- Pemahaman masyarakat Sabu Raijua berpusat pada Pohon Lontar, sumber utama yang menyediakan kebutuhan pangan dan bahan bangunan.
- Orang Sabu menganut Filosofi Kecukupan; kebahagiaan diukur dari sedikitnya kebutuhan, bukan akumulasi materi tak terbatas.
- Standar pembangunan modern sering keliru menilai kesejahteraan, padahal kearifan lokal berbasis alam lebih adaptif terhadap lingkungan.
Berdasarkan catatan-catatan sejarah dan antropologi, masyarakat di Sabu Raijua dikenal sebagai orang-orang yang sangat periang. Ciko merujuk pada arsip lama dalam catatan antropologi. Tercatat, imbuh Ciko, masyarakat Sabu merupakan pribadi yang periang. Ya, mereka selalu menyanyi ke mana pun mereka pergi.
“Dalam catatan antropologi, orang-orang Sabu adalah periang. Kemanapun mereka pergi mereka pasti bernyanyi,” kata Ciko.
Tapi, dia mencatat adanya transformasi sosial. Kebiasaan menyanyi tersebut kiwari lebih sering terdengar hanya saat mereka sedang menyadap lontar. Fenomena ini menjadi sebuah paradoks besar: bagaimana mungkin sebuah wilayah yang secara geografis dianggap "miskin" dan paling rentan terhadap krisis iklim, justru dihuni oleh orang-orang yang merasa bahagia?
“Kalau fakta itu dihadapkan dengan kondisi geografis yang dalam pemahaman kita miskin sumber daya atau paling rentan tapi kok bahagia saja. Maka, kita perlu memahami lebih dalam bagaimana orang Sabu memaknai hidup dan kebahagiaan.” terang Ciko.
Hidup mengikuti ritme alam
Masyarakat Sabu mempunyai pemahaman mendalam soal ritme alam. Mereka pun menyesuaikan aktivitas kehidupan dengan siklus alamiah. Pemahaman ini nggak sekadar pengetahuan ekologis. Hal ini telah menjadi bagian integral dari sistem sosial dan budaya mereka.
“Kehidupan orang Sabu mengikuti ritme alam,” ungkap Ciko.
Ia memberikan contoh konkret bagaimana ritual sosial seperti pernikahan dijadwalkan mengikuti musim. “Bahkan sampai dunia modern, kita harus menikah di musim panas karena tidak hujan atau tidak ada aktivitas di ladang,” jelasnya.
Untuk aktivitas ekonomi seperti penyadapan nira, waktu optimal adalah saat musim kemarau.
Baca Juga: Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?
“Mengiris nira itu harus saat kemarau. Bukan hanya karena pohonnya licin, tapi juga karena air nira banyak di musim kering,” jelas Ciko menunjukkan bahwa pengetahuan lokal didasarkan pada observasi alam yang cermat dan akumulasi pengalaman lintas generasi.
Kritik untuk standar pembangunan yang bias
Ciko juga mengkritik tajam terhadap cara pandang pemerintah atau lembaga luar yang acapkali menggunakan standar perkotaan untuk menilai kesejahteraan di Sabu. Ia mengambil contoh standar perumahan. Dalam hal ini, rumah tembok dianggap sebagai indikator kesejahteraan. Sedangkan rumah kayu tradisional Sabu dilabeli sebagai rumah orang miskin.
“Seringkali cara kita memandang pembangunan ada miss. Misalnya di Indonesia, standar rumah adalah rumah tembok yang memenuhi kesejahteraan. Sedangkan rumah-rumah di Sabu adalah rumah orang miskin.” jelas Ciko.
Padahal, kearifan lokal telah membuktikan bahwa rumah kayu tradisional jauh lebih tahan terhadap bencana alam seperti badai. Hal ini terbukti saat Angin Seroja melanda pada tahun 2021, di mana rumah-rumah tradisional Sabu justru bertahan lebih baik dibandingkan bangunan tembok modern.
Menuju pembangunan berbasis emosional
Memungkas wawancara, Ciko menekankan setiap program pembangunan yang masuk ke Sabu haruslah kontekstual dan partisipatif. Ia percaya bahwa program yang berhasil bukan lahir dari meja kantor di Jakarta, melainkan dari kedekatan emosional dengan masyarakat setempat.
“Program itu tidak bisa hanya satu tahun. Ketika kita ingin membuat program kita harus mendekati mereka secara emosional, duduk dengan mereka di dapur, makan apa yang mereka makan.” terang Ciko.
Bagi Ciko, Pulau Sabu adalah sebuah "Rumah Kita" yang utuh, di mana masyarakat hidup harmonis dengan dunianya, komunitasnya, dan sumber daya yang ada. Menurut dia, pembangunan sejati tidak boleh memaksa orang Sabu berubah menjadi orang lain, tapi mendukung mereka mandiri dan bahagia dalam filosofi kecukupan yang telah diwariskan.
Dukungan untuk para petani lontar
Kesejahteraan para petani lontar dan keberlangsungan ekonomi serta ekosistem lingkungan di Sabu Raijua menjadi salah satu fokus dari program GEF SGP Indonesia Fase 7. Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala menyadari bahwa lontar bukan sekadar pohon bagi masyarakat Sabu, melainkan sumber kehidupan.
“Di lanskap semi-tandus Sabu Raijua, di mana curah hujan sangat langka dan tanaman padi sering kali gagal, pohon Lontar bukan sekadar pohon; ia adalah "Pohon Kehidupan",” ujar Sidi Rana Menggala.
Dalam hal ini, imbuh Sidi, GEF SGP Indonesia mendukung komunitas petani lontar, di antaranya melalui peningkatan nilai tambah. Pihaknya membantu pengolahan gula sabu menjadi produk premium agar petani mendapatkan harga lebih adil untuk setiap panjatan berbahaya yang mereka lakukan.
“Selain itu, ada pula regenerasi ekosistem, yakni memastikan bahwa untuk setiap pohon yang dipanjat, bibit baru ditanam untuk generasi berikutnya. Kami juga menyoroti sisi keamanan dan inovasi. Dalam hal ini, menjajaki teknologi tepat guna yang dapat mengurangi beban fisik tanpa menghapus praktik budaya tersebut,” kata dia.
Berita Terkait
-
Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?
-
Tanggapan Mensos Soal Kematian Siswa SD di NTT: Ini Bukan Kasus Individual, Data Kita Bocor!
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
-
Saat Daerah Tak Sanggup Bayar Gaji ASN, Siswa SD di NTT Menyerah pada Hidup Demi Buku Tulis
-
Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, DPR: Ini Alarm Keras, Negara Harus Hadir
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
3 Rekomendasi Genset 500 Watt yang Bisa Dipakai di Rumah, Solusi saat Pemadaman Listrik
-
Lebih dari Sekadar Pertandingan: Ketika Euforia Sepak Bola Menjadi Gaya Hidup Generasi Urban
-
5 Face Wash Anti-Aging untuk Kurangi Kerutan Usia 40 Tahun agar Wajah Tampak Muda
-
Ciri-Ciri Sunscreen Kedaluwarsa, Ini Risikonya kalau Tetap Dipakai
-
9 Penyebab Kulkas Berbunyi Dengung, Lengkap Panduan Rawat Elektronik Rumah Tangga
-
Berapa Suhu AC Ideal agar Tidak Boros Listrik? Ini Trik biar Tagihan Tetap Hemat
-
3 Serbuk Anti-Sumbat Saluran Air, Solusi Pipa Mampet Akibat Rambut
-
5 Air Cooler yang Dingin dan Hemat Listrik, Bikin Ruangan Sejuk Maksimal
-
3 Skincare Marina Bright Booster Harga Rp20 Ribuan, Pengguna Akui Ampuh Cerahkan Wajah
-
Gaji UMR Beli Sepatu Running Apa? Ini 3 Pilihan Terbaik Versi Dokter Tirta