Suara.com - Nama Dwi Sasetyaningtyas kini menjadi sorotan di berbagai platform media sosial. Alumni penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang akrab disapa Tyas itu menjadi sorotan usai video pernyataannya tentang kewarganegaraan anaknya viral dan menuai pro-kontra.
Dalam video yang beredar di platform X (dulu Twitter), Tyas sempat berkata, "Aku tahu dunia terlihat enggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan."
Kalimat itu memicu reaksi keras dari warganet, terutama karena Tyas merupakan penerima beasiswa negara yang dananya bersumber dari uang publik.
Sejak saat itu, perhatian publik tak hanya tertuju pada pernyataannya, tapi juga pada satu pertanyaan besar: sebenarnya berapa uang saku LPDP luar negeri yang diterima penerima beasiswa LPDP seperti Tyas? Simak penjelasan berikut ini.
Rincian Uang Saku LPDP Luar Negeri
Dalam skema pendanaan LPDP, komponen biaya tidak hanya mencakup uang kuliah (tuition fee) yang dibayarkan langsung ke universitas, tetapi juga berbagai tunjangan penunjang studi.
Salah satu komponen yang paling sering dibahas adalah living allowance atau uang saku bulanan.
Berdasarkan dokumen komponen pendanaan LPDP versi November 2023, besaran living allowance berbeda-beda tergantung negara dan kota tujuan studi.
Untuk Inggris, rinciannya adalah:
- London & Oxford: 1.600 Pound Sterling per bulan
- Kota seperti Birmingham, Bristol, Cambridge, Glasgow: 1.300 Pound Sterling per bulan
- Kota lainnya: 1.250 Pound Sterling per bulan
Jika dikonversikan ke rupiah, angka 1.600 Pound Sterling setara kurang lebih Rp30–31 juta per bulan (tergantung kurs).
Baca Juga: Terpopuler: Batasan Alumni LPDP Tinggal di Luar Negeri, Mudik Gratis DKI Jakarta Dibuka
Selain itu, penerima beasiswa juga menerima:
- Settlement allowance sebesar 200% dari living allowance (dibayarkan sekali saat kedatangan).
- Tunjangan keluarga sebesar 25% dari living allowance per tanggungan (maksimal dua tanggungan).
- Tunjangan buku Rp10 juta per tahun.
- Dana riset tesis maksimal Rp50 juta (S2) dan disertasi maksimal Rp150 juta (S3).
- Asuransi kesehatan hingga Rp29 juta per tahun.
- Biaya visa, transportasi, dan registrasi sesuai kebutuhan (at cost).
Artinya, total dana yang dikelola selama masa studi bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah, tergantung jenjang dan durasi studi.
Studi Tyas di Belanda dan Inggris
Sebelum isu terbaru mencuat, Dwi Sasetyaningtyas merupakan penerima beasiswa LPDP angkatan PK-35 yang menempuh studi S2 di Delft University of Technology (TU Delft), Belanda, pada 2015–2017.
Untuk Belanda, living allowance LPDP tercatat sebesar 1.500 Euro per bulan. Dengan durasi studi dua tahun, belum termasuk tuition fee dan tunjangan lain, total dana pendidikan yang dikelola tentu bernilai signifikan.
Sementara itu suaminya, Arya Iwantoro (AP), diketahui menempuh studi S3 di Inggris dengan skema LPDP. Jika merujuk komponen Inggris, living allowance bisa mencapai 1.600 Pound Sterling per bulan, ditambah tunjangan keluarga dan fasilitas lainnya.
Isu berkembang ketika muncul kabar bahwa AP berpotensi diminta mengembalikan dana beasiswa dengan estimasi mencapai Rp2,64 miliar.
LPDP disebut akan melakukan klarifikasi terkait dugaan belum terpenuhinya kewajiban kontribusi di Indonesia pascastudi.
Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Menanggapi polemik yang meluas, Tyas akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Dia menegaskan bahwa pernyataannya lahir dari rasa lelah dan kekecewaan terhadap kondisi kebijakan bukan bentuk penolakan terhadap Indonesia.
"Jujur, kalau aku memang capek jadi WNI. Tapi sebagai penerima beasiswa uang rakyat, sudah seharusnya aku menyuarakan kepentingan rakyat," tulisnya di Instagram pribadi.
Tyas juga menekankan bahwa dirinya tetap berstatus WNI dan membayar pajak di Indonesia. Dia mengaku telah menetap di Indonesia selama enam tahun setelah lulus untuk menjalankan kewajiban kontribusi.
Rekam Jejak dan Aktivitas Sosial
Secara akademik, Tyas adalah lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung sebelum melanjutkan studi energi berkelanjutan di Belanda.
Selama di Indonesia, dia mengklaim aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan, mulai dari pengembangan energi surya gratis di Pulau Sumba, pengelolaan sampah plastik melalui platform Kawan Kompos, hingga inisiatif penanaman 10 ribu pohon bakau.
Menurut pengakuan Tyas, keberangkatannya ke Inggris bukan untuk studi LPDP melainkan mendampingi suami yang bekerja sebagai konsultan peneliti senior di University of Plymouth.
Anak keduanya lahir di Inggris dan memiliki hak dua kewarganegaraan sesuai hukum yang berlaku.
Kontributor : Trias Rohmadoni
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
4 Sepatu yang Nyaman Dipakai Jalan 20.000 Langkah per Hari, Gak Bikin Kaki Cepat Pegal
-
Daftar Promo Lengkap BRI Agustus-Desember 2026, Diskon Hingga Cashback Jutaan!
-
Huawei MatePad Mini Resmi di Indonesia,Tablet 8,8 Inci yang Nyaman Digenggam dan Memanjakan Mata
-
5 Penyebab Sunscreen Menggumpal seperti Daki saat Ditimpa Makeup
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Merah Tembus Rp70.450, Naik 12,45 Persen
-
Luntang-Lantung Si Gadis Taat: Saat Iman Diuji Realitas Sosial
-
Saldo Simpeda Tembus Rp75 Triliun, BPD Siap Genjot Ekonomi Daerah Demi Target 6 Persen
-
Saat Stroke Menyerang, Kecepatan Diagnosis Jadi Kunci: MRI 3 Tesla Bantu Ungkap Kondisi Otak
-
Bibir Kering Cocoknya Pakai Lipstik Apa? Ini 3 Pilihan Murah Favorit Pengguna
-
Hanura Incar Suara Gen Z, Janjikan Solusi Pendidikan yang Nyambung ke Dunia Kerja