Suara.com - Langit di selatan Wonogiri sering terasa lebih keras. Tanahnya berbatu, retak saat kemarau, dan air menjadi sesuatu yang tak pernah benar-benar pasti. Di lanskap seperti ini, hidup bukan sekadar rutinitas, ia adalah perjuangan yang diulang setiap hari.
Di tengah kondisi itu, Dyan Sunu Prakosa justru melihat sesuatu yang lain, iman yang tumbuh diam-diam, menempel pada tanah cadas, dan hidup dari relasi manusia dengan alam.
Iman di Atas Tanah Cadas
Pagi itu, jemaat berkumpul bukan di bangku gereja. Mereka berdiri di ruang terbuka, di atas tanah, di bawah langit, dengan angin yang bergerak bebas dan matahari yang menyentuh kulit tanpa perantara.
Bagi Dyan, justru di situlah perjumpaan paling jujur terjadi.
Ia menyadari, kehidupan jemaatnya, yang setiap hari bergulat dengan tanah kering dan sumber air terbatas, bukan sekadar soal bertahan hidup. Ada relasi yang lebih dalam, yakni ketergantungan pada alam yang perlahan membentuk kedekatan dengan Sang Pencipta.
“Saya bersyukur bahwa kita hidup di areal pedesaan, di mana relasi dengan alam itu bagian yang sangat penting dan menjadi penopang kehidupan utama. Ya, memang alam di Wonogiri bagian Selatan itu tidak sesubur atau tidak sebagus di tempat lain, tapi sikap masyarakat menyadarkan kami bahwa mereka sangat bergantung pada alam,” ujar Dyan.
Dari kesadaran itu, lahir gagasan ibadah alam. Sebuah upaya untuk menjembatani iman dengan realitas harian jemaat—agar penghargaan terhadap alam tidak berhenti sebagai kebiasaan, tetapi menjadi pengalaman spiritual.
Ia sering kembali pada kisah-kisah lama. Tentang Abraham, Ishak, hingga Yakub, tokoh-tokoh yang justru berjumpa dengan Tuhan bukan di bangunan megah, melainkan di ruang keseharian.
Baca Juga: Suara dari Sungai Ciliwung: Ketika Warga Menggantikan Peran Negara
“Alkitab mencatat soal kehidupan. Kita bisa melihat bagaimana Tuhan berkarya, menampilkan diri, dan menunjukkan kuasa-Nya melalui situasi-situasi di sekitar manusia. Oleh karena itu, alam menjadi bagian yang penting,” jelasnya.
Di tangan Dyan, alam bukan sekadar latar. Ia adalah altar yang terus bergerak.
Altar yang Terus Bergerak
Sejak 2018, Dyan Sunu Prakosa konsisten membawa jemaat keluar dari ruang ibadah konvensional. Ia mengajak mereka belajar langsung dari alam, dari panas yang menyengat, tanah yang keras, hingga gemericik air yang semakin langka di wilayah selatan Wonogiri.
Bagi Dyan, pengalaman inderawi itu bukan sekadar pelengkap, melainkan cara paling jujur untuk memahami iman. Karena itu, ia berani meninggalkan kenyamanan bangku gereja demi menghadirkan pengalaman spiritual yang lebih dekat dengan realitas hidup jemaat.
Setiap tahun, ibadah alam disusun dalam siklus tema yang berulang: tanah, air, api, dan angin. Hingga 2026, tema tanah dan air telah diangkat dua kali. Namun, pengulangan itu tidak berarti menghadirkan pengalaman yang sama.
“Hampir semua ibadah alam itu punya kekhasannya, karena tidak akan berulang di tempat yang sama, tidak akan berulang dengan tema yang sama, tidak akan berulang dengan metode yang sama,” ujar Dyan.
Menurutnya, setiap pelaksanaan selalu disesuaikan dengan konteks dan isu yang berkembang di tengah jemaat. Hal ini membuat ibadah alam terus relevan dan mengalami pembaruan dari tahun ke tahun.
Ia menjelaskan, pada 2018 hingga 2019, pendekatan yang digunakan masih sederhana, yakni “rakyat dengan cara rakyat”.
Namun, pendekatan tersebut berkembang. Pada 2024, unsur literasi mulai dihadirkan dalam pelaksanaan ibadah.
Jemaat tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai subjek yang menyuarakan pesan. Mereka membawa poster dan menyampaikan gagasan, bahkan kerap menyebut praktik tersebut menyerupai aksi demonstrasi.
Bagi Dyan, perubahan ini menunjukkan meningkatnya kapasitas jemaat dan tim yang terlibat. Setiap pelaksanaan ibadah alam pun menjadi ruang yang unik, terbuka, dan penuh makna.
Ibadah alam di Gereja Kristen Jawa Baturetno dilaksanakan setahun sekali, setiap Oktober. Bulan ini dipilih karena bertepatan dengan tiga momentum penting dalam kehidupan gereja: pembukaan bulan keluarga, perjamuan kudus sedunia, dan peringatan pekabaran Injil di Indonesia.
Relasi dengan alam
Meski demikian, bagi Dyan, ibadah tidak berhenti pada pelaksanaan tahunan tersebut.
Ia berharap, nilai-nilai yang dibangun melalui ibadah alam dapat terus hidup dalam keseharian jemaat, terutama dalam relasi mereka dengan lingkungan.
“Ketika dilakukan ibadah alam, kesadaran itu diharapkan dapat memenuhi pikiran jemaat, sehingga lalu mereka akan lebih memilih untuk merawat pohonan, menanam, merawat mata air, dan sebagainya. Ini membuat kehidupan mereka menjadi tempat yang nyaman, bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk generasi mendatang,” tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
7 Cara Melakukan Double Cleansing yang Benar untuk Kulit Sehat Bercahaya
-
Fenomena 'Lebih Galak yang Ngutang': Saat Niat Baik Berujung Sakit Hati
-
Bawa Bantuan Miliaran Rupiah ke Korban Gempa NTT, Dedi Mulyadi: Ditengok Saja Sudah Bahagia
-
Jejak Trauma Daycare Little Aresha: Membongkar Kekerasan yang Sistematis
-
Gubernur Khofifah Terima Penghargaan Jasa Bakti Koperasi Nayaka Mahambara dari Menteri Koperasi
-
Flores Kembali Diguncang Gempa M 5,1, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
-
Jaga Marwah Organisasi, Para Ulama Haramkan Serangan Fajar di Muktamar NU Ke-35
-
Mengenal BEM: Mengapa Kampus Punya Pemerintahan Sendiri?
-
Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards
-
Mengakhiri Ego Sektoral: Megaproyek Waterfront City 27 KM Ubah Wajah Pesisir Jadi Mesin Ekonomi