Lifestyle / Komunitas
Jum'at, 13 Februari 2026 | 15:46 WIB
Fokus Konservasi Budaya dan Lingkungan, Siak Perkuat Pariwisata Berkelanjutan. (Dok. Jadesta Kemenpar)
Baca 10 detik
  • Pemerintah pusat mengarahkan pengembangan pariwisata baru fokus pada konservasi budaya dan lingkungan untuk keberlanjutan alam.
  • Utusan Khusus Presiden, Zita Anjani, kunjungi Siak Riau untuk perkuat pengembangan pariwisata berbasis konservasi lokal.
  • Pengembangan pariwisata harus kolaboratif, menciptakan ekosistem yang menghidupkan budaya dan menyejahterakan masyarakat.

Suara.com - Pariwisata tidak bisa lagi hanya bertumpu pada daya tarik visual dan angka kunjungan semata. Ke depan, pengembangan destinasi harus berpijak pada konservasi budaya dan lingkungan agar pertumbuhannya tidak mengorbankan identitas lokal maupun keberlanjutan alam.

Prinsip tersebut kini didorong pemerintah pusat sebagai arah baru pembangunan sektor pariwisata di berbagai daerah.

Komitmen ini tercermin dalam kunjungan kerja Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, Zita Anjani, ke Kabupaten Siak, Provinsi Riau, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan pariwisata berbasis konservasi budaya dan lingkungan.

Kabupaten Siak dinilai memiliki kekayaan wisata yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga kuat dari sisi sejarah, budaya, dan pengalaman komunitasnya.

Potensi inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan bersama Bupati Siak dan jajaran pemerintah daerah.

Menurut Zita, pengembangan destinasi harus bertumpu pada identitas budaya lokal, pemberdayaan masyarakat, serta tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan warga menjadi kunci agar pariwisata tidak tumbuh secara eksploitatif, melainkan memberi manfaat jangka panjang.

“Kita ingin pariwisata tumbuh bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai ekosistem yang menghidupkan budaya, menjaga lingkungan, dan menyejahterakan masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks itulah sejumlah praktik lokal mendapat perhatian, salah satunya konsep wisata kuliner “Makan Berhanyut”, yakni menikmati hidangan ikan sambil menyusuri sungai menggunakan perahu.

Konsep ini memadukan potensi alam, budaya sungai, dan tradisi kuliner dalam satu pengalaman yang autentik sekaligus ramah lingkungan. Wisatawan tidak hanya menikmati sajian makanan, tetapi juga merasakan lanskap sungai dan kehidupan masyarakat yang menyatu dengan alam.

Baca Juga: Menpar Fokuskan Pariwisata Berkualitas, Capaian 2025 Lampaui Target dengan 15,39 Juta Wisman

Dialog juga dilakukan bersama komunitas Suwai dari Skelas, kelompok anak muda yang aktif menggerakkan wisata berbasis pengalaman dan pelestarian budaya di Siak.

Fokus Konservasi Budaya dan Lingkungan, Siak Perkuat Pariwisata Berkelanjutan. (Dok. Istimewa)

Selain itu, aktivitas membuat anyaman dari daun pandan kering bersama perempuan-perempuan Siak menunjukkan bahwa keterampilan tradisional dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata yang inklusif.

Melalui rangkaian agenda ini, ditegaskan bahwa masa depan pariwisata Indonesia harus bertumpu pada konservasi budaya dan lingkungan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara adil dan berkelanjutan oleh generasi kini maupun mendatang.

Load More