- Rosita Istiawan mengembangkan Hutan Organik seluas 30 hektare di Mega Mendung, Bogor, dari lahan awal 2.000 meter persegi.
- Konsistensi Rosita menekankan prinsip "tanam rawat" daripada sekadar menanam tanpa pemeliharaan berkelanjutan.
- Gerakan Rosita melibatkan 20 kelompok tani perempuan yang berhasil memperbaiki kualitas air dan udara lingkungan sekitar.
Suara.com - Di tengah kabar tentang banjir, longsor, dan udara yang kian tak ramah, Rosita Istiawan memilih satu hal sederhana: menanam.
Bukan dengan ambisi besar sejak awal. Bukan pula dengan lahan luas yang langsung terbentang. Semuanya dimulai dari 2.000 meter persegi—ruang kecil yang ia rawat perlahan, hingga hari ini tumbuh menjadi lebih dari 30 hektare Hutan Organik di kawasan Mega Mendung, Bogor.
“Dari 2.000 meter sampai 30 hektare itu tidak sekaligus, mencicil,” ujarnya.
“Alhamdulillah, sampai sekarang pohon endemik Indonesia terkumpul di sana. Meranti seluruh Indonesia, dan 44.000 pohon yang sudah kita tanam," katanya saat ditemui di Halim, Jakarta Timur.
Tanam, Rawat, Jangan Tanam Tinggal
Bagi Rosita, menanam pohon bukan kegiatan seremonial. Ia sering mengingatkan satu pesan sederhana namun tegas: tanam rawat, jangan tanam tinggal.
“Di Indonesia ini, penghijauan apapun, kebanyakan tanam tinggal. Ayo kita sama-sama, kalau tanaman, kita tanam rawat. Itu pasti berhasil,” katanya.
Ia percaya, perubahan lingkungan tidak cukup hanya dengan niat baik atau unggahan di media sosial. Butuh komitmen. Butuh ketelatenan. Butuh kesediaan untuk kembali melihat, menyiram, merawat, dan menjaga.
Hutan organik yang ia bangun kini melibatkan 20 kelompok tani dengan anggota 20–30 orang di setiap kelompoknya, sebagian besar perempuan. Dari tangan-tangan perempuan inilah gerakan itu membesar—mengalir ke keluarga, lalu ke komunitas.
Baca Juga: Ketika Mimpi Tak Punya Batas: Kisah Inspiratif dari Para Siswa dan Alumni SLB N Cilacap
“Perubahan tumbuh ketika perempuan diberi ruang dan kepercayaan untuk bergerak bersama komunitasnya,” ujar Rosita.
Tantangan Terbesar: Manusia
Namun perjalanan 25 tahun menjaga hutan tidak selalu mulus. Ketika ditanya apa “hama” terbesar dalam membangun hutan, jawabannya mengejutkan.
“Kalau membuat hutan, orang bilang hamanya apa sih? Hamanya adalah manusia,” ucapnya lugas.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan serangga atau cuaca, melainkan pola pikir. “Orang itu kebanyakan tidak mau menanam, maunya menebang.”
Ada yang mendukung, ada pula yang tak setuju ketika ia memilih membangun hutan. Tapi Rosita tetap bertahan. Sebab ia melihat langsung dampaknya bagi warga sekitar—air lebih bersih, udara lebih sejuk, dan ruang hidup yang lebih layak.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi
-
5 Sabun Cuci Muka untuk Bruntusan di Dahi dan Pipi, Lengkap dengan Ulasan Pengguna
-
Prabowo-Gibran Kompak Pakai Beskap, Pimpin Kemeriahan Karnaval Kemerdekaan di Monas
-
Dari Bundaran HI, Warga Titip Harapan untuk Indonesia di HUT Ke-81 RI
-
KPK Tak Sanksi Etik Setya Budi Dias di Kasus Pemerasan Bupati Pemalang, Ini Alasannya