- BPOM mendorong penyajian jamu di kafe, seperti peresmian Acaraki di PIK 2, agar relevan bagi generasi muda.
- PT Acaraki Nusantara Persada menciptakan konsep Jamu Experience Café untuk mendekatkan inovasi jamu kepada generasi muda.
- BPOM berupaya menghilangkan stigma kuno jamu, serta mendorong integrasi jamu ke sistem kesehatan nasional Indonesia.
Suara.com - Berbicara mengenai tren nongkrong di kafe, saat ini menjadi hal yang sangat digemari generasi muda, khususnya gen Z. Tak hanya nongkrong biasa, sebagian gen Z juga menjadikan kafe sebagai tempat untuk bekerja dan menghabiskan waktu sendiri.
Biasanya, kafe sendiri identik dengan kopi, teh, atau ragam lainnya. Namun, rupanya kafe yang menyajikan minuman tradisional seperti jamu juga mulai banyak digemari.
Dalam hal ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga serius mendorong jamu yang disajikan dalam kafe untuk generasi muda. Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed.,Ph.D, mengatakan, jamu adalah warisan bangsa yang diakui oleh UNESCO.
Untuk itu, jamu bisa disajikan dalam berbagai cara termasuk kafe untuk menjangkau generasi yang lebih luas. Dengan begitu jamu yang juga menjadi budaya ini tetap bisa disajikan dengan pendekatan yang lebih relevan.
"Jamu ini menjadi budaya kita dan harus diwariskan, dengan bahasa dan pendekatan yang relevan dengan zaman," kata Taruna dalam peresmian kafe acaraki di PIK 2, Rabu (4/2/2026).
Menikmati Jamu dengan Gaya Kafe
Dalam mendukung potensi jamu terutama bagi generasi muda, PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki) mengusung konsep Jamu Experience Café. Kafe ini ditujukan untuk mendekatkan masyarakat terhadap jamu, khususnya generasi muda.
Dibangun di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, pengunjung diajak memahami filosofi jamu, tentang jampi (doa), oesodo (kesehatan), dan pengetahuan lintas generasi sekaligus menikmati inovasi yang dikemas dengan selera masa kini.
"Kami hadir untuk memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu juga dengan gaya yang lebih modern dan bisa menjangkau generasi muda," ujar Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada (acaraki), Jony Yuwono.
Di kafe ini juga memperlihatkan barista yang membuat jamu secara langsung layaknya pembuatan kopi. Hal itu menjadi sisi menarik kekinian yang juga banyak digemari oleh generasi muda saat ini.
Tak hanya itu, kafe ini juga memperkenalkan acaraki Jamu Capsule alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Tiga varian, Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, diluncurkan sebagai pelengkap, bukan pengganti jamu seduh.
Menurut Taruna, kehadiran kafe yang menyajikan jamu sendiri bisa mengeluarkan stigma kuno terhadap minuman tersebut. Dengan demikian, jamu juga bisa dinikmati oleh para generasi muda dengan gaya yang berbeda.
"Jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dunia, yang diakui UNESCO, telah berhasil keluar dari stigma kuno menjadi keren dan relevan bagi generasi masa kini," ucap Taruna.
Potensi Jamu
Tak hanya itu, potensi jamu di Indonesia juga cukup besar. Taruna mengungkap, dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia memiliki modal alam yang sangat besar untuk masuk ke pasar global.
Jika hal ini dimanfaatkan dengan baik, itu akan membuka ekonomi bagi Indonesia. Di sisi lain, jika dimanfaatkan potensinya, itu membuka peluang jamu menjadi ciri khas minuman Indonesia di internasional.
Komitmen BPOM Terhadap Jamu
Di balik nama jamu yang mulai digaungkan untuk generasi muda, tidak bisa dipungkiri masih banyak para penjual dengan produk ilegal tanpa izin edar. Oleh sebab itu, untuk melindungi masyarakat ke depannya , Taruna juga mendorong integrasi jamu dan obat tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional.
Ia menilai Indonesia dapat belajar dari negara seperti China dan India yang berhasil mengintegrasikan pengobatan tradisional ke layanan kesehatan modern, tanpa mengorbankan aspek keamanan dan efektivitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dari Apel Premium hingga Cokelat, Gaya Hidup Sehat Ala Selandia Baru Hadir di Indonesia
-
Industri Film Indonesia Masuki Era Baru dengan Dukungan Blockchain dan AI
-
Dari Anemia hingga Isu Mental, Ketika Generasi Muda Turun Tangan Racik Solusi Kesehatan
-
Tandon Air yang Bagus Merek Apa? Ini 4 Rekomendasinya yang Anti-Lumut dan Tahan Lama
-
The Apurva Kempinski Bali Angkat Isu Regenerasi dan Keberlanjutan
-
Cara Atasi Uap Keluar dari Gagang Panci Presto agar Daging Cepat Empuk
-
Saat Ekonomi Sulit, Mal Andalkan Hiburan Anak untuk Dongkrak Belanja?
-
5 Tips Layering Parfum agar Wanginya Tidak Pasaran, Ini Aroma yang Cocok Dipadukan
-
Jerawat Tak Kunjung Sembuh? 4 Rekomendasi Vitamin dari Dokter Estetika untuk Wajah Berjerawat
-
12 Destinasi Wisata Hits di Jakarta untuk Libur Sekolah, dari Pantai hingga Hutan Mangrove