Lifestyle / Komunitas
Rabu, 04 Maret 2026 | 12:27 WIB
Bendera Turki (Freepik/www.slon.pics)

Suara.com - Pemimpin politik Israel semakin mengalihkan perhatian mereka ke kekuatan regional lainnya yakni Turki, yang menandakan kemungkinan pencarian saingan strategis baru bahkan pada saat ketegangan dengan Teheran masih tinggi.

Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, yang secara luas diperkirakan akan maju dalam pemilihan tahun ini, pekan lalu secara terbuka menyebut Turki sebagai ancaman bagi Israel, menuduh Ankara bersekutu dengan blok regional yang bermusuhan.

Berbicara dalam sebuah konferensi, Bennett memperingatkan bahwa Israel tidak boleh "mengabaikan" Turki dan menggambarkannya sebagai bagian dari poros regional "yang mirip dengan poros Iran".

Ia juga menambahkan bahwa Israel harus bertindak secara bersamaan melawan ancaman dari Teheran dan Ankara.

Meskipun Iran telah lama menjadi musuh utama Israel, Turki telah muncul sebagai sasaran kritik yang sering dilontarkan karena Ankara mengecam keras tindakan Israel terhadap Palestina dan perang genosida di Gaza, sementara juga memperkuat hubungan dengan kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Mesir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperkuat narasi ini pada hari Minggu, mengumumkan rencana untuk membangun "segi enam" aliansi baru yang bertujuan untuk melawan apa yang ia sebut sebagai "poros Sunni yang sedang muncul".

Saat mengkonfirmasi kunjungan mendatang Perdana Menteri India Narendra Modi, Netanyahu mengatakan blok yang diusulkan akan mencakup negara-negara seperti Yunani dan pemerintahan Siprus Yunani, yang keduanya memiliki hubungan yang tegang dengan Turki.

Hubungan Israel-Turki

Hubungan Israel-Turki sangat berbeda dari permusuhan Israel terhadap Iran. Kedua negara memiliki hubungan pragmatis selama beberapa dekade dan Turki adalah anggota NATO.

Baca Juga: 2 Kapal Tanker Pertamina Terjebak Perang Iran vs AS - Israel, Stok BBM Nasional Cuma Aman 20 Hari?

Hubungan memburuk secara signifikan setelah serangan Israel pada tahun 2010 terhadap armada yang menuju Gaza yang menewaskan 10 aktivis Turki dan semakin memburuk di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan, seorang kritikus vokal terhadap Israel.

Namun, para analis berpendapat bahwa menyamakan Ankara dengan Teheran adalah pernyataan yang berlebihan. Pinkas mencatat bahwa Turki tidak pernah menyangkal hak Israel untuk eksis atau mengancam kehancurannya, dan menyebut perbandingan antara kedua negara itu "konyol."

Ini bukan lagi sekadar pertunjukan diplomatik untuk konsumsi domestik. Turki secara sistematis telah membangun infrastruktur permusuhan, menyediakan tempat perlindungan dan pendanaan bagi kepemimpinan Hamas sambil memberlakukan embargo perdagangan total yang bertujuan untuk mencekik ekonomi Israel. 

Tanggapan Israel pun sama blak-blakannya. Tokoh-tokoh seperti Itamar Ben-Gvir telah lama mengkategorikan kepemimpinan Turki sebagai "musuh", bahkan menurut mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, sebagai "ancaman eksistensial". 

Adapun para perencana strategis IDF, mereka sekarang memandang Turki bukan sebagai aset NATO, tetapi sebagai sumber gejolak regional yang mencerminkan model perang proksi Iran.

Karena Turki baru-baru ini bertindak sebagai perisai diplomatik dan logistik bagi para Mullah, keadaan hanya semakin memburuk. 

Load More