Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 06 Februari 2026 | 18:50 WIB
Masyarakat Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.(Dokumentasi pribadi)
Baca 10 detik
  • Pemahaman masyarakat Sabu Raijua berpusat pada Pohon Lontar, sumber utama yang menyediakan kebutuhan pangan dan bahan bangunan.
  • Orang Sabu menganut Filosofi Kecukupan; kebahagiaan diukur dari sedikitnya kebutuhan, bukan akumulasi materi tak terbatas.
  • Standar pembangunan modern sering keliru menilai kesejahteraan, padahal kearifan lokal berbasis alam lebih adaptif terhadap lingkungan.

Berdasarkan catatan-catatan sejarah dan antropologi, masyarakat di Sabu Raijua dikenal sebagai orang-orang yang sangat periang. Ciko merujuk pada arsip lama dalam catatan antropologi. Tercatat, imbuh Ciko, masyarakat Sabu merupakan pribadi yang periang. Ya, mereka selalu menyanyi ke mana pun mereka pergi.

“Dalam catatan antropologi, orang-orang Sabu adalah periang. Kemanapun mereka pergi mereka pasti bernyanyi,” kata Ciko.

Tapi, dia mencatat adanya transformasi sosial. Kebiasaan menyanyi tersebut kiwari lebih sering terdengar hanya saat mereka sedang menyadap lontar. Fenomena ini menjadi sebuah paradoks besar: bagaimana mungkin sebuah wilayah yang secara geografis dianggap "miskin" dan paling rentan terhadap krisis iklim, justru dihuni oleh orang-orang yang merasa bahagia?

“Kalau fakta itu dihadapkan dengan kondisi geografis yang dalam pemahaman kita miskin sumber daya atau paling rentan tapi kok bahagia saja. Maka, kita perlu memahami lebih dalam bagaimana orang Sabu memaknai hidup dan kebahagiaan.” terang Ciko.

Hidup mengikuti ritme alam

Masyarakat Sabu mempunyai pemahaman mendalam soal ritme alam. Mereka pun menyesuaikan aktivitas kehidupan dengan siklus alamiah. Pemahaman ini nggak sekadar pengetahuan ekologis. Hal ini telah menjadi bagian integral dari sistem sosial dan budaya mereka.

“Kehidupan orang Sabu mengikuti ritme alam,” ungkap Ciko.

Ia memberikan contoh konkret bagaimana ritual sosial seperti pernikahan dijadwalkan mengikuti musim. “Bahkan sampai dunia modern, kita harus menikah di musim panas karena tidak hujan atau tidak ada aktivitas di ladang,” jelasnya.

Buah lontar.(Dokumentasi Pribadi)

Untuk aktivitas ekonomi seperti penyadapan nira, waktu optimal adalah saat musim kemarau. 

Baca Juga: Nyawa Seharga Buku: Tragedi Siswa SD di NTT, Sesuram Itukah Pendidikan Indonesia?

“Mengiris nira itu harus saat kemarau. Bukan hanya karena pohonnya licin, tapi juga karena air nira banyak di musim kering,” jelas Ciko menunjukkan bahwa pengetahuan lokal didasarkan pada observasi alam yang cermat dan akumulasi pengalaman lintas generasi.

Kritik untuk standar pembangunan yang bias

Ciko juga mengkritik tajam terhadap cara pandang pemerintah atau lembaga luar yang acapkali menggunakan standar perkotaan untuk menilai kesejahteraan di Sabu. Ia mengambil contoh standar perumahan. Dalam hal ini, rumah tembok dianggap sebagai indikator kesejahteraan. Sedangkan rumah kayu tradisional Sabu dilabeli sebagai rumah orang miskin.

“Seringkali cara kita memandang pembangunan ada miss. Misalnya di Indonesia, standar rumah adalah rumah tembok yang memenuhi kesejahteraan. Sedangkan rumah-rumah di Sabu adalah rumah orang miskin.” jelas Ciko.

Padahal, kearifan lokal telah membuktikan bahwa rumah kayu tradisional jauh lebih tahan terhadap bencana alam seperti badai. Hal ini terbukti saat Angin Seroja melanda pada tahun 2021, di mana rumah-rumah tradisional Sabu justru bertahan lebih baik dibandingkan bangunan tembok modern.

Menuju pembangunan berbasis emosional

Load More