- Survei KFEM menunjukkan preferensi konsumen Korea Selatan bergeser dari plastik menuju aluminium karena kesadaran dampak lingkungan kemasan.
- Aluminium unggul dalam daur ulang *closed-loop* (75% daur ulang tahun 2023), meski pemahaman teknis konsumen tentang penghematan energi masih rendah.
- Perubahan perilaku konsumen didukung kuat oleh kebijakan publik seperti mesin pengembalian kemasan, namun terhambat oleh masalah infrastruktur pemilahan sampah.
Suara.com - Kesadaran terhadap dampak lingkungan dari kemasan sekali pakai mulai mengubah perilaku konsumen di Korea Selatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak masyarakat yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan saat memilih produk, terutama dalam sektor minuman.
Survei terbaru yang dilakukan oleh Korea Federation for Environmental Movements (KFEM) terhadap 1.011 responden dewasa menunjukkan adanya pergeseran preferensi dari plastik ke material yang dianggap lebih mudah didaur ulang, seperti aluminium.
Hasilnya, preferensi terhadap kaleng aluminium meningkat signifikan dari 23,9 persen pada 2025 menjadi 34,7 persen pada 2026.
Meski demikian, botol plastik masih menjadi pilihan utama dengan angka 43,4 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan sedang terjadi, namun belum sepenuhnya menggeser dominasi plastik di pasar.
Secara global, aluminium memang dikenal sebagai salah satu material kemasan dengan tingkat daur ulang tertinggi.
Pada 2023, tingkat daur ulang aluminium mencapai sekitar 75 persen—jauh melampaui plastik dan kaca. Selain itu, aluminium memiliki keunggulan dalam sistem closed-loop recycling, yakni kemampuan untuk didaur ulang kembali menjadi produk yang sama tanpa kehilangan kualitas.
Kesadaran terhadap konsep ini juga cukup tinggi di kalangan responden. Sebanyak 81,9 persen menyatakan bahwa daur ulang seharusnya tidak berhenti pada pengumpulan, tetapi juga memastikan material kembali menjadi produk yang sama. Bahkan, 77,2 persen menganggap sistem tersebut penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim.
Namun, pemahaman teknis masyarakat masih terbatas. Hanya 36,9 persen responden yang mengetahui bahwa mendaur ulang aluminium dapat menghemat hingga 95 persen energi dibandingkan produksi baru. Sementara itu, hanya 54 persen yang memahami bahwa kaleng aluminium bisa didaur ulang kembali menjadi kaleng baru.
Baca Juga: 5 Cara Ampuh Menghilangkan Bau Amis di Wadah Plastik, Dijamin Bersih!
Sekretaris Jenderal KFEM, Lee Dong-i, menilai bahwa informasi yang tepat dapat memainkan peran penting dalam mendorong perubahan perilaku.
“Hasil ini menunjukkan bahwa penyediaan informasi yang akurat tentang manfaat lingkungan aluminium dapat memengaruhi pilihan konsumen dan partisipasi dalam daur ulang,” ujarnya.
Di sisi lain, meski kesadaran dan niat masyarakat tergolong tinggi—dengan 75,5 persen responden menyatakan akan memilih kemasan yang dapat didaur ulang—masih terdapat sejumlah hambatan struktural.
Beberapa di antaranya adalah keterbatasan ruang untuk memilah sampah (22,3 persen), kebingungan dalam metode pemisahan (14 persen), serta keraguan apakah sampah benar-benar didaur ulang (8,5 persen).
Dukungan terhadap kebijakan publik juga cukup kuat. Hampir 80 persen responden mendukung pemasangan mesin pengembalian kemasan di supermarket atau pusat komunitas, lengkap dengan insentif seperti uang tunai atau poin hadiah.
Selain itu, sekitar 73 persen mendukung kewajiban pelabelan kandungan material daur ulang pada produk.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku konsumen sudah mulai bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan. Namun, tanpa dukungan kebijakan dan infrastruktur yang memadai, potensi perubahan tersebut bisa terhambat.
KFEM menilai bahwa langkah ke depan harus mencakup penguatan sistem pengumpulan, penerapan skema deposit-return, serta penetapan target daur ulang berbasis closed-loop. Dengan demikian, peningkatan kesadaran publik dapat benar-benar diterjemahkan menjadi dampak nyata bagi lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
5 Warna Cat Kamar Terbaik Menurut Psikologi, Bikin Pikiran Lebih Tenang
-
Lomba Pidato Bung Karno 2026 Resmi Digelar, Total Hadiah Capai Rp16 Juta
-
Belajar Hidup Sehat dari Ery Makmur: Mengubah 'Kecemasan' Menjadi Aksi Nyata Bersama Keluarga
-
3 Bedak Padat Translucent yang Bikin Makeup Flawless, Lengkap Review Pengguna
-
Apakah Ada Parfum Bau Pandan? Ini 3 Rekomendasi Lokal Lengkap dengan Ulasan Pembeli
-
7 Cara Merawat AC Rumah agar Tetap Dingin dan Sejuk, Cegah Kerusakan Sejak Dini
-
Apakah Sepatu Onitsuka Tiger Terbuat dari Kulit Babi? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Lampu Gantung yang Bagus Menurut Feng Shui, Ini 5 Ciri-Ciri yang Perlu Diperhatikan
-
Bisakah Plastik Dibuat Lebih Mudah Terurai? Penelitian Baru Tawarkan Pendekatan Lewat Upcycling
-
Berapa Harga Pompa Air Sanyo? Ini 3 Pilihan yang Awet untuk Sumur Dangkal Menurut Review