Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:22 WIB
Begini Cara Warga Kertabumi Ubah Plastik Bekas Jadi Penghasilan Jutaan (Dok. Istimewa)
Baca 10 detik
  • Kertabumi Recycling Center di Tangerang Selatan mengolah sampah anorganik menjadi produk bernilai melalui kolaborasi teknologi dan warga.
  • Kolaborasi dengan Cermati Fintech Group menyediakan mesin pengolah sampah, sementara warga terlibat aktif membuat kerajinan tangan.
  • Hasil penjualan produk daur ulang diputar kembali untuk mendukung operasional dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga setempat.

Suara.com - Di tengah meningkatnya persoalan sampah perkotaan, sebuah sudut di Tangerang Selatan justru menghadirkan cerita yang berbeda. Di Kertabumi Recycling Center, tumpukan plastik, kertas, kain, dan papan bekas tidak berakhir di tempat pembuangan. 

Bagi warga setempat, material sisa itu justru menjadi bahan baku untuk melahirkan produk bernilai dan harapan ekonomi baru.

Lewat kolaborasi dengan ekosistem Cermati Fintech Group, Kertabumi kini memiliki mesin pengolah sampah anorganik yang mempercepat proses daur ulang sekaligus meningkatkan kualitas hasil olahan. 

Mesin daur ulang tersebut bisa dipakai untuk mendaur ulang 20 ton per bulan, kurang lebih sama dengan 240 ton sampah setiap tahunnya. Sementara lifetime (masa aktif) mesinnya bisa sampai 15 tahun.

Jadi, bisa dikatakan dalam 15 tahun CFG bisa berkontribusi dalam daur ulang sampah sebanyak 3.600 ton besama Kertabumi.

Tidak hanya soal teknologi, yang paling menonjol adalah keterlibatan warga, mulai dari anggota Karang Taruna hingga kelompok PKK yang ikut mengolah dan menyulap limbah menjadi aneka kerajinan tangan.

Dari bahan-bahan yang sebelumnya dianggap tak berguna, tercipta tas, wadah serbaguna, hiasan rumah, hingga produk fungsional lain yang siap dipasarkan di galeri Kertabumi dan media sosial. 

Dalam satu rangkaian kegiatan, tercatat sekitar 660 kilogram sampah anorganik berhasil dikumpulkan dan diproses ulang, membuka peluang ekonomi kreatif berbasis lingkungan.

CEO Cermati Fintech Group, Andhy Koesnandar, menyebut pendekatan ini sebagai bentuk kreativitas dalam memperpanjang siklus hidup material.

Baca Juga: Gunung Sampah Kembali Muncul di Tangsel, Ini 6 Fakta Terbarunya

“Kami percaya bahwa pertumbuhan bisnis tidak boleh mengesampingkan tanggung jawab terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Melalui pemanfaatan material branding menjadi produk fungsional, kami mengambil pendekatan kreatif untuk meminimalisir jejak karbon operasional dan memastikan material promosi kami memiliki siklus hidup yang lebih panjang dan bermanfaat,” ujarnya.

Bagi warga Kertabumi, aktivitas ini lebih dari sekadar memilah sampah. Proses menggunting, menjahit, dan merangkai bahan daur ulang telah menjadi ruang belajar sekaligus wadah mengekspresikan kreativitas. 

Hasilnya bukan hanya produk, tetapi juga rasa percaya diri bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu yang bernilai dari keterbatasan.

Direktur Utama Indodana Fintech, Ronny Wijaya, melihat inisiatif ini sebagai bentuk keselarasan antara inovasi dan alam.

“Kami ingin kehadiran solusi digital kami di masyarakat berjalan beriringan dengan dampak positif bagi kelestarian ekosistem alam, sehingga inovasi dan alam dapat tumbuh bersama secara harmonis,” katanya.

Sementara itu, Direktur Indodana Finance, Iwan Dewanto, menekankan bahwa inti dari gerakan ini adalah manusia yang ada di balik proses daur ulang.

Load More