Duluan? Ini yang Paling Dianjurkan
-
Apakah Kurma Perlu Dicuci Dulu sebelum Dimakan? Ini Anjuran BPOM Arab Saudi
-
Promo Minyak, Gula hingga Kecap di Indomaret Spesial Ramadan, Sembako Harga Turun!
-
15 Menu Buka Puasa Berkuah yang Nikmat dan Menghangatkan, Cocok untuk Ramadan
-
5 Tips Kulit Sehat Selama Ramadan Menurut Ahli Dermatologi
-
6 Lipstik Glossy Tahan Lama untuk Bukber, Tetap On tanpa Perlu Touch Up
-
Kolak Pisang dan Candil: Menu Takjil Favorit Ramadan dengan Resep Lengkap
-
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
-
Ingin Kulit Glowing Saat Lebaran? Ini 5 Makanan yang Wajib Dikonsumsi Menurut Dokter