Suara.com - Dalam beberapa tahun tertentu, perayaan Hari Raya Idulfitri umat Islam dapat berdekatan atau bahkan berbarengan dengan Hari Raya Nyepi umat Hindu. Kondisi ini pernah terjadi sebelumnya dan berpotensi kembali terjadi di masa depan, termasuk kemungkinan pada tahun 2026 ketika kalender keagamaan dua agama besar di Indonesia memiliki tanggal yang sangat berdekatan.
Bagi masyarakat yang tinggal di Bali, situasi ini memerlukan penyesuaian khusus, terutama bagi umat Islam yang biasanya menggelar takbiran pada malam menjelang Idulfitri. Takbiran yang identik dengan lantunan takbir, kegiatan di masjid, hingga pawai keliling tentu perlu disesuaikan dengan aturan Nyepi yang menekankan suasana hening dan tanpa aktivitas di luar rumah.
Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan panduan pelaksanaan malam takbiran yang bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, khususnya di wilayah Bali.
Panduan Takbiran di Bali Jika Idulfitri Berbarengan Nyepi
Dalam panduan tersebut, umat Islam diperbolehkan melaksanakan takbiran di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki.
Pelaksanaan takbiran dilakukan tanpa penggunaan pengeras suara, tidak menyalakan petasan atau mercon maupun bunyi-bunyian lainnya, serta menggunakan penerangan secukupnya. Waktu pelaksanaan dibatasi mulai pukul 18.00 WITA hingga 21.00 WITA.
Selanjutnya, pengamanan dan ketertiban selama kegiatan takbiran menjadi tanggung jawab masing-masing pengurus masjid atau mushola. Meski demikian, koordinasi dengan aparat keamanan setempat tetap harus dilakukan guna menjaga kondusivitas.
Tak hanya itu, berbagai pihak juga turut dilibatkan dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Mulai dari prajuru desa adat, pengurus masjid atau mushola, pecalang, linmas, hingga aparat desa atau kelurahan diminta bekerja sama secara sinergis dengan aparat keamanan untuk memastikan pelaksanaan Nyepi dan takbiran berjalan harmonis.
Kemenag menegaskan bahwa panduan ini bersifat khusus dan hanya berlaku di Bali, terutama ketika malam takbiran bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Oleh karena itu, informasi yang menyebut aturan ini berlaku secara nasional dipastikan tidak benar.
Baca Juga: Nyepi 2026 Tahun Saka Berapa? Ini Maknanya
Panduan tersebut tertuang dalam Seruan Bersama yang ditandatangani oleh sejumlah tokoh dan pejabat, antara lain Ketua FKUB Bali Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet, Kepala Kanwil Kemenag Bali I Gusti Made Sunartha, Kapolda Bali Irjen Pol Daniel Adityajaya, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, serta Gubernur Bali Wayan Koster.
Direktur Jenderal Bimas Hindu, I Nengah Duija, juga menegaskan bahwa pedoman ini memang ditujukan khusus untuk wilayah Bali. Namun, ia menilai aturan serupa dapat dijadikan referensi di daerah lain yang memiliki komunitas Hindu, terutama jika Idulfitri bertepatan dengan Nyepi.
Ia berharap masyarakat dapat memahami panduan tersebut sebagai bentuk kearifan bersama dalam menjaga kerukunan dan saling menghormati antarumat beragama.
Kemenag juga mengimbau masyarakat agar tetap menjaga suasana damai dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Belakangan ini, beredar konten di media sosial yang keliru menyebut aturan tersebut berlaku untuk seluruh daerah.
“Kami mengajak umat beragama untuk tidak mudah terprovokasi. Indonesia memiliki tradisi panjang dalam menjaga toleransi. Penyesuaian seperti ini justru mencerminkan kedewasaan dalam beragama dan hidup berdampingan,” demikian imbauan Kemenag.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni
Berita Terkait
-
Nyepi 2026 Tahun Saka Berapa? Ini Maknanya
-
Jelang Nyepi, Bandara Ngurah Rai Dipadati Puluhan Ribu Penumpang
-
Lafal Takbiran Idulfitri Arab, Latin, dan Artinya Lengkap dengan Link Audio Nonstop!
-
Bolehkah Makan Sebelum Sholat Ied Idulfitri? Ini Waktu Terbaik dan Jenis Makanan yang Dianjurkan
-
Bolehkah Berhubungan Suami Istri di Malam Takbiran Idulfitri? Ini Hukumnya dalam Islam
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
5 Cushion Water Based yang Wudhu Friendly, Ringan di Kulit dan Nyaman Dipakai Seharian
-
Setelah Peeling Wajah Tidak Boleh Pakai Apa? Ini Kandungan Skincare yang Harus Dihindari
-
Viva Covering Cream Dipakai Setelah Apa? Ini Urutan Pakai agar Makeup Tahan Lama
-
Sebelum Reapply Sunscreen, Perlukah Cuci Muka Pakai Sabun? Simak Penjelasan Dokter
-
Hotel Sultan Jakarta Milik Siapa? Kisruh saat Dieksekusi
-
Dukung Event Internasional, Aryaduta Menteng Kembali Jadi Official Hotel Partner BTN Jakim 2026
-
Berapa Lama Flek Hitam Hilang dengan Viva Whitening Cream? Ini Klaimnya
-
Kapan Puasa Tasua dan Asyura 2026? Catat Jadwalnya, Lengkap dengan Niatnya
-
Produk Viva Apa yang Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Ini 4 Pilihan Sesuai Klaim
-
Mengapa Kampanye Pilah Sampah Sering Gagal? Pelajaran dari Model Tiga Pilar Get Plastic