- Studi Burson mengukur reputasi sebagai aset keuangan, menunjukkan potensi laba tahunan pemegang saham hingga 4,78 persen secara global.
- Kualitas lingkungan kerja dan integrasi AI menjadi penentu reputasi utama, mengancam munculnya "pajak reputasi" bagi yang salah kelola.
- Perusahaan reputasi kuat unggul dalam inovasi serta tata kelola; reputasi kini menjadi mata uang bisnis terukur yang nyata.
Suara.com - Selama ini reputasi sering dianggap cuma urusan citra—penting, tapi sulit diukur. Padahal, di balik kesan abstraknya, nama baik ternyata bisa berubah jadi aset bernilai besar yang bikin perusahaan benar-benar panen untung.
Studi terbaru dari Burson mengungkap fakta menarik: perusahaan dengan reputasi kuat berpotensi memperoleh tambahan laba tahunan tak terduga bagi pemegang saham hingga 4,78 persen. Jika dikalkulasikan secara global, nilai ini membentuk apa yang disebut sebagai “Ekonomi Reputasi”, dengan total valuasi mencapai US$7,07 triliun.
Penelitian bertajuk The Global Reputation Economy: A New Asset Class for a New Era ini berhasil mengukur reputasi sebagai aset konkret. Hasilnya, “laba reputasi” yang dimiliki perusahaan dalam studi tersebut berkisar dari US$2 juta hingga US$202 miliar—angka yang bahkan melampaui proyeksi keuntungan berdasarkan indikator keuangan konvensional.
“Selama puluhan tahun, para pemimpin tahu bahwa reputasi itu penting, tetapi belum pernah bisa mengukurnya sebagai aset keuangan. Sekarang, kita bisa,” ujar Corey duBrowa, CEO Global Burson, dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa reputasi adalah sistem yang saling terhubung dan, jika dikelola dengan cermat, mampu menghasilkan keuntungan besar sekaligus memperkuat ketahanan perusahaan di tengah gejolak.
AI, Tempat Kerja, dan Risiko “Pajak Reputasi”
Menariknya, studi ini juga menyoroti medan persaingan reputasi terbaru: AI dan lingkungan kerja. Meski faktor tempat kerja hanya menyumbang 11 persen dari total delapan penentu reputasi, kualitasnya justru menciptakan selisih kinerja reputasi hingga 11,8 persen antara perusahaan terbaik dan terburuk.
Burson memperingatkan bahwa kesenjangan ini bisa berubah menjadi krisis reputasi, terutama bagi perusahaan yang gagal mengelola integrasi AI secara manusiawi.
“Perusahaan harus melampaui sekadar ‘strategi AI’ dan mulai membangun strategi sumber daya manusia berbasis AI,” kata Matt Reid, Global Corporate and Public Affairs Lead Burson.
Baca Juga: Prabowo Tolak Lihat Daftar Perusahaan Pelanggar: 'Takut Ada Teman Saya di Situ'
Menurutnya, perusahaan yang berinvestasi pada pelatihan ulang dan melibatkan karyawan dalam transisi teknologi akan memperoleh nilai reputasi tambahan. Sebaliknya, mereka yang melihat AI hanya sebagai alat pemangkasan tenaga kerja berisiko membayar ‘pajak reputasi’—di mana efisiensi finansial justru diimbangi penurunan nilai reputasi.
Temuan lain menunjukkan bahwa perusahaan dengan reputasi terkuat unggul di semua indikator, terutama pada aspek inovasi, kualitas produk, dan tata kelola. Bahkan di sektor dengan risiko tinggi seperti aerospace dan energi, peningkatan reputasi justru datang dari perbaikan internal—mulai dari tata kelola hingga lingkungan kerja—bukan semata narasi teknis atau keberlanjutan.
Sebaliknya, sektor keuangan menjadi contoh nyata bagaimana reputasi yang melemah dapat berdampak langsung pada nilai perusahaan. Penurunan kepercayaan pada aspek kepemimpinan, tata kelola, dan peran sosial tercatat menempatkan nilai reputasi miliaran dolar dalam risiko.
“Model lama yang memandang reputasi secara statis sudah tidak relevan,” lanjut duBrowa.
“Reputasi bersifat organik dan terus berkembang. Dengan memahami komponennya secara presisi, perusahaan dapat memprediksi dan memengaruhi hasil finansial secara nyata,” tegasnya.
Reputasi sebagai Mata Uang Baru Bisnis
Berita Terkait
Terpopuler
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Berbagai Kebutuhan
- Jalan Kolmas Ditutup Total 67 Hari, Polres Cimahi Siapkan Dua Jalur Alternatif
- 3 Rekomendasi HP vivo RAM 8 GB Snapdragon Paling Murah untuk Dipilih
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
Pilihan
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
-
Kabut Asap Makin Pekat, Doa Apa yang Bisa Dibaca Muslim? Ini Bacaan Perlindungannya
-
Jakarta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai Besok
-
Badan Geologi Ungkap Kondisi Anak Krakatau Terkini: Tak Ada Potensi Runtuh Picu Tsunami
-
Terungkap! Sebelum Audiensi dengan Pimpinan DPR, Botok Ditelpon Prabowo
Terkini
-
Update Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Malam Ini: Bergerak ke Timur, Sumsel Bersiap Terdampak
-
Darurat Abu Vulkanik, Bupati Bogor Instruksikan Sekolah Daring dan Penyemprotan Masif
-
Status Gunung Api Malam Ini: Merapi, Semeru, Anak Krakatau Siaga, 3 Gunung di Maluku Waspada
-
Terus Bertambah, 36 Penerbangan di Bandara SMB II Palembang Batal Akibat Abu Anak Krakatau
-
Sambut Kunjungan Komisi XII DPR RI, Pertamina Tegaskan Kesiapan Kilang Plaju Kawal Mandatori B50
-
Bogor Diselimuti Abu Vulkanik, 11 Sektor Damkar Lakukan Penyemprotan Light Water Spray Masif
-
BRI: Teknologi Digital Harus Bantu Generasi Muda Kelola Keuangan
-
BRI Dorong Generasi Muda Kelola Penghasilan untuk Bangun Aset Masa Depan
-
BRI Dorong Financial Growth Mindset Bagi Masa Depan Generasi Muda
-
BRI: Semakin Awal Menabung dan Investasi, Semakin Panjang Waktu Bangun Aset