Lifestyle / Komunitas
Kamis, 12 Februari 2026 | 11:50 WIB
ilustrasi jambret (Google Gemini)
Baca 10 detik
  • Kasus penjambretan marak terjadi di Indonesia, menjadi jenis kejahatan jalanan paling umum berdasarkan data kriminalitas 2024/2025.
  • Pencegahan utama berfokus pada peningkatan kesadaran situasional, menghindari distraksi, serta mengamankan barang berharga secara strategis.
  • Respons saat diserang meliputi melepaskan barang, berteriak minta tolong, mencatat detail pelaku, lalu segera melapor kepada pihak berwenang.

Suara.com - Belakangan kasus Jambret marak terjadi di Indonesia, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dua kasus penjambretan di Jogja viral setelah korban berani melawan.

Sebagai informasi, penjambretan merupakan salah satu bentuk kejahatan jalanan yang paling umum di Indonesia. Pelaku biasanya beraksi menggunakan sepeda motor untuk merebut tas, ponsel, dompet, atau barang berharga lainnya dari korban yang sedang berjalan kaki, bersepeda, atau berkendara.

Kejahatan ini sering terjadi di kota-kota besar dan dapat menyebabkan cedera serius, bahkan kematian jika korban jatuh atau terseret.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Kriminal 2024/2025, jumlah kejahatan secara keseluruhan mencapai 561.993 kasus pada 2024, dengan pencurian (termasuk jambret) menjadi jenis kejahatan paling dominan, memengaruhi hingga 29,92 persen desa/kelurahan di seluruh Indonesia.

Pada 2025, Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat peningkatan kasus kriminal hingga 414.812 laporan, dengan pencurian dengan pemberatan (curat) sebagai yang tertinggi.

Panduan ini akan membahas secara mendalam cara mencegah dan merespons jambret, berdasarkan saran dari kepolisian dan pengalaman korban, dengan fokus pada pencegahan daripada konfrontasi fisik yang berisiko.

Memahami Pola dan Risiko Jambret

Sebelum membahas pencegahan, penting untuk memahami bagaimana jambret beroperasi. Pelaku sering menargetkan korban yang tampak lengah, seperti perempuan sendirian, pengendara motor yang lambat, atau pejalan kaki di pinggir jalan.

Mereka biasanya beraksi di pagi atau sore hari, di jalan ramai tapi tidak terlalu padat, atau di area minim penerangan malam hari.

Statistik menunjukkan bahwa kejahatan konvensional seperti ini mendominasi, dengan 249.589 kasus pada semester I 2025, dan provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara menjadi hotspot.

Baca Juga: Heroik! Mahasiswi Jogja Nekat Tabrak Penjambret, Polisi Jamin Korban Tak Dipidana

Faktor risiko termasuk:

  • Lokasi rawan: Jalan sepi, persimpangan, atau daerah dengan lalu lintas lambat.
  • Waktu rawan: Pagi (jam 6-9), sore (jam 4-7), dan malam hari.
  • Korban potensial: Orang yang menggunakan ponsel, memakai perhiasan mencolok, atau membawa tas di samping.

Dengan memahami ini, Anda bisa meningkatkan kewaspadaan. Polisi menyarankan untuk selalu mewaspadai lingkungan: perhatikan motor yang mendekat dari belakang atau berputar-putar mencurigakan.

Tingkatkan Kewaspadaan Sehari-Hari

Kewaspadaan adalah kunci utama dalam mencegah jambret. Jangan anggap remeh, karena 0,73 persen penduduk Indonesia menjadi korban kejahatan pada 2024, dengan tingkat pelaporan hanya 20,28 persen.

Berikut tips dari polisi:

1. Situational awareness

Selalu perhatikan cermin spion jika berkendara, atau lihat ke belakang secara berkala jika berjalan. Jika merasa diikuti, segera menepi ke tempat ramai seperti warung, pos polisi, atau rumah makan.

2. Hindari distraksi

Jangan gunakan ponsel atau earphone saat di jalan, karena ini mengurangi kemampuan mendengar suara motor mendekat. Polisi Pekanbaru menekankan hal ini sebagai salah satu penyebab utama.

3. Berpergian bersama

Khusus untuk perempuan atau anak muda, hindari sendirian di lokasi sepi. Gunakan aplikasi ride-sharing seperti Gojek atau Grab yang memiliki fitur bagikan lokasi live ke keluarga.

4. Teknologi bantu

Pasang aplikasi pelacak seperti Google Maps atau apps keamanan polisi (misalnya, aplikasi Polri Super App) untuk melaporkan kecurigaan secara real-time.

Kelola Barang Berharga dengan Strategis

Jambret menargetkan barang yang mudah dirampas, jadi pengelolaan barang adalah pertahanan pertama. Hindari membawa barang berlebih, dan simpan di tempat sulit dijangkau.

1. Pilih tas aman

Gunakan tas ransel atau selempang yang dikaitkan di depan dada, bukan di samping atau belakang. Tutupi tas dengan jaket atau kain jika memungkinkan. Tas dengan resleting kuat dan material anti-sobek direkomendasikan.

2. Hindari barang mencolok

Jangan pakai perhiasan emas, jam tangan mahal, atau aksesori yang berkilau. Jika harus, simpan di saku dalam atau tas tertutup. Polisi menyarankan bawa uang secukupnya dan gunakan dompet palsu sebagai umpan jika diperlukan.

3. Untuk pengendara

Simpan ponsel di saku celana atau holder tertutup. Jika membawa tas, letakkan di depan kaki atau bagasi terkunci. Hindari meletakkan tas di keranjang depan yang mudah diambil.

Pilih Rute dan Waktu yang Aman

Perencanaan perjalanan bisa mengurangi risiko hingga 50 persen berdasarkan saran polisi.

1. Rute optimal

Pilih jalan utama yang ramai, berpenerangan baik, dan dipantau CCTV. Hindari gang sempit atau area rawan seperti di bawah jembatan. Gunakan apps navigasi untuk rute aman.

2. Waktu bepergian

Hindari jam rawan malam hari. Jika pulang larut, gunakan transportasi umum atau ojek online, dan bagikan lokasi ke orang terdekat.

3. Disiplin lalu lintas

Jangan berhenti mendadak atau melambat tanpa alasan, karena ini memberi kesempatan pelaku mendekat.

4. Untuk malam hari

Patuhi tips Polda Jateng: pilih jalur ramai, hindari jalan minim penerangan, dan ikuti patroli polisi jika ada.

Respons Jika Diserang: Prioritaskan Keselamatan

Jika jambret terjadi, jangan melawan fisik kecuali terlatih, karena bisa berakibat fatal. Fokus pada respons cerdas:

1. Lepaskan barang

Prioritaskan nyawa daripada harta. Teriak "Jambret!" atau "Tolong!" sekeras mungkin untuk menarik perhatian.

2. Catat detail

Ingat nomor plat, warna motor, pakaian pelaku, dan arah lari. Laporkan segera ke polisi via 110 atau aplikasi Polri.

3. Pertahanan diri dasar

Jika terpaksa, gunakan teknik sederhana seperti pegang tas kuat dan jatuh ke samping untuk menghindari terseret. Ikuti pelatihan bela diri dasar dari komunitas atau polisi, tapi ingat: pencegahan lebih baik.

4. Pasca-insiden

Periksa cedera, hubungi keluarga, dan laporkan untuk membantu polisi menangkap pelaku. Polres sering melakukan operasi tembak di tempat jika pelaku melawan.

Peran Masyarakat dan Polisi dalam Pencegahan Jangka Panjang

Melawan jambret bukan tugas individu saja. Polisi melakukan patroli rutin, edukasi masyarakat, dan penggunaan teknologi seperti drone untuk memantau area rawan.

Anda bisa berpartisipasi dengan:

  • Ikut program sosialisasi keamanan di lingkungan.
  • Laporkan kecurigaan ke RT/RW atau polisi.
  • Dukung instalasi CCTV komunal.

Melawan jambret memerlukan pendekatan holistik: kewaspadaan, pengelolaan barang, perencanaan rute, dan respons cerdas. Dengan menerapkan tips ini, risiko bisa diminimalkan secara signifikan. Ingat, keselamatan diri lebih penting daripada barang—jangan ragu minta bantuan polisi atau komunitas.

Load More