-
Psikolog Anastasia Satriyo ungkap 10 pola pikir menyimpang pelaku child grooming.
-
Pelaku sering memanipulasi tindakan eksploitasi dengan kedok rasa sayang dan perhatian.
-
Memahami cara berpikir pelaku penting untuk mencegah praktik menyalahkan korban.
Suara.com - Kasus child grooming yang dialami Aurelie Moeremans sewaktu usia 15 tahun dan dituangkan dalam bukunya Broken Strings masih menjadi perbincangan hangat.
Kisah Aurelie Moeremans itu mungkin membuat sejumlah orang bertanya-tanya mengapa pelaku child grooming sering kali denial atau tidak merasa perbuatannya salah.
Psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo melalui cuitannya di Threads menjelaskan adanya mekanisme cognitive distortions atau cara berpikir yang menyimpang di kepala para pelaku child grooming.
"Ini bukan pembelaan pelaku, tapi penjelasan bagaimana pikiran pelaku 'memoles' perilaku salah agar terasa wajar di kepalanya," tegas Anastasia Satriyo dalam unggahannya, Selasa 13 Januari 2025.
Anastasia Satriyo mengatakan memahami pola pikir ini dianggap penting untuk deteksi dini dan menghentikan kebiasaan menyalahkan korban atau victim-blaming.
Berikut ini, 10 bentuk pembenaran diri yang sering digunakan pelaku child grooming menurut psikolog anak dan remaja, Anastasia Satriyo.
1. Menganggap Eksploitasi sebagai Bentuk Sayang
Anastasia Satriyo mengatakan pelaku sering mengganti makna tindakannya yang manipulatif menjadi narasi perhatian.
Mereka merasa hanya menjadi sosok yang peduli pada korbannya saat orang lain tidak ada.
Baca Juga: Tips Memilih Sepatu Jalan Nyaman untuk Orang Tua, Ini 5 Rekomendasi yang Gak Bikin Pegal
Padahal, kasih yang sehat tidak menciptakan ketergantungan atau rasa takut.
2. Menganggap Diamnya Korban sebagai Persetujuan
Anastasia Satriyo juga mengatakan banyak pelaku child grooming menilai diamnya korban yang masih di bawah umur sebagai tanda persetujuan atas perilakunya.
Padahal, diamnya anak bukan berarti dirinya setuju dalam ilmu psikologi.
Fakta ilmiah menunjukkan bahwa remaja sering mengalami kondisi freeze atau membeku atau patuh, karena bingung dan takut.
3. Pelaku Biasanya Merasa Beda dari Predator Lain
Menurut Anastasia Satriyo, pelaku child grooming juga bisanya merasa dirinya berbeda dengan predator yang banyak diberitakan atau karena dirinya tidak kasar.
Distorsi ini membuat mereka merasa tetap menjadi orang baik, meskipun sedang melakukan eksploitasi secara halus.
4. Normalisasi dengan Kedok Bercanda
Pelaku child grooming juga sering mengaburkan batasan baik dan buruk, salah dan benar dengan dalih hanya bercanda.
Hal-hal yang terlihat normal ini lantas digeser pelan-pelan menuju tindakan eksploitasi.
5. Melempar Kesalahannya pada Orang Tua Korban
Anastasia Satriyo juga mengatakan pelaku sering merasa berhak mendekati korban karena menganggap orang tua korban lalai, yang disebut sebagai Blame Shifting.
Padahal, kurangnya perhatian orang tua tidak pernah menjadi alasan yang sah untuk mengeksploitasi seorang anak.
6. Melabeli Anak Dewasa Sebelum Waktunya
Pelaku child grooming juga biasanya mencoba menghapus fakta adanya ketimpangan kuasa dengan menilsi anak di bawah umur sudah dewasa secara pola pikir dan berbeda dengan anak-anak seumuran lainnya.
Padahal, kematangan kognitif remaja tidak sama dengan kapasitas untuk memberikan persetujuan secara sadar dalam relasi dengan orang dewasa.
7. Memposisikan Diri sebagai Korban
Anastasia Satriyo juga mengatakan pelaku kerap menggunakan penderitaan pribadinya, seperti rasa kesepian untuk membebani anak yang disebut sebagai Self-Pity.
Misalnya, kata-kata seolah dirinya tak bisa hidup dengan anak tersebut adalah bentuk manipulasinya agar korbannya merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang dewasa.
8. Ilusi Menjadi Penyelamat
Ada keyakinan di kepala pelaku bahwa jika mereka pergi, hidup korban akan hancur. Mereka merasa tak tergantikan dan wajib melanjutkan relasi tersebut.
Hal ini adalah ilusi kontrol yang justru merusak kemandirian anak.
9. Merasa Benar karena Tidak Ada Paksaan Fisik
Banyak pelaku grooming merasa perilakunyaa tidak salah selama tidak menggunakan kekerasan fisik.
Padahal, psikologi forensik menegaskan bahwa manipulasi psikologis sama berbahayanya dan sama merusaknya dengan paksaan fisik.
10. Membungkus Rahasia sebagai Keintiman Spesial
Pelaku sering menggunakan rahasia untuk mengikat loyalitas korban. Tindakan itu dilakukan agar korban merasa hubungan mereka spesial, padahal tujuannya adalah untuk mengisolasi korban agar tidak melapor.
Menurut Anas Satriyo, cara berpikir penyimpang ini bekerja dengan memutarbalikkan fakta.
Pelaku child grooming sering menganggap kontrolnya sebagai rasa sayang dan manipulasinya sebagai bantuan darinya untuk korban.
"Yang dialami pelaku adalah cara berpikir yang mengganti makna agar perilakunya yang salah terasa wajar di kepalanya," pungkasnya.
Karena itu, Anastasia mengimbau agar masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap tanda-tanda ini dan tidak terjebak dalam narasi yang dibuat oleh pelaku untuk menyudutkan korban.
Berita Terkait
-
Bantah Teror Hesti Purwadinata, Roby Tremonti Siap Lapor Polisi Jika Tak Ada Klarifikasi
-
Benarkah Aurelie Moeremans Pernah Menikah dengan Roby Tremonti?
-
Ramai Kasus Aurelie Moeremans, Bagaimana Tata Cara Menikah di Gereja Katolik?
-
Roby Tremonti Bicara Soal Surat Pembatalan Nikah dengan Aurelie Moeremans, Dipaksa Ngaku KDRT
-
Kronologi Kak Seto Dituduh Tak Tanggapi Aduan Ibu Aurelie Moeremans
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
Terkini
-
Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie
-
Jika Sudah Memakai Moisturizer, Apa Harus Pakai Day Cream?
-
5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
-
5 Sampo Herbal untuk Menebalkan Rambut Tipis Tanpa Transplantasi
-
5 Contoh Teks MC Acara Isra Miraj 2026 yang Mudah Dipahami dan Dipraktikkan
-
5 Lipstik Satin Lokal yang Cocok untuk Cool Undertone, Bikin Wajah Lebih Cerah
-
Tips Memilih Sepatu Jalan Nyaman untuk Orang Tua, Ini 5 Rekomendasi yang Gak Bikin Pegal
-
Benarkah Aurelie Moeremans Pernah Menikah dengan Roby Tremonti?
-
45 Tema Isra Miraj 2026 untuk Sekolah: Inspirasi Spiritual yang Relevan di Era Digital
-
Ramai Kasus Aurelie Moeremans, Bagaimana Tata Cara Menikah di Gereja Katolik?